TALAK

TALAK
Part 78 TALAK


__ADS_3

"Mbak, Fah, besok sudah bisa masuk kerja apa belum?" tanya pak Catur padaku.


"Inshaallah sudah pak." jawabku sopan.


"Terima kasih rujaknya, Fah, Ton, ayo pulang sudah sore, kasihan Afifah biar istirahat." pamit bu Priska.


"Kami pamit dulu mbak, tolong panggilkan bapak sama ibuk mu, kami mau pamit." pamit pak Catur.


Aku memanggil kedua orang tuaku yang, tidak berapa lama kedua orang tuaku sudah muncul di ruang tamu. Pak Catur dan bu Priska segera berpamitan kepada kedua orang tuaku, setelah berpamitan dengan kedua orang tuaku dan adiku mereka berdua langsung meninggalkan rumah orang tuaku.


Sepeninggalan pak Catur dan bu Priska aku segera merapikan meja dan juga membersihkan diri, sehabis magrib aku duduk di rumahku sendiri membuka laptop untuk mengecek email dan juga pekerjaan dari kantor takutnya ada hal baru yang harus aku kerjakan. Afriana ikut ibuku di mushola dan sekalian rutin an yasinan yang di adakan oleh ibu-ibu di kampung.


"Assalamu'alaikum, mbak, Fah, kerja terus mbok ya istirahat, nanti ikut yasinan gak?" ucap Nafisa yang sudah duduk di sebelahku.


"Wa'alaikum salam, Naf, aku masih udzur, Naf, jadi tidak hadir, sekalian mau istirahat capek, Naf." ucap ku sbil terus mengopersikan laptop.


"Mbak, aku rasa bosmu itu.... " ucap Nafisa terhenti.


"Aku, rasa apa, Naf?" tanyaku.

__ADS_1


"Aku rasa dia itu suka sama kamu lho mbak..., coba lihat saja dari matanya dia memandang mbak... , memperlakukan mbak, ehmmmm kaya orang lagi jatuh cinta gitu." ucap Nafisa


"Kamu itu ngomong apa to Naf, dia itu hanya sebatas atasanku saja Naf, gak lebih." jawabku santai, toh selama ini memang aku menganggap pak Catur hanya sebatas atasan saja, walau aku tahu tentang perhatian pak Catur selama ini terhadapku tidak seperti sekretaris dan manager.


"Kalau, iya?" tebak Nafisa.


"Mana mungkin, Naf, aku ini siapa?, lagian pak Catur banyak teman ataupun kenalan bisnis yang sangat cocok dan sejajar dengannya, aku hanya seorang sekretaris dan juga orang tua tunggal, yang tidak mungkin bisa masuk dalam keluarga Cakra, Naf, Naf." ucapku.


"Siapa bilang tidak mungkin, mbak?, mbak Fah, saja yang tidak peka, aku dengar sendiri lho tadi waktu bu Priska bilang kalau pak Catur itu sampai gak konsen kerja, hanya gara-gara sang sekretaris kesayangannya tidak masuk kerja karena ngantuk!" ucap Nafisa yang mulai menggodaku.


"Naf, kamu salah dengar kali." kilahku.


"Hayooooo... Mbak Fah, cepetan ngaku, sebenarnya mbak Fah merasa-kan kalau pak Catur itu naruh hati pada mbak!" ucap Nafisa tambah semakin gencar menggodaku .


"Iya, sebenarnya aku juga merasa, cuma.... " ucapku menggantung.


"Cuma kenapa, mbak?" tanya Nafisa tambah antusias.


"Cuma gak yakin saja, Naf, aku juga sadar siapa aku ini." kilahku sambil menutup laptopku.

__ADS_1


"Hmmm... Kadang aku tuh heran lho mbak, padahal seperti bapak mas Jamal, mas Fauzan mereka itu lelaki yang sangat sayang keluarga dan bertanggung jawab pada keluarganya, tapi kenapa justru mbak Fah mendapat suami macam, si Ringgo gendeng!" keluh Nafisa kesal.


"Semua, sudah takdir Illahi Naf, kita tinggal menjalaninya." ucapku berusaha tenang.


Aku dan Nafisa sudah seperti saudara kandung, kita berdua saling curhat tidak ada yang di tutup-tutupi, bahkan banyak orang mengira aku dan Nafisa itu saudara kandung. Di saat aku dan Nafisa asyik ngobrol tiba-tiba hp ku berdering.


"Siapa mbak?" tanya Nafisa curiga.


"Lihat!" ucapku sambil menunjukan layar hp yang belum aku geser.


"Cepetan angkat mbak." goda Nafisa lagi sambil senyum-senyum.


"Malas, Naf, biar saja paling nanti juga kirim pesan!" ucapku dan meletakan hp ku lagi.


"Mbak, menurutku bos nya mbak itu cocok lo buat Afriana." ucap Nafisa terus menggodaku


"Naf, hati-hati kalau ngomong !" sergah ku.


"Dah, mbak aku mau pulang, silahkan telpon balik calon kakak iparku." ucap Nafisa dan langsung pergi dari rumahku.

__ADS_1


"Dasar!"


Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Nafisa, yang kadang seperti anak kecil, kalau sudah menggoda orang pasti sampai bikin orang kesal. Aku kembali melanjutkan lagi mengecek pekerjaan di layar laptopku, sambil menunggu Afriana pulang. Deringan telponku terus menerus tiada henti seolah sang pemanggil seperti seorang depcolektor yang sedang menagih hutang saja, Akhirnya dengan sedikit malas aku angkat juga panggilan dari pak Catur setelah berdering lebih dari lima kali.


__ADS_2