
Selamat malam, apakabar semuanya semoga semua dalam keadaan sehat semuanya. sekarang saya datang bawa kisah sehari-hari mampir ya kak, jangan lupa like komen dan favnya ya🙏.
Terima kasih peluk sayang.
Aku menarik napas lega setelah siang tadi kami akhirnya bisa mengucapkan janji suci digereja. Aku dan Reno, berjanji setia sehidup-semati selalu bersama. Janji dan sumpah yang diyakini agama kami. Jika sudah berjanji maka kita harus setia sampai mati bersama pasangan yang sudah kita pilih, tidak peduli dimasa depan nanti terjadi konflik ringan atau berat,kita harus terus bersama hanya kematian yang bisa memisahkan kita.
"Hmmm..." Aku menghela napas.
"Bang...Akhirnya setelah delapan tahun kita pacaran.Lima tahun kamu ditolak Ayahku, namun atas perjuangan abang yang tidak pernah menyerah untuk mendapatkan restu, hari ini berbuah manis. Kita sudah sah sebagai suami-istri." Aku memeluk suamiku dari belakang. Ku tempelkan kepalaku dibelakang lebarnya.
"Iya sayang. Perjuanganku tidak sia-sia. Sesuai rencana kita setelah sebulan kita disini, kita segera berangkat merantau mengadu nasib dan aku ingin membuktikan janjiku kepada Ayahmu." Reno menarik lembut tubuhku agar berhadapan dengan dia. Dikecupnya keningku dengan penuh cinta.
"Terima kasih, Sayang. Kamu telah setia menunggu aku. Yuk kita tidur, bukannya moment ini yang kita tunggu-tunggu selama delapan tahun ini?" Reno berkedip na*kal.
Wajahku uda merah seperti tomat segar. Jujur selama pacaran kita tidak pernah seperti pasangan lain, dimana melakukan hal-hal aneh yang melanggar agama. Aku dan Reno sudah berjanji kita akan membongkar semuanya. Kita akan melakukan semua dimalam pertama kami. Reno menarik tanganku dengan lembut. Aku mengikuti kemana dia membawaku.
Hatiku sudah berdebar tak menentu. Karena, menurut buku yang kubaca melakukan hubungan pertama kali sangat lah sakit. Aku duduk di tepi ranjang pengantin yang sudah dihiasi dengan mawar dan dikasih dua simbol kesetiaan dua angsa yang dibentuk dengan kain. Kedua angsa itu saling berhadapan seperti orang yang ingin bercium*an.
Tanganku sudah dingin semua. Kakiku yang menggantung ditepi ranjang terus kugerakkan untuk menetralkan emosiku.
Reno, suamiku. Sudah melepas semua pakaiannya. Aku menunduk tidak ingin melihat entah apa bentuknya aku tidak ingin melihat. Masih kuingat waktu awal kami pacaran. Kami berdua berbicara dikantin, biasa orang pacaran pasti bahas malam pertama, punya anak dan bagaimana mencukupi keluarga.
Aku dengan bodohnya bilang, " Pokoknya kalau kita menikah nanti, setelah malam pertama aku nggak mau bangun lebih dulu. Aku maunya saat aku bangun kamu sudah berangkat kerja, karena aku malu lihat wajah kamu."
Reno tertawa.
__ADS_1
"Hahaha....mana bisa Rani? Yang ada wanita itu yang harus bangun lebih dulu, menyediakan kopi, sarapan, pakaian suami untuk berangkat kerja," jawab Reno.
Aku menatap dia penuh kesal.
"Aku malu!" jawabku polos.
****
Reno yang sudah melepas semua pakaiannya dia datang duduk bersamaku ditepi ranjang hanya dengan boxer coklat saja. Aku gemetaran apalagi saat dia melingkarkan tangan dileherku jantungku rasanya mau copot. Aku membayangkan film blue dua hari lalu aku dan Reno nonton. Kata Reno biar aku tidak kaget saat malam pertama kami nanti. Tapi, justru sekarang pikiranku melayang-layang membayangkan bagaimana si laki mencu*mbu dan melepas perawan wanita itu lalu keluar da*rah.
"Kamu sudah siap?" Reno memang selalu sabar. Dia mengelus rambutku dengan lembut sembari menunduk menatap aku yang sudah ketakutan lebih dulu.
"Aku takut seperti yang kita nonton itu," lirihku tetap menunduk.
"Aku janji. aku akan pelan-pelan aja. Kita nggak langsung saling tu*suk malam ini kita hanya begituan dulu." Reno menunjukkan tangannya seperti bebek ingin saling beradu mulut.
"Terus gimana kalau pagi orang tua kita minta bukti?" Ya orang tua kami masih kuno. Biasanya malam pertama,paginya ada orang utusan masuk ke kamar pengantin untuk melihat bukti. Apakah mempelai wanita benar sesuai waktu dilamar(perawan) atau tidak lagi.Jika tidak maka mahar itu akan ditawar lagi jika sesuai maka mahar yang tawrkan mempelai wanita, pihak pria tidak berhak untuk menawar mereka harus terima berapapun mahal mahar itu.
Reno tersenyum, memeluk aku. Dia membawa tubuh kecilku ke dalam dadanya.
"Nanti aku yang bilang.Kamu belum siap,hm?" Dia mengecup lembut ujung kepalaku.
Aku merasa lega. Setidaknya malam ini tubuhku masih aman. Renopun mulai membantuku melepas sanggulan rambutku yang penuh jepit-jepit hitam kecil. Kemudian melepas perhiasan dan lalu membantu melepas gaun putih panjang di tubuhku.
"Pelan-pelan," ucapku.Karena, aku takut dia tidak sabaran lalu resleting gaun pengantin yang kami sewa rusak, bisa menambah ongkos bayar lagi.
"Iya aku pasti pelan-pelan. Melepas gaun aja aku pelan apalagi melepas---" Reno menelan salivanya dengan kasar.
__ADS_1
Tenggorokan nya tiba-tiba terasa kering.
"Apaan sih kamu ini? Bukannya sudah janji tidak akan buru-buru?" Aku melepas gaun putih itu lalu kuletakkan diatas sofa kamar kami. Aku membersihkan sisa-sisa make up yang menempel di wajahku. Aku memang bukan wanita yang suka berdandan jadi jika dimake-up seperti ini wajahku kaku seperti diolesi semen.
Selesai membersihkan tubuhku. Aku menggunakan piyama tidurku seperti malam-malam dimana aku belum menikah.Piyama panjang.
Reno mengernyit.
"Sayang...kenapa pake piyama? Lihat aku hanya pakai boxer. kami pake lingerie yang kemarin dibeli."
Aku melotot, " Hah? Bukannya kamu bilang kita tidak akan melakukan sekarang? Kenapa suruh ganti lingerie?" Jantungku sudah semkin tidak karuan.
Semoga aja tidak stop jantung lalu aku dirawat dirumah sakit. Entar malah beda lagi gosip diluar sana. Aku pingsan karena malam pertama. Betulkan? Kebiasaan mulut kita Indonesia itu suka beda-beda. Kejadian sebenarnya seprti apa nanti ketika sudah sampai di pihak ke dua-ketiga dan seterusnya udah berubah-ubah dan sampai pihak terakhir berubah 100% tidak seperti yang terjadi sebenarnya.
Reno berdiri dia ingin mengeluarkan lingerie dari dalam lemari. Dia mulai membuka lemari dan mencari lingerie itu. Namun, tidak menemukan karena aku sengaja menyelipkan ditengah-tengah baju yang dia tidak tau.
"Kamu simpan dibagian mana, sayang?" tanya Reno.
Karena tidak ingin Reno salah paham. Aku pun berjalan ke lemari dengan berat hati aku mengambil lingerie itu lalu aku mulai mengganti piyama tadi dengan lingerie itu yang kemarin di beli Reno.
Tipis dan seluruh lekukan tubuhku terekspos dengan jelas. Aku menutupi payudaraku dengan tangan kiri sedang tangan ku kututupi bagian inti bawah ku.
"Percuma saja pake ini seperti orang tidak berpakaian," gerutuku berjalan ke arah ranjang
Reno tersenyum.
"Nah gini dong." Dia menatapku seakan ingin menelanku.
__ADS_1
Aku malu setengah mati. Aku langsung naik diatas tempat tidur dan menutupi tubuhku dengan selimut. Reno yang melihat ku udah berbaring di ranjang diapun langsung ikut berbaring, entah dari mana tiba-tiba tangan Reno sudah memeluk pinggangku.