SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
Aku Bisa Apa?


__ADS_3

Satu minggu sudah Leticia dirawat di ICU. Semua terapi sudah dilakukan. Namun, hasilnya nihil untuk sembuh. Tim Dokter memutuskan untuk menghentikan pengobatan. Bahkan, Dokter Cathlyn memberi saran sebaiknya Leticia dibawa pulang ke Mansion saja.


Bicara Leticia juga semakin tidak jelas. Bahkan, saat ini Leticia juga sudah mengenakan kaca mata karena matanya yang semakin rabun.


Hati Alfonso seperti tersayat sembilu. Ketika, dokter mengatakan tidak ada jalan lagi untuk penyembuhan Leticia.


''Tidak ada Alternatif lain lagi? Jangan kwatir soal biaya.'' ujar Alfonso. suara nya bergetar.


''Semua Alternatif sudah kami lakukan, pak. Namun, sakit ibu Leticia sudah akut. Saya yakin Pak Alfonso juga sudah tau semua ini. Lihat sekarang Ibu Leticia sudah semakin sulit untuk berbicara.'' jelas Dokter Cathlyn.


''Maaf, Pak! sebaiknya dibawa pulang saja. biar ibu memiliki waktu bersama anak anak juga Pak Alfonso.'' saran dokter Cathlyn lagi.


Alfonso, menarik kasar rambutnya. ditariknya napas panjang berulang kali. Namun, sakit dihatinya semakin terasa. Percuma memiliki banyak harta, kekuasaan didaratan Eropa. Namun, menyembuhkan istrinya saja Ia tidak sanggup.


''Brengsek...'' umpat Alfonso.


Setelah menjelaskan semua pada Alfonso. Dokter Cathlyn keluar dari ruang ICU untuk memberi waktu bagi Alfonso mengambil keputusan.


''Saya permisi dulu pak. saya harap pak Alfonso bisa mengambil keputusan yang tepat.'' tegas Dokter Cathlyn lagi.


''Ahhh...'' lagi lagi Alfonso menarik napas panjang. Dengan langkah tergontai Alfonso berjalan mendekati Leticia.


''Sayang, kita pulang ya. kita banyakin waktu bermain bersama anak anak.'' lirih Alfonso. butiran kristalnya akhirnya jatuh dari sudut netranya.


Leticia tersenyum sembari bercucuran air mata. diangguknya pelan kepalanya. Tanda Ia menyetujui untuk pulang.


''Ayo, sayang kita pulang. aku sudah kangen dengan putra putri kita.'' batin Leticia.

__ADS_1


Alfonso mengeratkan genggaman tangan mereka. dikecup punggung tangan Leticia berulang kali.


''Sayang, tadi kamu dengar'kan? apa yang dikatakan dokter? aku bisa apa kalau dokter menyerah. Uangku ternyata tidak bisa menyembuhkan kamu. kekuasaanku apalagi! Ternyata aku lemah aku tidak sehebat ketika aku melawan musuh. aku tidak berguna.'' Alfonso mengerutuki dirinya.


'' Enggak apa apa sayang. aku ingin menghabiskan sisa waktu hidupku hanya bersama dirimu dan anak anak kita. Karena, aku tahu berada disamping kalian adalah kebahagian terbesar untukku. aku sudah tidak membutuhkan obat lagi. semua itu hanya membuat ku semakin sakit. obatku adalah berkumpul bersama kalian.'' Jawab Leticia dengan suara yang tidak jelas. Namun, masih di mengerti. air matanya pun terus bercucuran membasahi pipinya.


'' Ya, jika itu keputusanmu. Baik, ayo kita pulang ke Mansion, sayang.'' jawab Alfonso.


Mendengar jawaban Alfonso. Leticia tersenyum.


Akhirnya Alfonso menekan bell yang berada di dekat bed pasien. Dokter Cathlyn datang menemui Alfonso diruang ICU.


''Bagaimana, pak? sudah ambil keputusan?" tanya Dokter Cathlyn. Setelah masuk ke dalam ruang ICU.


''Sudah Dok.'' jawab Alfonso.Menghela napas panjang.


Alfonso tidak menjawab, kedua tangannya dilipat didadanya. sesekali Alfonso mengerutkan dahinya. Leticia terus mengamati tingkah Alfonso.


'' Aku, belum pergi saja. kamu sudah menderita bagaimana jika waktu itu datang?" batin Leticia.


Satu persatu alat medis sudah dilepas dari tubuh Leticia oleh perawat. Selesai melepas semua alat medis, perawat ingin membersihkan tubuh Leticia. Namun, Alfonso menolak.


"Tinggalkan saja, biar saya yang membersihkan sendiri." perintah Alfonso dengan wajah dingin.


"Sayang?" ucap Leticia dengan suara melemah.


"Kapan lagi kalau bukan saat ini aku merawat kamu sayang? waktuku bersama kamu hanya menghitung hari. Aku ingin benar benar memanfaatkan waktuku dengan sebaik baiknya." jawab Alfonso.

__ADS_1


Lalu, Alfonso menutup Gorden kaca ICU. Dengan telaten Alfonso mulai membersihkan tubuh Leticia. Selesai, membersihkan Alfonso memakaikan baju pada Leticia. Kemudian, Alfonso mulai menyisir rambut indah milik Leticia dengan lembut.


Selesai mengurus semua. Alfonso mendaratkan satu kecupan di kening dan bibir Leticia.


''Ayo, sayang kita habiskan waktu bersama.'' ucap Alfonso tersenyum.


Leticia membalas senyum sembari mengangukkan kepalanya.


Alfonso mulai mengangkat tubuh Leticia dari ranjang pasien. Lalu, didudukan diatas kursi Roda. Kemudian, dengan pelan Alfonso mendorong kursi roda keluar dari ruang ICU menuju Lobby rumah sakit.


Beberapa anak buah dengan baju dan kaca mata serba hitam sudah menunggu didepan pintu untuk mengawal Alfonso dan Leticia pulang ke Mansion.


Dokter Cathlyn datang menghampiri Leticia dan Alfonso.


Dokter Cathlyn Sedikit membungkukkan badannya ''Buk, semangat ya.'' ucap Dokter Cahtlyn dengan mengangkat kedua tangannya ke atas.


''Te--ri--ma --ka--sih--- Dok.'' jawab Leticia dengan suara terbata bata karena pembicaraannya yang sudah semakin susah.


''Sama sama, Buk.'' jawab Dokter Cathlyn.


Lalu, Dokter Cathlyn berdiri menegakkan tubuhnya. '' Pak, jika ada masalah dengan ibu Leticia silahkan hubungi saya.'' ucap Dokter Cathlyn.


''Baik, Dok. Maaf kami permisi.'' pamit Alfonso.


''Baik, pak. hati hati.'' jawab Dokter Cathlyn.


Alfonso mendorong kursi roda Leticia menuju Lobby dimana mobil sudah menunggu. Pintu Mobil juga sudah di buka oleh anak buahnya Alfonso segera mengangkat Leticia masuk ke dalam mobil. Lalu disusul oleh dirinya duduk disamping Leticia. Mobil segera melaju menuju Mansion dengan kecepatan rata rata.

__ADS_1


__ADS_2