SANG MAFIA PEMILIK HATIKU

SANG MAFIA PEMILIK HATIKU
Karna Ijin Tuhan.


__ADS_3

Dokter Louis, melangkah keluar dari ruang tindakan. Badannya, seakan tidak mampu untuk mendorong pintu ruangan.


Ceklek...,


Pintu ruangan terbuka, Louis, keluar dengan peluh yang masih bercucuran dikeningnya.


Karla, segera menghampiri dokter Louis.


''Bagaimana, Dok?''tanya Karla. dengan cemas.


Semuanya yang berada diruangan itu, juga berdiri mengelilingi dokter Louis.Mereka, juga ingin tau kabar mengenai Alfonso.


''Hmmm.., belum bisa sadar. tadi, nona Leticia didalam ruangan, Tuan masih bisa gerakkan tangan. sekarang tidak mau sama sekali. sedangkan operasi pengambilan peluru, dapat dilakukan kalau pasien harus benar benar sadar dulu.'' jelas dokter Louis.


Leticia, yang mendengar itu, dengan berjalan ala bebek karna perutnya yang memang sangat besar, beda dari ibu hamil yang lainnya, yang didalamnya hanya satu atau dua. ini malah empat jadi ukuran perutnya sangat besar.


Melangkah, masuk ke dalam ruangan, masih dengan gaun putih yang penuh bercak darah yang saat ini sudah mengering. karna, sejak Alfonso, tertembak Leticia sama sekali belum kembali ke kamar hotel untuk membersihkan diri. Ia, hanya berdiri didepan ruangan menanti sang suami bangun.


Tanpa, permisi Leticia terus menerobos masuk. dan menghampiri sang suami yang sedang berjuang melawan maut. Tim, medis yang melihat Letica datang perlahan mereka bergeser dan memberi ruang untuk Leticia berbicara dengan Alfonso.


Harapan, Tim medis. dengan, cara ini Alfonso bisa cepat sadar. karna, tindakan pengambilan peluru harus segera diambil. kwatir Alfonso bisa kehabisan darah.


Leticia, meraih tangan Alfonso. netranya terus mengeluarkan butiran kristal.


''Sayang, aku lapar. kamu, tau saat ini perut ku lapar bangat. anak anakmu terus bergerak didalam sana. tapi, aku enggak mau makan kalau kamu enggak mau bangun. biarin, aku mau mogok makan, mandi dan kamu tau sampai sekarang aku belum minum obat.'' ucap Leticia dengan bercucuran air mata. sembari mengelus punggung tangan Alfonso dengan lembut.


Alfonso, seakan mendapat setruman pacu jantung alami. terlihat ada gerakan di jari telunjuknya, seakan merespon obrolan sang istri.


Leticia, tercengang sembari melirik ke arah Tim Medis.


Layar, Monitor deteksi jantung yang tadinya hanya garis lurus kini perlahan mulai bergelombang.


''Dok, suami saya. mulai merespon!" teriak Leticia.sembari tersenyum.


Leticia, berdiri dari bed pasien. dan, memberi ruang untuk para medis.


Dengan, gerak cepat Salah satu dokter meraih alat pacu jantung dan ditempelkan di dada Alfonso. tampak, Alfonso mulai merespon deteksi jantungpun mulai bergerak dengan normal.


Semua, menyambut baik ada rasa haru campur bahagia. air mata mereka bercucuran bukan karna sedih melainkan bahagia.


Tim medispun, mulai mempersiapkan alat untu melakukan tindakan operasi.


Salah satu dokter wanita datang menghampir Leticia dengan tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih ibu, ini keajaiban Cinta. luar biasa cinta pak Alfonso untuk ibu.'' ucap dokter itu. sembari memeluk Leticia.


''Semua, karna ijin Tuhan.'' jawab Leticia sembari tersenyum.


Leticia, berjalan keluar dengan digandeng oleh seorang dokter wanita. dalam hatinya, Ia masih belum percaya. kenapa, Alfonso langsung merespon saat dirinya berbicara.


Felisia dan Mason. saling menatap, mereka mengucap syukur tanpa henti.


Dengan, cepat Stefani berlari menghampiri Leticia. dengan membawa sebotol air mineral ukuran tanggung dan satu paperbox cake untuk Leticia.


''Makan dulu, Alfonso akan marah kalau kamu enggak makan. kamu, tau sendirikan bagaimana kwatirnya Alfonso dengan kamu dan anak anak kamu.'' jelas Stefani. sembari menggandeng Leticia duduk disofa yang berada di ruang tunggu itu.


Leticia, hanya mengangguk. karna, suaranya habis utuk menangis tadi. dengan, tersenyum Leticia membuka tutup air mineral lalu meneguknya.


Felisia, membuka paperbox. dan, mengeluarkan kue muffin kesukaan Leticia yang rasa keju dan strowberi.


Leticia, menerima kue muffin itu dan mulai menggigit. dengan terpaksa Leticia berusaha menelan kue itu agar anak anaknya tidak lapar didalam sana.


''Terima kasih Tuhan. tolong, lancarkan operasi suami saya.'' Leticia terus mengucap doa dalam hatinya.


Mason, yang masih merasa bersalah. tidak sanggup menatap sang putri. Ia, hanya diam dengan Willy yang berada didalam gendongannya.


''Kamu, harus makan. harus sehat demi Alfonso.'' ucap Felisia. sembari mengelus punggung sang putri.


''Mommy, tau kamu sayang Alfonso. mommy tau kamu begitu kwatir dengan Alfonso.Tapi, disini didalam sini ada buah cinta kalian yang sangat membutuhkan nutrisi dari ibu mereka. kamu, enggak kasihan dengan mereka, sudah setengah hari kamu enggak kasih mereka makan.kamu, pikir mereka juga tidak sedih melihat ibu mereka sedih seperti ini, kamu pikir mereka tidak menangis melihat ayah mereka tak berdaya begitu. mereka, juga merasakan perasaan yang saat ini kamu rasakan. biarpun, mereka masih berbentuk janin.'' oceh Felisia. sembari mengelus perut sang putri.


lagi, lagi Leticia hanya menganggukkan kepalanya. dan terus menggigit kuenya.


Didalam, ruangan sana para dokter berjuang keras. mengeluarkan peluru yang bersarang didalam dada Alfonso.


"Scalpet." ucap salah satu dokter.


kemudian dengan lincah tangannya mulai membedah bagian dada yang terdapat peluru.


''Arahkan lampunya lebih dekat lagi.'' ucap dokttr itu lgi.


''Pingset.'' ucapnya lagi lalu meletakkan Scalpet.[pisau operasi]didalam mastha medica.


Dokter, mulai menjepit peluru itu dari dada Alfonso.Setelah berhasil menjepit. peluru itudikeluarkan dan ditunjukkan ke tim dokter lain lalu diletakkan di mastha medica.


Salah, satu asisten terus membersihkan setiap darah yang mengalir dari bekas potongan operasi. dengan menggunakan kasa Steril.


"Jarum." ucap dokter itu lagi.

__ADS_1


Lalu, tangannya mulai menjahit bekas luka operasi itu.


Selesai, melakukan pengambilan peluru didada. para dokter tersenyum Lega. namun, Alfonso belum sadarkan efek dari obat bius. dan kehabisan darah.


"Golongan darahnya AB." ucap dokter wanita itu.


Dengan, cepat mereka berlari ke ruangan penyimpanan stock darah. namun, darah dengan golongan AB. kosong.


"Enggak ada kosong." jawab salah satu dokter lagi.


Dengan cepat Lousi berjalan keluar dengan wajah sedih. semua, yang tadi sudah bahagia, hanya diam dan pasrah


Leticia, yang berusaha berdiri namun sedikit sulit. akhirnya dibantu oleh Stefani.


''Dok, suami saya bagaimana?"tanya Leticia dengan mata berkaca kaca.


'Semua, sudah lancar.hanya saja kami kehabisan darah. karna, darah Alfonso golongan AB. siapa yang disini memiliki golongan darah AB.tolong didonorkan sekarang.''ucap dokter Louis.


Kevin, yang mendengar itu. segera datang.


''Dok, darah saya AB. saya, sehat , dan siap donorkan dok.'' jawab Kevin.


Bagi, kevin. ini kesempatannya untuk membalas kebaikan Alfonso.


''Baik, ikut saya ke ruangan.'' jawab dokter Louis.


Dengan, bersemangat Kevin masuk ke dalam ruangn. matanya menatap sang sahabat yang tidak sadarkan diri dan tertidur pulas di bed pasien itu.


"Aku, akan lakukan apapun demi lu Al." batin kevin.


Dokter, juga dengan cepat melakukan tensi darah. selesai melakukan tensi darah. Kevin segera berbaring di bed pasien. dan mulai melakukan suntik dan memasang kantong darah.


Setelah hampir setengah jam.Dokterpun membawa darah kevin yang sudah dilakukan tahap strelisisasi. segera didonorkan ke Alfonso.


Kevin, masih berdiri di depan sang sahabat yang berbaring lemah tak berdaya diatas bed pasien.


''Al, ayo bangun. lu, betah sekali tidur diruangan ini.'' ucap Kevin. dia berharap dengan dia dengan ledekan seperti itu Al mau sadar. tapi hasilnya nihil.


Al, tidak merespon sama sekali.


Kevinpun segera keluar lagi dari ruangan. dalam hatinya Ia berdoa sang sahabat segera sadar dari komanya.


...----------------...

__ADS_1


Masih tahap revisi lagi ya. di bab bab yang lama ya🙏🙏🙏🙏


__ADS_2