
''Sudah, untuk dokter Lee juga sudah selesai dikirim.'' jelas Gerath. sembari menyebulkan asap rokoknya, keatas langit langit rungan.
Kebiasaan ini, sudah menjadi rutinitas Red Devil. setelah habis membunuh mereka ngerokok sembari minum bersama.
''Ya, sudah kalau gitu aku pulang duluan. tadi, sudah janji dengan CIA bahwa pukul 12 siang aku uda tiba kembali di Mansion." ucap Alfonso lagi.
''Siap, aku dan andre nanti langsung ke Apertemen kami saja.'' sambung Gareth dan diangguki Andre.
''Iya.'' jawab Alfonso.
''Daddy, ayo kita pulang. saya, sudah telat tadi saya janji dengan Leticia bahwa saya akan tiba di Mansion pukul 12 siang.'' jelas Alfonso.sembari menatap pada Mason.
''Ayo, nak.'' jawab Mason sembari berdiri dari sofa.
''Ward, kamu belum pulang? karla nanti jam satu periksa. enggak pengen lihat anakmu.'' tanya Alfonso, sembari menatap Steward yang masih duduk. sembari, menikmati winenya.
Steward, yang baru menyadari kalau hari ini Karla akan melakukan Usg pertama kali. dengan cepat meletakkan lagi cangkir winenya diatas meja.lalu, segera berdiri dari duduknya.
''Ayo, berangkat!" ucap Steward. sembari berjalan keluar dari markas diikuti Mason.
Gareth, dan Andre, masih di markas, mengurus semua pengiriman organ ke Korea.
''Reth, nanti adakan rapat dengan semua anak buah perintahkan mereka untuk perketat Markas. dan, jangan lupa bagikan bonus.''perintah. Alfonso, sebelum melangkah keluar dari markas. karena, Alfonso setiap kali melakukan pembunuhan selalu membagi bonus untuk anak buahnya.
''Siap. beres!" jawab Gareth sembari memberi hormat pada Alfonso.
Alfonso, hanya menggelengkan kepalanya. ketika, melihat tingkah konyol Gareth.sembari, melangkah keluar dari markas mengikuti mertua dan Steward yang sudah berada didalam mobil.
Ceklek..,
Pintu mobil, dibuka oleh Anak buahnya. Alfonso, masuk ke dalam mobil duduk didepan bersama Steward.
''Hati hati dijalan Tuan!'' ucap anak buah yang berdiri disamping mobil sembari membungkukkan badannya.
''Tiit.'' bunyi klakson mobil.
Steward, melambaikan tangannya dan dibalas lambaian tangan anak buah yang berdiri didepan markas.
Brem..,,
Steward, mulai menginjak pedal gas mobil dan melaju dengan kecepatan rata rata menuju Mansion.
__ADS_1
Alfonso, hanya diam. tangannya, menopang dagunya.'' semoga, Cia tidak marah.'' batin Alfonso.
Karna, akhir akhir ini mood Leticia sering berubah ubah.
'
''Al! lu, kenapa sejak tadi saya amati lu diam aja?.'' tanya Steward
''Enggak, apa apa, cuma kwatir saja kalau Cia marah. karna pulang telat.'' jawab Alfonso.
Mason dan Steward, tertawa.
''Kenapa, bisa setakut ini?" tanya Steward penasaran.
''Bukan, takut. istri saya tidak galak. hanya, lebih menepati janji dan menghargai Cia., juga waktu.'' jawab Alfonso. santai.
Karna, Alfonso tahu waktu dia dan Cia tidak banyak lagi. karena, itu waktu bersama dengan Cia sangat berharga untuk dirinya.
Mason, yang sejak tadi menyimak akhirnya bersuara.
Dan, disaat itu Sergio mulai menyukai Felisia. seketika, kenangan itu muncul lagi dipikirannya. hingga menyebabkan perpisahan mereka yang cukup lama dua puluh enam tahun lamanya.
''Hmmm..,'' Mason hanya menarik napas panjang.
Alfonso, yang sudah mengetahui semua cerita kisah hidup Mason, Felisia dan Sergio yang terlibat cinta segita diwaktu itu, hanya diam.
Steward, tertawa. ketika, mendengar cerita Mason.
''Ternyata, mommy cemburuan. ahh.., semoga Karla tidak cemburian juga.'' imbuh Steward.
''Kalau, sifatnya enggak nurun mommy.'' jawab Mason.sembari tersenyum.
''Iya, benar kata daddy.lagian, kemarin kata dokter usia kandungan delapan bulan. mood istri sering berubah ubah.'' jelas Alfonso. jarinya masih terus diketuk ketuk didagunya.
Mason, yang baru mengingat tentang Alex. [ Bella, ketua dead eye mafia Prancis.]
bertanya pada Alfonso.
''oya, nak mengenai Bella itu, kamu sudah berapa lama kerja sama dengan dia.''tanya Mason. karna, Mason juga tau dead eye sudah lama berdiri.
__ADS_1
''hmm.., sudah lama sekali awal kerja sama itu masih ditangani ayahnya. dan. saya tidak menyangka. kalau, anaknya wanita dan terlibat cinta dengan Blake.'' sambung Alfonso. yang kesal karna lama dibohongi dead eye.
''Saya, akan menghentikan kerja sama dengan mereka.'' ucap Alfonso tegas.
''Benar, sekali.'' jawanb Steward dan Mason serentak.
''Ya, sudah jangan dipikirkan lagi. sekarang, dia sudah tewas. dan, kamu Nak. harus fokus untuk anak istrimu saja. karna. kita tidak tau musuh selanjutnya.'' sambung Mason Lagi.
''Baik, Dad!" jawab Alfonso sembari menunduk.
Alfonso, dan Mason yang asyik bercerita tidak menyadari kalau mereka sudah tiba dimansion.
''Al, sudah tiba,.'' ucap Steward.
Mendengar, ucapan Steward. dengan cepat Alfonso, keluar dari mobil. disusul Mason dan Steward.
''Kakak ipar, dimana Steward?" tanya Karla. yang tidak melihat Steward dan Mason.
''Mereka, masih didepan.'' jawab Alfonso singkat. sembari, terus berjalan menuju arah kamarnya.
''Disini, sayang!" jawab Steward.
ceklek..,
Alfonso, membuka pintu kamar. lalu, melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan harapan semoga sang istri, tidak menangis.
Matanya, membulat saat melihat ke arah sofa. Leticia, sedang duduk sembari mengelus perutnya. wajahnya terlihat begitu sedih.
''Sayang!" panggil Alfonso sembari mendekati Leticia.
''Hmmm..,'' jawab Leticia sembari menatap wajah sang suami.
''Sudah, pulang?" tanya Leticia lagi, sembari menelisik bola mata sang suami.
''Iya, aku belum terlambatkan baru lewat lima belas menit. hmmm..,?" tanya Alfonso. sembari mendudukkan tubuhnya disamping Leticia, tangannya mengelus perut besar Leticia sebari mengecup perut sang istri. lalu, dikening sang istri.
Leticia, tersenyum. perasaan yang tadi campur aduk seketika hilang dari dalam hatinya.
''Anak anak daddy, tadi, mommy kalian pintar enggak?" Alfonso mengajak anak anaknya ngobrol. sembari ekor matanya melirik ke arah Leticia.
Leticia, yang melihat tingkah Alfonso. Leticia, sudah tahu kalau sang suami telah melakukan kesalahan besar.
__ADS_1