
Sidang perceraianku yang tak kunjung usai di tambah ulah dari mas Ringgo, benar-benar membuatku lelah lahir batin, Afriana putriku satu-satunya yang membuatku bisa bertahan sampai sekarang, bila mengingat ulah mas Ringgo aku hanya bisa menangis dalam hati, bagaimana tidak sekuat apapun usahaku dalam mempertahankan rumah tanggaku semua terasa sia-sia saja. Aku mengeluarkan surat tuntutan dari mas Ringgo, aku baca sekilas, aku benar-benar tidak menyangka jika mas Ringgo mencantumkan tuntutan harta gono gini dalam surat tuntutannya, rumah tanggaku hancur hanya karena harta.
Aku pulang kerja seperti biasa di jemput bapak, begitu sampai depan rumahku pandangi rumahku yang baru berdiri tegak payung, masih berlantai tanah, batu bata merah, jendela dan pintu pun masih menggunakan triplek, dengan senyum sinis batinku berkata" Kalau harta yang di jadikan ukuran dalam rumah tangga, ya beginilah."
Hatiku sangat lelah, aku tidak langsung mandi aku letakkan tas ku di atas meja, aku duduk di kursi ruang tengah, rumahku sangat sepi, setiap hari hanya aku yang menempati karena anakku lebih sering berada di rumah orang tuaku, apa lagi sejak mas Ringgo menggangguku dan Afriana, anakku tidak boleh tidur di rumahku.
"Kamu, pasti bisa Fah." batinku untuk menyemangati diriku sendiri.
Aku bangkit dari duduk, aku segera membersihkan diri, aku lakukan aktifitasku seperti biasa, malam ini aku putuskan untuk tidur di rumah orang tuaku, aku tidur bertiga dengan Afriana dan ibukku.
Ketika Afriana sudah terlelap dan terbuai oleh mimpinya aku pandangi wajah anakku, wajah Afriana yang polos dan di usianya yang masih kecil harus menghadapi situasi perceraian kedua orang tuanya, ku seka airmataku yang dengan sendirinya mengalir membasahi pipiku.
"Fah, sabar kamu pasti bisa!" nasehat ibukku yang entah sejak kapan masuk ke kamar.
"Buk!"
Langsung aku memeluk ibukku dan pecahlah tangisku.
__ADS_1
"Kita ke kamar sebelah jangan sampai anakmu bangun." ajak ibukku.
Ibukku membimbingku untuk bangun, dan kami berdua menuju kamar sebelah, di sana sudah ada bapak yang baru saja menutup Al-Quran nya.
"Istiqfar, Fah." nasehat bapak begitu melihatku.
Aku duduk di ranjang dalam pelukan ibukku, sedang bapak tetap pada posisinya duduk di kursi.
"Buk, Pak, begitu jahatkah aku?" aduku dengan suara yang sudah serak di antara deraian air mataku "Tidak pernah sedikitpun terpikir oleh ku, jika rumah tanggaku akan hancur seperti ini, sepuluh tahun aku berusaha bersabar, bertahan, ikhlas, namun apa yang terjadi sekarang pak, Buk, maafkan aku buk pak, telah mencoreng nama baik keluarga."
Aku dan ibukku mengikuti instruksi bapak, bapakku memimpin doa dan dzikir, kami bertiga dzikir dengan khusuk hingga satu jam, setelah aku tenang bapak menyuruhku dan ibukku untuk tidur.
Di pagi hari ketika semua orang sudah berangkat meninggalkan rumah, dan di rumah hanya ada aku dan bapakku, aku sodorkan surat tuntutan dari mas Ringgo ke bapak. Bapak menerima dan langsung membacanya " Itu sebabnya aku belum menghibahkan tanah ini atas namamu, Fah." ucap bapak ketika selesai membaca surat tuntutan dari mas Ringgo " Kamu harus tetap tenang, bapak yakin Ringgo tidak akan menang, karena tanahnya masih atas namaku."
"Apa rencanamu selanjutnya, Fah?" tanya ibukku dengan wajah yang sangat cemas.
"Aku akan mengeluarkan semua bukti-bukti, Buk termasuk slip gaji serta aku akan meminta surat keterangan yang berlegalisir ke perusahaan jika aku memang benar-benar bekerja di Pt Cakra lima selama sekian tahun, dan aku juga akan mengeluarkan bukti utangku di koperasi serta kemarin bukti tentang sepeda motor yang sudah di gadaikan oleh mas Ringgo." terangku berusaha tegar.
__ADS_1
"Lakukan, Fah, untuk di jadikan saksi siapa yang akan kamu pilih, selain aku?" tanya bapak.
"Pengadilan minta kerabat dan tetangga pak, bagaimana, sebenarnya aku tidak ingin tetangga tahu akan masalahku yang begitu rumit ini pak!" keluhku.
"Kamu, minta bantuan mbak Yah saja, Fah, seburuk apapun Ringgo, dia tetap ayah dari anakmu, Fah, sebisa mungkin jangan umbar aibnya, biarlah Allah yang membalasnya." nasehat ibukku.
"Inggih, Buk besok sabtu aku kerumah mas Jamal, untuk minta bantuan mbak Yah." jawabku.
Karena hari sudah agak siang aku berangkat ke kantor dengan di antar oleh bapak, hari ini aku sampai kantor tepat waktu, seperti biasa.
"Mbak, Fah nanti siang kita ada meting dengan investor kan?" tanya pak Catur yang sudah berada di depan meja kerjaku.
"Iya, pak, semua berkas juga sudah siap, kita harus berangkat ke hotel jam satu siang, jangan sampai telat." jelasku sopan.
"Apa, mbak ada kendala lainnya?" tanya pak Catur.
"Inshaallah semua bisa terkendali pak." jawabku dengan seulas senyum.
__ADS_1