TALAK

TALAK
Part 271 TALAK.


__ADS_3

"Kenapa ayah merahasiakan dari kita?" tanya Afriana, sebuah pertanyaan yang tidak pernah aku duga.


"Ayah hanya memegang amanah dari bapakmu Af, jadi ayah rasa Afriana sekarang tidak perlu takut lagi dengan bapak, bapak Ringgo sebenarnya orang yang baik namun hanya karena pengaruh dari temannya sehingga dia khilaf, ayah tidak menyuruh Afriana untuk berdamai sekarang dengan bapak Afriana, ayah hanya mengingatkan jika bapak Ringgo sangat menyayangi Afriana," nasehat pak Catur pelan.


"Entahlah Yah, Buk, Afri belum bisa berpikir," jawab Afriana masih bimbang.


"Ibuk, pesan jangan jadikan ini sebagai beban, tetaplah belajar dengan baik, fokus pada tujuan Afri," nasehatku lembut.


"Benar kata ibuk, bapak Ringgo paham akan semua ini, lusa sebelum Afriana berangkat ke pondok alangkah baiknya Afriana pamit dan minta doa restu pada bapak Afri ya, bapak Afri juga tidak akan lama di sini bapak Afri mungkin hanya satu bulan dan setelah itu dia kembali mengabdi di pesantren lagi." nasehat pak Catur.


"Dengan siapa? Afri tidak mau kesana sendiri." ucap Afriana.


"Ayah, yang ngantar, Afri jangan khawatir, sekarang sudah malam beristirahatlah," perintah pak Catur.


"Buk, kelon," pinta Afriana manja.


"Sudah perawan masih minta kelon," ejek pak Catur.


"Biarin, kan gak tiap hari saja," jawab Afriana memeluk erat tubuhku.


"La terus adik sama ayah bagaimana?" goda pak Catur lagi.


"Malam ini ibuk punya Afriana, ayah yang ngeloni adik," ujar Afriana.


"Iya, ayah ngalah deh," ucap Pak Catur.


"Ya harus ngalah dong." ucap Afriana lagi.


"Sekarang kira tidur," ucapku.


Aku menuju kamar tempat Afriana, aku tidurkan Afriana dulu seperti biasa jika dia ada di rumah, setelah aku pastikan Afriana tertidur aku tinggalkan dia tidur sendirian, karena tidak mungkin dia tidur satu kamar dengan kami.


"Ayah, belum tidur sudah malam," ucapku saat masuk kamar ternyata pak Catur masih terjaga.


"Nunggu Dinda, bagaimana Afri, sudah tidur?" tanya pak Catur padaku.

__ADS_1


"Sudah," jawabku.


"Syukurlah," jawab pak Catur.


"Kenapa sepertinya ada yang mengganjal di hati ayah?" tanyaku karena pak Catur seperti menyimpan sesuatu.


"Tidak, kita tidur saja sudah malam." perintah pak Catur padaku.


Tidur menjadi pilihan kita, lelah dan penat sudah mendominasi tubuhku.


Pagi-pagi sekali kami sudah bersiap untuk kembali kerumah karena pak Catur juga harus segera pergi ke kantor untuk bekerja, Fauzan pulang sendiri naik sepeda motor sedang Nafisa ikut satu mobil denganku karena anak Nafisa masih ingin bermain dengan anak-anakku.


"Alhamdulillah, sampai rumah lagi." seru kami semua.


Suster sudah menunggu kami di halaman rumah untuk menjemput anak-anak.


"Mbak tolong mandikan Afwa, Afwi dan Abidah tadi belum pada mandi, Alifa biar aku mandikan sendiri." perintahku pada para susterku.


"Baik buk," jawab susterku.


Afriana sudah hilang entah kemana bersama Nafisa dan anaknya, sedangkan pak Catur segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor.


"Iya mbak Qib, setalah ini aku kesana." jawabku.


Aku segera menuju ke kamar aku mandikan Alifa dulu sebelum aku pergi ke panti.


"Bunda, ayah berangkat dulu," pamit pak Catur yang sudah rapi.


"Hati-hati ayah," sahutku, tidak lupa mencium tangan dan mengantar pal Catur sampai teras.


Akhirnya pagi ini kami semua sedikit terburu-buru, orang yang berada di rumahku semua beraktifitas sesuai dengan tugasnya masing-masing. Selesai mengurus anak-anak dan memastikan anak-anak dalsm keadaan bersih dan terawat aku dengan diantar sopir ditemani oleh Alifa dan satu susterku menuju sebuah panti asuhan yang aku kelola, mbak Inayah kini dia aku percayakan untuk menjadi tangan kananku dalam mengurus panti asuhan, sedangkan mbak Romlah aku percaya menjadi tangan kananku di panti singgah untuk para lansia yang terlantar. Begitu sampai di panti asuhan aku segera menuju di salah satu ruanganan yang tadi sudah di tunjukkan oleh salah satu pengurus.


"Assalamu'alaikum, mbak Na!" sapaku begitu aku masuk ke ruangan tersebut.


"Wa'alaikum salam, Buk, alhamdulillah ibuk sudah datang." Mbak Inayah merasa lega.

__ADS_1


"Ada masalah apa mbak?" tanyaku masih tenang.


"Begini buk ini ada bayi baru masuk kemarin, kemarin kami menemukannya di depan panti dan ada surat dari sang pelaku, suratnya saya simpan." jawab mbak Inayah.


"Mbak sudah cek CCTV depan siapa yang meletakan bayi ini?" tanyaku.


"Sudah buk, dari CCTV kami melihat sepasang remaja yang meletakan bayi ini," jawab mbak Inayah jujur.


"Astaqfirullah hal'adzim," seruku.


Seorang bayi laki-laki yang baru berumur seminggu, dia sangat lucu sekali.


"Mbak sudah periksa keadaannya?" tanyaku.


"Sudah buk, alhamdulillah sehat," jawab mbak Inayah.


"Syukurlah,"


Kini aku tatap bayi yang baru berumur tujuh hari itu, ya ini bukan yang pertama kalinya kami menemukan bayi di depan panti asuhan kami, karena kami memasang CCTV jadi banyak yang kelacak, setelah terlacak kami meminta surat pernyataan pada orang tersebut bahwa mereka benar-benar menyerahkan anaknya pada panti asuhan kami. Tujuan kami melacak pelaku bukan untuk mempermalukan ataupun meminta pertanggung jawaban sang pelaku, kami hanya meminta identitas yang jelas agar suatu saat nanti anak tetap bisa mencari orang tuanya melalui data yang kami simpan, tujuan saya meminimalisir perkawinan sedarah, sejujurnya says takut akan hal itu.


"Mbak, apa sudah ketemu pelakunya?" tanyaku lagi.


"Belum buk, karena dari plat sepeda motornya bukan dari kota ini, dan mereka semua memakai masker jadi sama sekali tidak terlihat wajah pelaku, dan mereka juga memakai sarung tangan, ini ada surat pelaku." jelas mbak Inayah panjang lebar.


Aku mengambil surat dari tangan mbak Inayah, aku membaca surat tersebut, di dalam surat tersebut tercantum identitas nama sang bayi dan juga nama orang tua si bayi, hanya alamat yang tidak tertulis.


"Masyaallah, mbak Na, untuk keperluan bayi bagaimana?" tanyaku, karena di dalam pantiku ada tiga balita, dan ini yan paling kecil.


"Alhamdulillah masih bisa teratasi, cuma anak ini alergi susu sapi formula buk, dan kemarin juga ada satu box susu bersama bayi, dan susunya hanya cukup untuk sampai besok." jelas mbak Inayah.


"Tetap berikan yang terbaik untuk anak-anak mbak, jangan sampai anak-anak kekurangan. " perintahku pada mbak Inayah.


"Baik, Buk jadi kita harus punya stok susu bayi formula kedalai banyak." jelas mbak Inayah.


"Sudah telpon ke toko langganan kita?" tanyaku.

__ADS_1


"Sudah buk cuma saya belum berani pesan banyak, menunggu konfirmasi dari ibuk, oh ya buk dik Afri katanya pulang apa dia gak iku kesini?" tanya mbak Inayah.


"Pulang tapi cuma sebentar, lusa sudah kembali ke pondok lagi." sahutku.


__ADS_2