
Senja begitu indahnya, sibuknya lalu lalang manusia untuk kembali ke peraduannya setelah seharian bekerja untuk menghidupi keluarga. Madiun sebuah kota kecil namun dalam perekonomian sangat berpotensi tinggi, terbukti dengan berdirinya beberapa mall besar, tatanan keindahan kota yang semakin cantik.
Hari demi hari aku lewati dengan sejuta kesibukanku sebagai seorang sekretaris di pt Cakra lima, sebuah perusahaan rokok yang memiliki cabang di kota Madiun.
Akhir pekan kali ini Aku habiskan untuk bersama anakku Afriana, aku ajak Afriana untuk bermain di rumah mas Jamal sekalian aku mau minta tolong ke mbak Yah, istrinya mas Jamal supaya mau menjadi saksi sidang perceraianku nanti, alhamdulillah mbak Yah menyanggupinya untuk jadi saksi sidangku. Sidang perceraianku mungkin tinggal sekali lagi, jika semuanya lancar maka selesailah sidangku dan aku bisa fokus dalam pekerjaan dan juga fokus dengan Afriana.
Afriana sangat senang sekali aku ajak ke rumah mas Jamal, begitu sampai di rumah mas Jamal, Afriana langsung menghambur hilang entah kemana bersama Zahra anak kedua mas Jamal.
"Mas, minggu depan setelah selesai sidang tolong renovasikan rumahku mas." pintaku pada mas Jamal yang duduk di teras.
"Minggu depan pas, aku juga sudah longgar, kamu mau minta renovasi seperti apa, Fah ?"tanya mas Jamal padaku.
"Yang penting, di plester sama pasang keramik juga pasang jendela dan pintu, tapi aku gak tahu di mana mebel yang bagus untuk pesan pintu dan jendela." keluhku pada mas Jamal.
"Kamu minta model seperti apa biar aku pesankan, untuk keramik minta yang seperti apa dan warna apa minta yang harga berapa ukuran berapa?" tanya mas Jamal padaku.
"Njlimet amat sih mas." gerutuku
__ADS_1
"Ya memang njlimet, kamu cek di Google kamu minta seperti apa?" perintah mas Jamal padaku.
Tanpa menjawab aku langsung masuk ke pencarian, aku mencari motif, warna serta ukuran yang pas dengan jumlah dana yang aku miliki. Akhirnya aku menemukan beberapa warna motif dan ukuran keramik yang sesuai dengan kepinginanku, aku langsung konsultasi pada mas Jamal, mas Jamal langsung menyanggupinya.
Seharian aku dan Afriana menghabiskan mingguku di rumah mas Jamal, Afriana dan Zahra bermain bersama, mereka juga saling memamerkan apa yang mereka miliki atau apa yang mereka lakukan.
"Mas, mbak aku pulang dulu terima kasih." pamitku pada mas Jamal dan mbak Yah.
"Hati-hati, Fah." sahut mas Jamal dan mbak Yah bersamaan.
"Mbak, Zahra aku pulang dulu ya, nanti kalau aku dapat hadiah dari bosnya ibukku aku kasih!" seru Afriana girang sambil memamerkan giginya.
"Memang kamu mau di kasih hadiah apa Af?" tanya mbak Yah penasaran.
"Nggak tahu bupuh." jawab Afriana polos.
Kami bertiga hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua bocah yang seumuran itu.
__ADS_1
"Kalau gak di kasih bagaimana, Af." tanyaku.
"Kalau gak di kasih ya mbak Zahra nggak aku kasih, kan hadiahnya gak ada." ucap Afriana polos tanpa dosa.
"Begini saja kalau kalian berdua hafal juz amma surat an naba, pakpuh kasih hadiah ayam goreng krispi pakpuh ajak kalian main di plaza lawu bagaimana?" tawar mas Jamal pada Afriana dan Zahra.
"Aku, mau pak." jawab Zahra antusias.
"Aku juga mau pakpuh!" Afriana juga tak kalah antusias.
"Seminggu harus hafal ya, kalau gak hafal hadiahnya gak jadi, tapi kalau di plaza lawu gak boleh jajan banyak-banyak, pakpuh kan uangnya gak banyak." ujar mas Jamal lembut.
"Yeahhh... Tos, Af yang penting kita bisa main di palza lawu!" seru Zahra tambah girang.
"Ya udah, ayo Af, sudah sore nanti keburu gelap, pamit dari tadi malah gak pulang-pulang, kalian ini." ucapku gemas sambil geleng-geleng kepala.
"Namanya juga bocah, Fah, Zahra kalau sudah di rumahmu juga gak mau pulang." ujar mbak Yah menimpali.
__ADS_1
Akirnya bisa pulang setelah perjuangan alot untuk memisahkan kedua bocah yang selalu lengket bila bersama. Selalu pergi berdua dengan Afriana sudah tidak asing buatku, karena dari dulu biar ada mas Ringgo, mas Ringgo juga tidak mau untuk pergi bersama kami. Mas Ringgo hanya mau pergi bertiga jika pergi ke rumah orang tua dan kerabat mas Ringgo saja, itupun masih pilih-pilih.
Untuk urusan saksi sudah beres tinggal menulis jawaban dan mengumpulkan bukti yang kuat dan akurat untuk melawan tuntutan dari mas Ringgo.