SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
Never give up.


__ADS_3

Kevin, yang sudah mulai merasa pusing karna kebanyakan minum Alkohol menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur, sembari menyebut nama Nabila.


"Nabila, sayangku." hingga ia terlelap dalam mimpi.


****


Nabila, yang tidak bisa tidur karena bawaan bayi dalam kandungannya. terus bolak balikkan tubuhnya diatas tempat tidur. Nabila, mengambil ponselnya lalu, mulai menggeser layar ponselnya.


Seketika, air matanya jatuh saat melihat status wastapp milik Reno yang dengan mudahnya mengupdate dirinya sedang bermesraan dengan wanita lain di club.


Tangan, Nabila bergemetaran." tega kamu Ren. dengan mudahnya kamu melupakam semuanya.kamu, dengan tidak bersalah meminta saya untuk menggugurkan kandunganku demi wanita lain. tidak! ini tidak bisa dibiarkan.aku, harus bertahan." batin Nabila. Butiran kristal itu terus menetes membasahi pipi mulusnya.


Nabila, segera bangun dari tempat tidur dibukanya lemari miliknya, Nabila mengeluarkan beberapa berkas penting milik dirinya. Nabila, menatap berkas berkas itu lalu menelpon seorang temannya.


Selesai, menelpon dan mengirimkan berkas pribadinya melalui via Wastapp. Nabila, mengambil koper miliknya lalu mulai menyimpan semua baju bajunya.


"Beres! never give up Nabil( kata orang jatuh bangkit lagi.)" batin Nabila lagi.


Kemudian, matanya menatap ke arah jam dinding yang terpasang didinding kamarnya."pukul lima sore, aku mandi dulu, setelah itu aku akan ke Apartemen Fani." gumam Nabila.


Gadis, yang selalu dianggap lemah oleh Reno itu.kini berubah jadi tegar dan kuat, tanganya menyeka kasar air matanya. Nabila, berdiri didepan kaca riasnya matanya menatap tubuhnya yang mulai berubah, tangannya mengelus pelan perutnya.


"Sayang, bunda akan berusaha menjauhkan kamu dari orang orang jahat, termasuk ayah biologismu. kita, akan pergi sejauh mungkin agar tidak dijangkau oleh siapapun." batin Nabila.


Lalu, melangkah dengan berhati hati masuk ke dalam kamar mandi, Nabila mulai membersihkan tubuhnya.


******


Glen, yang sudah selesai merokok berjalan masuk kedalam Apartemen.

__ADS_1


"Siapa, yang tadi didepan, Ai?" tanya Fani.


"Oh.., Kevin baru saja pulang dari Mansion." jawab Glen. Sembari berjalan mendekati sang istri yang sedang berkutat dengan alat dapur.


"Hmmm..,dari aromanya enak bangat." puji Glen sembari melingkarkan tangannya dipinggang Fani.


Fani, yang sibuk memasak untuk malam makan bersama, hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


" Jangan, lupa undang semua teman teman kita." sambung Fani.


"Hmmm..," Glen hanya berdehem sembari menempelkan kepalanya dibelakang Fani.


" Ai, bantuin aku. tolong bawang bombainya diiris, ya!" perintah Fani.


Fani, pikir daripada Glen cuma jadi pengganggu dirinya masak, sekalian aja dikerjain.


"Mafia, disuruh iris bombay. suruh iris daging manusia lebih baik, titel mafiaku enggak turun." Canda Glen. tangannya meraih bombay itu kemudian diirisnya dengan begitu rapi.


Glen, hanya tersenyum"Sekarang, Alfonso ada teman yang bucin dengan istri." batin Glen, yang baru sadar titel mafianya tidak berarti dimata sang istri.


****


Dimansion, semua tertawa, dengan kegelisahan Felisia, yang kwatirnya sangat berlebihan dengan Leticia.


"Sayang! mommy sama daddy pulang dulu. kalau rasa mulai mules segera telpon mommy. dan satu lagi mommy titip jagain adekmu.'' ucap Felisia, sembari menautkan pipinya dengan pipi Leticia.


''Iya, mommy. Cia, paham.'' jawab Leticia.tangannya terus mencubit pipi gembul willy.


''Nak, Al! mommy titip Cia ya Nak. pokoknya ini selalu siaga.waktunya, sudah semakin dekat, Nak." pamit Felisia. Alfonso, hanya tersenyum mendengar pesan dari ibu mertuanya.

__ADS_1


Karla, hanya menggelengkan kepalanya.'' udah, lah mom kalau kwatir, enggak usah pulang dulu.'' sambung Karla. kemudian mendapat tatapan tajam dari Felisia.


Selesai, berpamitan Mason, Felisia dan Willy. segera masuk ke dalam mobil dan pulang ke Mansoin milik Mason.


Alfonso, segera menggandeng Leticia dan berjalan masuk ke dalam Mansion.disusul, Karla dan suami dari belakang.


Karna, bulan lahiran yang semakin dekat hari ini Alfonso, minta orang kepercayaannya. untuk, mendekor ulang empat kamar yang bersebelahan dengan kamarnya.


Tetapi, kamar bayi tetap dikamar Alfonso, karna Alfonso sejak dari Leticia hamil tidak ingin tidur berpisah dari anak anaknya.


''Pak, ruangannya warna natural saja karna saya sendiri belum tahu jenis kelamin anak anak saya.'' ucap Alfonso pada orang yang mendekor kamar anak anaknya.


''Baik, pak.'' jawab bapak itu.


Leticia, yang sudah merasa perutnya semakin berat hanya menunggu didalam kamar. sembari mengelus perutnya.


*****


Dokter Gracepun tiba di Mansion, untuk melakukan pemeriksaan pada Karla.


"Siang, buk." sapa dokter Grace.


"Siang juga, dok."jawab Karla.sembari menggandeng tangan Steward.


Steward, Karla dan dokter Grace berjalan ke arah ruang pemeriksaan.


Karla, berbaring diatas tempat tidur. Dokter, mulai melakukan observasi, tensi darah, kemudian menempelkan tetoskop diperut Karla.


Selesai, melakukan observasi. Dokter Grace, mulai mengambilkan gel.lalu, mengolesnya diperut Karla.

__ADS_1


Steward, yang sangat antusias matanya fokus melihat step by step pemeriksaan pada sang istri.


__ADS_2