TALAK

TALAK
Part 77 TALAK


__ADS_3

Sore yang sangat menyenangkan bagiku di saat aku dalam keadaan yang tidak stabil, keluarga besarku sangat mendukungku, aku bergabung dengan keluargaku duduk di teras rumah orang tuaku padahal aku masih pakai baju kerja dan belum ganti. Bercengkerama dan bersendau gurau tetap menjadi aktifas favorit keluarga kami supaya tidak terlalu setres dalam menjalani kehidupan.


Satu panci buah yang sudah di kupas, berupa buah mangga, buah bengkoang, buah mentimun serta buah pepaya yang tidak terlalu matang siap di santap dengan bumbu rujak lotek yang tidak begitu pedas serta es teh juga sudah tersaji satu teko besar.


"Fah, kamu belum makan nasi jangan makam rujak dulu nanti perutmu sakit." nasehat ibukku.


"Jangan di habisin ya!" seruku langsung masuk ke dapur ibuku mengambil nasi sama gurami dan aku ikut berkumpul di teras rumah ibuku.


Kami asyik dengan aktifitas kami, makan rujak buah bersama sebuah kesempatan yang jarang ada, di tambah kami juga sedang mengandakan video call dengan mbah Us, hanya mbak Uas yang tinggalnya agka jauh di luar kota jadi jarang sekali bisa berkumpul paling hanya saling video call untuk mengetahui kaedaam dan kabar masing-masing.


Sebuah mobil yang sudah tidak asing bagiku masuk ke halaman rumah orang tuaku, tidak lama turun sang pemilik mobil yang juga masih memakai pakian tadi pagi, namun kali ini pak Catur tidak datang sendiri melainkan dengan bu Priska. Jujur aku sangat terkejut saat melihat mereka berdua turun, dan ternyata bukan aku saja yang terkejut seluruh keluarga ku yang sedang asyik makan rujak juga ikut terkejut serta keheranan.


"Mbak, bos mu datang tuh, makanya jangan bolos terus!" bisik Fauzan sambil mengunyah rujak.


"Bosmu itu ikhlas gak sih Fah ngasih kamu cuti." bisik mas Jamal.


"Nggak tahu, aku masuk dulu mau cuci tangan." ucapku langsung berdiri dan masuk ke rumah orang tuaku.


"Dah ringkesin ada tamu, jangan eyel-eyelan!" perintah ibuku.


Dengan ramah semua keluargaku menyambut kedatangan bu Priska dan Pak Catur. Biar di dalam dapur aku tetap masih mendengar percakapan mereka yang ada di luar.


"Assalamu'alaikum." sapa Pak Catur dan bu Priska bersamaan.


"Wa'alaikum salam, Silahkan duduk dan silahkan masuk bu, pak, maaf rumahnya berantakan, kebetulan menantu saya lagi nyidam pingin makan rujak di teras jadi kami menemaninya." ucap ibuku sopan.


"Tidak, apa bu, jam segini malam rujak memang segar bu." kawan bu Priska sopan.

__ADS_1


"Silahkan duduk." ucap bapakku.


"Terima kasih." jawab pak Catur dan bu Priska sopan.


Aku kembali ke ruang tamu setelah selesai mencuci tangan untuk menemui mereka berdua dan juga masih dengan baju yang tadi pagi aku pakai.


"Selamat sore bu selamat sore Pak." sapaku.


"Bagaimana kesehatan mbak Fah, tadi katanya mbak kurang sehat?" tanya bu Priska sambil melirik ke arah pak Catur yang terus memandangiku.


"Alhamdulillah, sekarang sudah lebih segar bu setelah beberapa jam tidur cuma masih ngantuk saja." jawabku jujur.


"Mbak Fah, tadi tidur beneran apa nggak kok tetap pakai baju kerja gak ganti?" tanya pak Catur penasaran.


Aku yang mendengar pertanyaan dari Pak Catur hanya cengar cengir saja.


"Mungkin dia terlalu ngantuk pak sehingga tidak sempat ganti baju masuk rumahnya saja juga belum dari pagi ya di sini saja, ini Afifah juga baru bangun." jawab ibuku apa adanya.


"Alhamdulillah, lancar, Fah, tapi ya cuma.... " ucap bu Priska sedikit menggantung.


"Ada masalah bu?" potongku karena bu Priska tidak melanjutkan ucapannya.


"Cuma, Bosmu yang gelisah terus sedikit gak konsen." bisik bu Priska sambil melirik ke arah pak Catur.


"Mbak Priska ....!" seru pak Catur.


"Pak Catur bu Priska mau rujak?" ucapku menawarkan pada mereka berdua.

__ADS_1


"Boleh juga." jawab bu Priska antusias.


"Baik saya ambilkan di belakang, kebetulan tadi ibu bikinnya juga banyak." uacpkku.


"Terima kasih, Fah." ucap bu Priska senang.


Aku segera masuk ke dalam rumah orang tuaku dan mengambil buah dari kulkas yang sudah di potong dan juga bumbunya.


Satu nampan kecil penuh dengan buah dan juga bumbu sudah aku hidangkan di meja ruang tamu siap untuk di santap, sedang bapak dan ibuku serta saudaraku lainnya pindah tempat di belakang rumah untuk melanjutkan makan rujak.


"Silahkan, maaf rumahnya berantakan, ya seperti ink jika kita sedang berkumpul." ucapku sopan.


"Asyik lo, Fah, makan rujak jam segini apalagi di teras bawah pohon." ucap bu Priska yang sudah mulai makan rujak buah.


"Meraka pindah kemana mbak?" tanya pak Catur padaku.


"Mereka pindah di belakang rumah, soalnya kita kalau berkumpul pasti rame, ada tamu ya sungkan kalau mau bertengkar atau kadang kita rebutan sesuatu, kita kadang sudah seperti anak kecil saja, " jelasku apa adanya " Oh ya maaf pak Catur bu Priska, kira-kira ada keperluan apa ya, sampai-sampai bapak dan ibu sudi datang menemui saya, apa ada pekerjaan saya yang salah?" tanyaku penasaran.


"Begini, Fah, tadi pagi adiku ini bilang kalau kamu sakit, dan harus istirahat total dan dia itu sampai tidak bisa konsentrasi saat di kantor dan juga saat meting, dari pada nanti malam dia tidak bisa tidur, makanya habis dari pt citra ya aku ajak saja kesini untuk memastikan keadaanmu,Fah." ucap bu Priska.


Sedang pak Catur yang mendengar penjelasan dari bu Priska tidak menjawab tetap enak-enakan makan rujak buah.


"Sidangmu bagaimana, Fah?" tanya bu Priska padaku.


"Belum tahu bu kalau lancar dua kali sidang lagi juga sudah selesai, kalau gak lancar ya gak tahu juga tergantung masalahnya dipersukir apa tidak." jawabku jujur.


"Semoga segera selesai, Fah, dan semoga kamu segera mendapatkan jodoh yang sangat mencintaimu lillahi ta'alla." ucap bu Priska bijak.

__ADS_1


"Terima kasih bu, atas doanya semoga di ijabah oleh Allah SWT,aamiin." jawabku.


"Aamiin yarobbal'alamin." jawab pak Catur dan bu Priska bersamaan.


__ADS_2