
Dengan kecepatan lambat, Alfonso mengemudikan mobilnya menuju Mansion miliknya.sesekali melirik ke arah leticia, lalu kembali fokus mengemudi lagi.
Saat mengemudi, Alfonso mengingat lagi kejadian tadi pagi.dimana Alfonso mengingin kan syukuran untuk kehamilan leticia. dan saat itu leticia terlihat murung dan mengabaikan dirinya.
"Nanti setelah tiba dirumah. akan aku tanya kan alasan apa yang membuat dirinya murung." batin Alfonso.
Akhirnya, hampir satu jam lamanya diperjalanan, merekapun tiba di Mansion.
Bale, yang melihat mobil Alfonso datang, dengan segera menekan tombol pagarnya. dan, Alfonso membelokkan mobilnya masuk ke dalam halaman Mansion.
Bale, menundukkan kepalanya saat Alfonso membuka pintu dan keluar dari mobil.
lalu..,
Berjalan lagi ke pintu sebelah dengan perlahan membuka pintu mobil dan mengangkat tubuh Leticia dengan berhati hati.Alfonso masuk ke dalam lift menuju ke kamar mereka.
Ting..,
Lift terbuka.
Alfonso, berjalan keluar dari lift dengan menggendong Leticia. pelayan yang melihat Alfonso menggendong Leticia. dan akan susah membuka pintu dengan cepat berlari terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk tuannya.
Pintu, terbuka dengan hati hati Alfonso masuk ke kamar dan membaringkan Leticia diranjang dengan perlahan agar tidak membangunkan Leticia.
Setelah, membaringkan Leticia, dan memastikan Leticia tidak terbangun. dengan perlahan Alfonso berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Selesai mandi, Alfonso berjalan ke lemari untuk mengenakan baju.setelah mengenakan baju Alfonso berjalan ke arah ranjang menatap istrinya sesaat.kemudian, tangannya meraih ponsel diatas nakas. dan berjalan ke balkon kamar untuk menghubungi, Glen.
__ADS_1
Alfonso, menggeser layar ponselnya dan mencari nomor Glen, setelah menemukan nomor Glen Alfonso memasang benda pipih itu ditelinga kirinya.
drttthh...,
Bunyi suara ponsel Glen.
''Hallo Glen.''
Hampir satu jam mereka berbicara lewat sambungan telpon. terlihat jelas sekali saat berbicara wajah Alfonsi begitu dingin. setelah, selesai menelpon Alfonso mengeraskan rahangnya.kepalannya tangannya terlihat begitu keras hingga mengeluarkan urat urat di tangan kekarnya.
''Breng..,sek. berani sekali kau.'' gumam Alfonso.
Terlihat, dengan jelas amarah dimatanya.tapi, saat berjalan masuk ke dalam kamarnya, matanya melihat Leticia, yang sedang pulas. amarahnya jadi hilang seketika.
Alfonso, mengecup kening Leticia.
"Maafkan.aku pergi lagi." gumam Alfonso.sambil menarik kasar rambutnya.
lalu..,
''BI, tolong jaga Leticia sebentar bi. saya, ke luar sebentar ada urusan mendadak yang harus saya kerjakan. kalau, Nona bangun dan menanyai saya, katakan saja saya dan Glen ada urusan sebentar, gitu aja.'' ucap Alfonso sambil berjalan ke ruang belakang. ruangan yang terletak dibawah tanah ruang pertemuan khusus dengan teman temannya.
Setelah masuk ke dalam ruang bawah tanah.
Alfonso, mulai mengisi peluru ke dalam ke dua pistolnya. tidak lupa membawa jarum suntiknya.
Pistol pistolnya di sisipkan ke dua pinggangnya.
__ADS_1
Lalu..,
Berjalan, ke arah area parkir mobilnya.
dengan, mengemudikan mobil anti pelurunya. Alfonso, melaju dengan kecepatan tinggi tanpa peduli protes pengemudi yang lain, yang merasa erganggu dengan kecepatan Alfonso dijalan.
''Bang..,sat! lagi lagi dia mancing disaat yang tidak tepat. akan aku ratakan markasnya dengan tanah biar dia tahu siapa aku sebenarnya.'' batin Alfonso. tangannya memukul stir mobilnya.hingga menyebabkan bunyi klakson yang menganggu orang orang di sekitarnya.
Brumm....,
Alfonso, tiba di markas. semua anaknya buah menunduk saat melihat Alfonso turun dari mobil.
'' di mana Ethan? kerja ng becus.'' tanya Alfonso pada anak buahnya.
"Bos Ethan lagi didalam Tuan." jawab Salah satu anak buah.
Tanpa menjawab lagi. Alfonso berlari ke dalam markas dengan amrah yangbsudah mau meledak.
Glen yang duduk melihat Alfonso, datang hanya diam tanpa suara begitu juga Gareth yang baru saja tiba dari California hanya diam.
"Kenapa, bisa kecolongan seperti itu?" Tanya Alfonso. dan menatap tajam Ethan.
Ethan, yang merasa dirinya lalai dalam melaksakan tugas hanya diam tanpa kata dan menunduk.
Karna, merasa pertanyaannya diabaikan. Alfonso memukul meja dengan keras.
Plakkk...,
__ADS_1
"Semua sudah tidak ada mulut untuk bicara, ha?" bentak Alfonso dan menatap temannya satu persatu satu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...