
''Untuk, apa minta maaf! Leticia?" suaranya sedikit meninggi. Alfonso menjatuhkan tubuhnya ditepi ranjang dengan berlinang air mata.
Anak -anak kebingungan ketika melihat Alfonso berlinang air mata. Lalu, menatap Leticia yang sedang kesulitan mengatur napasnya.
''Leticia... jangan kata'kan maaf! Aku belum melakukan apa apa untuk kamu, sayang.'' ujar Alfonso. Air matanya terus berlinang sembari menggelengkan kepala. Tangannya membawa Leticia ke dalam pelukannya.
"Kasih aku satu kesempatan lagi. Sehari lagi aku mohon. aku belum siap!" pinta Alfonso, menggeleng.
Melihat daddynya menangis tersedu sedu. Alisha langsung memeluk Alfonso dari belakang.
''Daddy, kenapa nangis? Daddy enggak mau Alisha lapor Mommy? Kalau, Daddy nakal? oke, Alisha akan biarin Daddy makan pasta.'' bujuk Alisha polos.
''Tidak, Nak. lapor saja jika Daddy nakal. Biar Mommy marah Daddy, Daddy memang nakal.'' jawab Alfonso tangan satunya memeluk Alisha.
Leticia berusaha tersenyum. Namun, air matanya masih terus mengalir. ''Daddy is the best. Mommy titip Daddy.'' pesannya kepada keempat anaknya, " Daddy hanya belum mengerti!" sambung Leticia lagi.
Dengan polosnya anak anak Leticia menganggukkan kepalanya.
''Sayang, maafin perbuatan Daddy di masalalu. Aku titip Daddy dan Mommy, tolong jaga mereka juga. Sekalipun, Daddy jahat itu karena situasi.'' digenggamnya tangan Alfonso dengan erat.
''Aku... akan jaga mereka. Namun, aku belum siap melepas kamu Leticia!'' Alfonso memohon. Tangannya menggenggam tangan Leticia begitu erat. berkali-kali Alfonso mendaratkan kecupan dipunggung tangan Leticia.
''Aku, harus pergi sayang. Lihat, benda putih berkilau itu semakin mendekat tamganya terus memanggil aku. '' jawab Leticia menunjukkan ke arah pintu.
Alfonso dan anak anaknya mencari benda yang di tunjuk Leticia. Namun, tidak ada. Anak anaknya ketakutan mereka bersamaan memeluk Leticia.
Alfonso meraih pistol yang tadi sudah disediakan di atas nakas. Dengan cepat Alfonso menarik pelatuk lalu membidik ke arah pintu.
" Daddy..." teriak Aleijo ketakutan. Ketika, melihat Alfonso membidik.
Leticia tersenyum lalu mengecup Aleijo, " it's oke, Daddy baik baik saja." Dengan napas yang tersisa, Leticia masih berusaha menenangkan anak anaknya.
Felisia yang sedari menunggu anak anak diruang keluarga. Karena jam sudah menunjukkan pukul 07:00 pagi. biasanya jam nya anak anak sarapan.
Namun, tidak kunjung keluar dari kamar. Karena, penasaran Felisia mengajak Mason yang baru saja pulang dari mengantar Willy sekolah, ke kamar Leticia.
"Daddy... Ayo temani Mommy ke kamar Cia. perasaan Mommy enggak enak. Anak- anak juga sejak tadi belum keluar dari kamar." ajak Felisia.
" Ayo, Mommy. sejak tadi perasaan Daddy juga enggak enak." jawab Mason.
Mason dan Felisia pun berjalan ke kamar Leticia. Ketika tangan Felisia hendak menarik handle pintu terdengar suara tangis di dalam kamar.
__ADS_1
"Daddy... itu suara tangis anak-anak." ucap Felisia mencoba menempelkan telinganya di pintu kamar.
Begitu juga Mason." Iya benar Mom. Dan juga suara barito itu suara tangis Alfonso." jawab Mason berusaha tenang.
"Daddy..." suara Felisia bergetar. kaki tanganya lemas, pikiran buruknya muncul dengan cepat Mason membuka pintu kamar Alfonso.
"Oh ...Tuhan apa yang terjadi?" teriak Felisia memegang kepalanya. rasanya Ia ingin jatuh di lantai. Namun, dengan cepat Mason memeluk tubuh Felisia.
Leticia yang melihat Felisia dan Mason bergeming. Leticia melemparkan senyum.
"Mommy, Daddy! sini kenapa diam disitu." panggil Leticia berusaha mengatur napasnya.
Mason, yang melihat Alfonso membidik ke arah pintu dengan cepat menarik Felisia dan berjala ke arah ranjang. Mason, segera memutarkan badannya. tangannya segera merebut pistol dari tangan Alfonso.
"Nak, bukan seperti ini caranya menghadapi kenyataan." ucap Mason. Lalu, merangkul Alfonso ke dalam pelukannya.
''Daddy...tolong katakan pada Leticia. Jangan pergi aku masih kuat untuk merawat dia, aku masih ingin kami bersama. Jika, dia lelah karena tidak bisa berjalan aku akan kasih kakiku untuk dia. atau aku akan kasih otot aku. Aku mohon Daddy bicarakan dengan putri Daddy.'' mendengar permohonan Alfonso. Mason berlinang air mata. ditariknya napas dalam-dalam Mason berusaha menenangkan menantunya.
Ya, Mason tidak percaya Alfonso yang dulu tidak pernah memohon kepada siapa pun. kini demi sang istri bertahan hidup Alfonso hilang harga diri. Alfonso yang dulu tidak pernah meminta maaf kini kata maaf gampang sekali Ia ucapkan.
"Iklaskan, Nak! biar langkah Leticia riangan menuju Alamnya." Jawab Mason berlinang air mata.
"Daddy, juga tidak rela. Namun, Cia sudah banyak menderita. kita harus iklas melepaskan Cia. agar Cia tenang dan bahagia." sambung Mason lagi. bibirnya sedikit tersenyum menertawakan dirinya yang belum sempurna menjadi seorang Ayah.Tak kalah hatinya pun hancur Putri satu satunya kini meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Dengan langkah tergontai Felisia mendekat. Tanganya langsung memeluk Putrinya .
''Mommy... Cia minta maaf! Cia, titip anak-anak dan Alfonso." ucap Cia menarik napas panjang.
Felisia tidak menjawab hanya air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Mommy.. sampaikan juga maafku kepada Karla. katakan pada Willy kak Cia sangat mencintai Willy." sambung Leticia lagi.
"Sayang... Mommy bisa apa? Mommy belum tebus dosa Mommy Nak," jawab Felisia.
"Tidak..Mommy tidak bersalah. Mommy terjebak dengan situasi. Mommy... Napas Cia sesak sekali disini Mommy." jawab Cia dengan mengambil tangan Felisia. Lalu menempelkan didadanya.
Anak-anak sudah histeris. Alfonso Tersungkur dilantai dengan tak berdaya. hanya air mata yang mampu menjawab semua kehancuran hatinya.
"Mom... Karla lama sekali Mom. Cia tidak sanggup lagi.Titip keempat anakku dan Alfonso." ucapnya lagi dengan suara yang sudah sangat melemah.
" Daddy...." panggil Leticia pada Mason.
__ADS_1
"Iya, Nak." jawab Mason mendudukkan tubuhnya ditepi ranjang.
Leticia tersenyum." Cia, ingin dicium Daddy." jawab Cia dengan tersenyum.
Mason mengecup kening Leticia. " Nak, kamu tidak kasihan anak-anakmu? Lihat, suamimu dia tidak berdaya di lantai itu." ujar Mason dengan menunjuk Alfonso dan keempat cucunya.
Leticia tersenyum." Cia akan jaga mereka dari sana." timpal Cia.
"Sayang...kamu enggak mau peluk aku?" panggil Leticia pada Alfonso.
Felisia dan Mason memberi ruang pada Alfonso. Alfonso segera berdiri dan duduk di tepi ranjang. Tangannya langsung memeluk Leticia. Berulang kali Alfonso mencium bibir Leticia dan kening.
"Maafkan aku sayang.!" ucap Alfonso.
"Sayang, Terima kasih ya. aku titip keempat anak kita. semua tentang kita sudah ada didalam laci lemari." jawab Leticia tersenyum, suaranya semakin hilang.
Perlahan tangannya jatuh dari pelukan Alfonso. dan melepas pelukan anak-anaknya. kepalanya pun menunduk. hanya air mata yang masih menetes dipipinya.
Melihat Leticia sudah menghembuskan napas terakhirnya. Alfonso berteriak dengan berlinag air mata.
"Leticia...!" Alfonso menangis. tangannya meletakkan leticia diranjang.
Lalu, dengan cepat Alfonso merebut pistol dari tangan Mason. Alfonso berlari ke arah Balkon kamar.
"Dorr..." Alfonso melepas satu tembakan ke atas langit. Lalu terjatuh di lantai balkon pistolnya terlepas dari tangan Alfonso.
Anak anak histeris mereka belum mengerti kemana Mommy mereka pergi, Yang mereka tau saat ini hati mereka begitu sakit.
" Mommy... bangun! Oma, Mommy kenapa?" teriak Alonzo yang begitu dekat dengan Leticia.
Felisia tidak mampu menjawab. tangannya merangkul keempat cucunya.
Mason mengangkat tubuh Cia dan membaringkan dengan benar diatas ranjang.
Mendengar suara tembakan dari depan balkon kamar Alfonso. Para menjaga berlari dengan siaga ke kamar Alfonso. begitu juga dengan para pelayan mer3ka ketakutan berdiri dilorong kamar majikan mereka.
Namun, tidak ada yang berani membuka pintu kamar Alfonso, mereka hanya bisa mendengar suara tangisan dari balik pintu kamar Alfonso.
*****
__ADS_1
Bisa dong saya minta like dan komen!!!
Terima kasih jika ada yang mau like dan komen!.