SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
Mata buram.


__ADS_3

Leticia


Seperti malam malam sebelumnya. anak anak masih tidur bersama kami. Mungkin, karena kelelahan Alfonso dan anak anak tidur begitu pulas. Namun, berbeda dengan aku. Entah kenapa malam ini hatiku begitu gelisah. Aku, bangun dari tidurku. mataku sudah disajikan dengan pandangan membahagiakan. Namun, pandanganku tidak sejelas biasanya. terlihat samar samar salah satu anakku tidur di atas lengan Alfonso, aku tersenyum.


"Ahh...betapa beruntungnya kalian lahir dengan kedua orangtua yang lengkap. Lihat daddy kalian begitu mencintai kamu semua." gumamku berlinang air mata.



Karena, tidak puas dengan samar samar. Aku coba mengedipkan mataku berkali kali tetap saja masih sama buramnya.


"Mungkin karena lampu tidur jadi samar samar seperti ini."batinku.


Aku menyibak selimutku, dan berusaha turun dari tempat tidur.


Namun, semua ototku tiba tiba lemas aku seperti tak bertulang. Aku, jatuh ke bawah lantai.


Aku merintih kesakitan." aduh, sakit." rintihku.


Memang benar lutut ku yang lebih dulu mengenai lantai terasa perih. ditambah lagi dengan seluruh ototku yang lemas.


Mendengar Suara rintihanku Alfonso berlari mendekati aku. Pistol ditangannya diletakakkan dilantai dengan cepat Alfonso menggendong aku.


"Sayang! kenapa?" tanya nya begitu panik.


Aku sudah menangis sakit lecet di lututku tidak sesakit hatiku. ya, aku tiba tiba memikirkan hal buruk akan terjadi padaku.


Jujur aku belum siap. Tetapi, satu hal yang aku tidak mengerti kenapa mataku buram?

__ADS_1


"Kamu, kenapa sayang?" lagi lagi Alfonso bertanya dengan berlinang air mata.


"Kenapa? bisa jatuh dilantai? apa kamu mimpi?" tanya Alfonso.


Sesak didadaku membuat aku sulit menjawab pertanyaan Alfonso yang bertubi tubi dilemparkan kepadaku.


Aku hanya menggeleng dengan menutup wajahku didada bidangnya.


''Ayo sini berbaring disini.'' ucap Alfonso lagi.


Dengan membaringkan tubuhku di sofa panjang yang berada dikamar kami. Alfonso berjalan ke arah tembok untuk menyalahkan lampu kamar. Lalu, kembali lagi mendekati aku.


Aku, bisa merasakan betapa ketakutan dirinya saat ini.


''Sayang, apa yang sakit?" tanya Alfonso.


Tangan ku meraba raba wajah Alfonso.'' Kamu tunggu sini ya. aku coba telpon dokter Cathlyn.'' ucap Alfonso dengan panik.


Aku menganggukkan kepala.


Aku mendengar Alfonso sangat marah saat berbicara lewat sambungan panggilan.


''Dokter! tidak ada alternatif lain selain cuci darah?" terdengar ucapan Alfonso ditelinga ku.


''Cuci darah? siapa yang akan cuci darah?" pikiran ku mulai ke mana mana.


''AKU?" Setahuku lupus ku hanya gatal dan membuat emosiku naik turun.'' batinku lagi.

__ADS_1


Aku masih menangis dengan menyenderkan tubuhku disofa. terlihat Alfonso berjalan ke sana kemari tangannya terus menarik kasar rambutnya.


"Sayang! kenapa? sini duduk disini." pintaku


"Iya sayang." jawab Alfonso dengan suara parau.


"Kenapa? kamu seperti ketakutan?" tanyaku lagi. aku berusaha menenangkan Alfonso.


"Tidak sayang, tidak!" jawabnya. kemudian Alfonso datang dan duduk disamping.


Dibawa nya tubuhku ke dalam dekapan dadanya. kepalaku berulang kali di kecup oleh nya.


Perasaanku semakin tidak enak." aku mohon jangan menyembunyikan sesuatu dari aku." lirihku.


Alfonso hanya bisa menganggukkan kepalanya. " tidak sayang, tunggu Ethan sudah jemput Cathlyn." jawab Alfonso.


"Aku kena Glukoma? setahuku aku enggak ada Diabet?" tanyaku ingin tahu.


"Bukan, kamu tidak kena glukoma sayang." mendengar ucapan Alfonso aku sedikit tenang.


"Apa lupusku menekan ke saraf?" aku berusaha bertanya.


Alfonso diam, dia tidak menjawab.


"Sayang!" aku menyentuh wajahnya. Tanganku terkena tetesan air matanya.


"Kenapa menangis?" tanyaku.

__ADS_1


"Dokter sudah dijalan, kita tunggu hasil diagnosanya dari Cathlyn." jawab Alfonso.


__ADS_2