
''sayang kamu tunggu disini ya, ingat jangan berdiri dari sofa.'' pamit Alfonso. tidak lupa Alfonso mengecup kening Leticia.
Setelah berpamitan Alfonso segera keluar dari kamar menemui dokter Cathlyn.
''Pagi pak Alfonso.'' sapa dokter Cathlyn ramah.
Alfonso tidak menjawab. Ia langsung mengajak Dokter Cathlyn ikut bersama dirinya.
''Ayo, dok. mari ikut saya ke kamar.'' ajak Alfonso.
Ethan segera berjalan keluar untuk duduk bersama Bale didepan, menunggu dokter cathlyn selesai untuk mengantar kembali dokter Cathlyn.
''Bagaimana, kondisi ibu Leticia pak? sepertinya pak Alfonso sangat panik.'' tanya dokter Cahlyn mengikuti langkah kaki Alfonso.
Mendengar pertanyaan Dokter Cathlyn. Alfonso menghentikkan langkahnya. menoleh dokter Cathlyn dengan panik.
''Sepertinya kabar 4 tahun silam itu. sudah tiba. Tetapi, jujur dok saya belum siap.'' jawab Alfonso. sebenarnya tubuhnya sudah lemas hanya saja Alfonso menjaga imagenya.
''Ini termasuk kategori lambat pak. jujur, tadi mendapat telpon dari pak Alfonso saya tidak percaya. ibu Leticia bertahan sampai sejauh ini.'' jawab dokter Cathlyn.
''Maksud dokter? sejauh gimana?" Alfonso tidak terima. Baginya seharusnya seorang dokter memberi harapan positif bukan malah menakuti seperti itu.
__ADS_1
''Ya pak itu faktanya. sejauh mana saya berbohong tetap tidak bisa. ini sudah menyerang saraf. susah untuk pulih sebaiknya lakukan cuci darah untuk memperpanjang usia. Tetapi, ingat bukan untuk menyembuhkan.'' penekanan dokter Cathlyn seperti pisau yang terhunus tepat di jantung Alfonso.
''SAYA BELUM SIAP!' jawaban penekanannya, lagi lagi membuat dokter Cathlyn menghela napas panjang.
Selesai berbincang dengan dokter Cathlyn didepan kamar. Alfonso segera membuka pintu kamar mereka. Lalu, mempersilahkan Dokter Cathlyn masuk ke dalam kamar.
''Masuk, dok. maaf anak anak masih tidur. istri saya di sofa.'' Alfonso tetap ramah walau hatinya lagi gelisah.
Dokter Cathlyn pun mengikuti langkah Alfonso. langkah Alfonso semakin cepat ketika melihat Letica berbaring lurus di atas sofa.
Kaki tanganya lemas. pikiran jeleknya seketika muncul.
''Pak, tenang dulu. saya coba periksa.'' Dokter Cathlyn berusaha tenang. Walaupun dia juga sudah ketakutan.
Takut di bunuh oleh Alfonso. Karena, dia sudah sering mendapat ancaman dari Alfonso. padahal, sudah berulang kali dokter Cathlyn menjelaskan.
tidak ada pasien lupus yang sembuh. karena, sampai saat ini obat untuk menyembuhkan lupus belum ada. kecuali untuk bertahan hidup.
Namun, ucapan Dokter Cathlyn seperti angin lalu bagi Alfonso.
Alfonso segera menyentuh kepala Leticia. terukir senyum dibibirnya. ketika kepala Leticia masih panas.
__ADS_1
''Silahkan dok.'' Alfonso kembali berdiri dari sofa.untuk memberi ruang bagi dokter Cathlyn memeriksa keadaan Leticia.
Dokter Cathlyn mulai menekan tetoskop didada Leticia. Lalu, dokter Cathlyn kembali mengambil Oftalmoskopi[ menyerupai senter dengan beberapa lensa kecil yang dapat memperlihatkan bagian dalam bola mata.]
Dengan perlahan Dokter Cathlyn membuka mata Leticia lalu mulai mengarahkan Oftalmoskopi ke arah bola mata Leticia. hampir 15 detik Dokter Cathlyn memperhatikan bola mata Leticia dengan seksama. selesai melakukan pemeriksaan pada mata dokter Cathlyn berdiri menegakkan tubuhnya.
Matanya menatap lekat Alfonso. '' Waktunya sudah tiba. pak Alfonso harus siap. untung saja ibu Leticia tidur jadi tidak mendengar pembicaraan kita. Karena, saya kwatir akan berpengaruh pada mental ibu Leticia.'' sedikit menarik napas panjang Dokter Cathlyn menjelaskn secara detail.
Tubuh kekar yang sedari berdiri kokoh sebagai kepala rumah tangga dan pelindung untuk anak istrinya. Seketika jatuh tak berdaya dilantai kamar, air matanya bercucuran membasahi pipinya.
Ya, ini penyakit siap tidak siap Alfonso harus siap. Tetapi, ini juga tentang rasa dan memiliki tidak semuda itu melepaskan orang yang sudah 5 tahun hidup bersamanya. yang s mampu memanusiakan dia yang dulu hanya seorang manusia yang tidak memiliki hati.
''Dok, hatiku hanya ranting yang gampang rapuh dan patah. dia Bunga ku yang sudah mewarnai hidupku dan mengharumkan aku, dia bukan mawar yang memiliki duri yang menyakiti aku. dia seperti Lotus Merah yang memiliki paket komplit melambangkan kasih tanpa pamrih, dia membuat gairahku bergemuruh ketika bersama dia, dia memberi kasih sayang dan kebaikan dengan tulus.'' dengan sabar dokter Cathlyn mendengar curahan hati Alfonso.
Dokter Cathlyn menyadari ini pukulan berat bagi Alfonso. dimasa dia sedang bahagia bersama istri dan anaknya takdir datang untuk memisahkan mereka.
''Sabar, ya pak saya dan tim dokter akan mengusahakan yang terbaik. setidaknya memperpanjang umur ibu Leticia.'' ujar Dokter Cathlyn dengan tersenyum.
''Sulit bagiku, dok.'' lirih Alfonso. tangannya menopang kepalanya. kini Ia tak berdaya dibawah lantai.
__ADS_1