
Doanya, terus Ia panjatkan. air matanya terus bercucuran, seakan tidak pernah habis.
''Tuhan, kenapa harus dia. kenapa, bukan saya yang engkau ambil. Tuhan, tolong ganti nyawa kami, jika itu bisa engkau lakukan, maka lakukan lah demi aku dan anak anak kami.'' ucap Leticia. tangannya terus ditempelkan dikaca. sesekali melirik ke dalam ruangan.
Dimana, pria yang biasa Ia sanjung kini tertidur pulas. telinganya, tidak mendengar ada rintihan diluar ruangan yang setia menunggunya untuk kembali bercanda bersama seperti dulu lagi.
Sesekali, Leticia memanggil nama sang suami. Namun, lagi lagi tidak ada jawaban dari pemilik suara bass itu.
''Sayang, kamu marah. ya uda aku engga mau makan. aku, enggak mau minum obat. biarin tubuhku bau acem. kan enggak ada yang ciumin aku.enggak ada yang muji aku.'' leticia terus berbicara sendiri.
Harapannya, semoga sang suami mendengar semua ocehanya.sang suami, mau bangun agar mereka bisa mandi bersama lagi, mau memuji dirinya lagi, seperti biasa rutinitas mereka di Mansion.
Kesedihan ini, bukan milik Leticia seorang.Tapi, milik semua sahabat, mertua bahkan para pelayan di Mansion.
Anak anak panti, semua sudah berada didalam gereja. melantunkan doa dengan harapan ada keajaiban untuk Ayah mereka.
Gareth, yang lengannya baru saja selesai diperban.Ia, tidak peduli sakit dibahunya. saat ini, yang Ia harapkan sang sahabat terbaik mereka. segera siuman dari tidur panjangnya.
__ADS_1
Sesekali, Gareth memukul pelan kaca depan ruangan Alfonso dirawat, netranya terus mengeluarkan butiran kristal.
''Al, tidur lu sudah lama. ini bukan Al yang aku kenal. Al, tidak biasa membiarkan sahabat sahabatnya menunggu lama. Al, yang aku kenal tidak akan mau membiarkan Leticia menangis panjang seperti ini. Maafkan, aku. Aku, bukan sahabat yang baik, aku egois meninggalkanmu sendirian disana. Ayo, bangun lepaskan satu peluru didadaku. Aku siap, asal kamu harus bangun. tega lu Al. Lihat istrimu, dengan perut segede itu tidak mau duduk hanya karna menunggu lu.'' Gareth terus saja mengoceh. Ia, tidak peduli Alfonso dengar atau tidak. tapi, hati kecilnya berkata Alfonso lagi marah besar dengan dirinya.
Polievera, juga merasa sangat bersalah. melangkah perlahan datang menghampiri Gareth. tangannya, memegang bahu Gareth yang tidak terluka, Ia mengelus perlahan sembari memberi dukungan.
''Aku, juga tidak menduga. wanita itu, entah lolos dari mana masuk dan langsung melepas tembakan. Al, yang melindungi istrinya. dari peluru tidak sempat melepaskan peluru untuk wanita itu.'' jelas Polievera.
Gareth yang sangat geram, memasang wajah amarahnya.
''Dimana, wanita itu!aku, ingin bertemu dia." jawab Gareth penuh emosi. kedua tangannya dikepalkan.
''Saat ini, dia sudah diibawa ke markas. dan, aku mau nanti setelah Alfonso sadar. biarkan, Alfonso yang menghukum dia.'' jelas Polievera.
Gareth, akhirnya diam. karna, ada benarnya juga Alfonso lah orang pertama yang harus membunuh wanita itu.''
''Siapa, dia?" tanya Gareth menatap tajam Polievera.
''Dia, mengenal baik Alfonso. dan, mungkin kamu juga kalau melihat wajahnya kamu pasti mengenalnya. bahkan dia, juga sering kerja sama dengan club Alfonso.'' jawab Polievera sembari tersenyum kecut. kepalanya terus ia gelengkan. karna, dia tidak menduga orang yang selama ini bekerja sama dengan mereka ternyata bukan seorang pria melain kan seorang wanita.
__ADS_1
Lain hal, dengan pria yang baru saja melepas masa lajangnya itu.
Masih, sangat shock. dengan posisi yang masih duduk didepan pintu ruangan Alfonso. Glen terus menarik kasar rambutnya.
''Al, jangan seperti ini. kalau, Lu tidak bangun. terus nanti anak anak lu lahir siapa yang mandiin. lu, enggak mau temani Leticia lahiran. ya sudah, biarin aku aja yang mandiin anak anak lu.'' Glen terus berbicara. karna dia tau Alfonso tidak suka ada orang lain yang melihat bahkan menyentuh sang istri.
Masih, teringat dibenaknya. saat saat Alfonso, berjuang dari nol hingga berjaya seperti ini. masih teringat, dia lah orang yang selalu menegur Alfonso,. kalau, Alfonso menyentuh obat terlarang.
Masih, terbayang dalam pikirannya. dimana Alfonso datang menyelamatkan hidupnya. saat itu ibunya, sudah tak bernyawa lagi. dan masih berbaring dirumah sakit karna biaya tebus rumah sakit tidak ada. dimana waktu itu, sang ayah lebih memilih wanita simpanannya daripada dia dan ibunya.
Dan waktu itu, Alfonso lah sosok pahlawan penyelamat hidupnya.walaupun, saat itu keuangnya Alfonso, masih merangkak. tapi, Alfonso berani mengambil dana dari perusahaan ayahnya untuk menebus rumah sakit sehingga Glen bisa makam kan sang ibunda dengan layak.
Andre, dan Kevin terus berdiri dilobby hotel memastikan kalau musuh tidak ada lagi. mereka, juga tidak kalah sedih karna mereka memiliki kisah yang sangat terkesan dengan Alfonso. bagi mereka. tanpa. Alfonso mereka tidak sesukses seperti saat ini.
*******
Di dalam ruangan, tim medis terus berusaha.alat pacu jantung terus ditempelkan. sesekali, terlihat dokter Lois menggelengkan kepalanya. lalu, menyeka peluh yang menetas entah karna stres atau karna kelelahan menangani Alfonso.
__ADS_1