
Sesuai rencana setelah istirahat sebentar di rumah aku dan mbak Priska menuju panti asuhan yang aku kekola, tidak lupa aku ajak anakku Alifa karena aku harus mengerjakan pembukuan panti, serta mau ngecek stock keperluan panti, dan aku akan pulang sore, aku, mbak Priska, serta suster dan anakku Alifa dengan diantar sopir kami segera menuju panti asuhan.
Di dalam perjalanan aku sudah menginfokan jika aku mau datang dan mbak Priska may melihat anak-anak panti. Begitu sampai di panti asuhan kami langsung disambut oleh para penghuni panti, anak-anak yang melihat kami mereka langsung menyalami kami dengan hormat dan menggelayut manja. Aku dan mbak Priska menyambut mereka dengan perasaan bahagia, setelah menyapa anak-anak sebentar kami menuju tempat khusus buat bayi yang di bawah usia satu tahun, mbak Priska sangat antusias saat melihat para bayi yang sedang berada di tempatnya. Untuk perawatan bayi panti kami menggunakan suster yang sudah professional, sehingga mereka tetap terjaga kesehatannya para bayi tidak ada yang kekurangan dalam segala hal.
Aku membiarkan mbak Priska dengan para bayi dengan didampingi oleh suster panti dan juga Alifa serta suster pribadiku, aku tinggalkan mereka dan aku menuju ruanganku di sana aku mulai mengecek tentang perputaran keuangan panti. Selama ini alhamdulillah tidak ada masalah yang berarti dan semua bisa diajak kerja sama bahkan para dobatur semakin bertambah.
"Assalamu'alaikum, Fah," Mbak Priska masuk ke dalam ruanganku.
"Wa'alaikum salam mbak." jawabku langsung aku hentikan pekerjaanku.
"Fah, boleh aku adopsi bayi yang baru itu?" tanya mbak Priska padaku.
"Alhamdulillah, tentu boleh mbak, mas Anam bagaimana?" tanyaku.
"Mas Anam sekarang dalam perjalanan ke sini, tadi Aku sudah ngobrol dengan mas Anam." sahut mbak Priska senang.
"Kalau begitu bisa segera diproses jika mas Anam dan mbak Priska sama-sama setuju." ucapku.
"Padahal anak-anak mama tidak ada yang ngikuti jejak mama, alhamdulillah ketemu menantu ada yang ngikuti jejak mama, aku bangga padanu Fah, aku benar-benar salut padahal mengurus panti dibutuhkan, kesabaran, keikhlasan dan jiwa yang besar." ucap mbak Priska memujiku penuh kekaguman.
"Hidup cuma sekali mbak, alhamdulillah saya diberi nikmat yang berlimpah oleh Allah SWT, jadi sudah sepatutnya saya bersyukur dengan cara berbagi dengan mereka yang membutuhkan mbak." ucapku dengan senyum ramah.
"Aku benar-benar bersyukur Fah, memiliki adik sepertimu, betapa beruntungnya Tono, memiliki istri yang sholehah, pabrik Cakra bisa berjaya karena mama dan papa sejalan seperti kamu dan Tono." Mbak Priska terus memujiku dengan senyum penuh kebanggaan.
__ADS_1
"Jangan terus memujiku mbak, saya bisa seperti ini berkat dukungan semua keluarga, tanpa dukungan dari kalian semua saya tidak bisa apa-apa, dan kalau saya tidak masuk di dalam keluarga Cakra tidak mungkin saya bisa seperti sekarang ini mbak, mbak tahu sendirikan siapa saya dan dari mana saya berasal, berkat keluarga Cakra yang menerima saya dengan sepenuh hati, dan semua ini semata-mata hanya titipan dari Allah mbak, maaf mbak bukan maksudku untuk menggurui mbak," pungkasku.
"Terus terang Fah, aku harus belajar banyak dari kamu," ungkap mbak Priska.
"Kita itu sudah impas lo mbak, mbak yang bekerja untuk Cakra aku yang mengelola untuk meneruskan amal keluarga Cakra," ucapku.
"Ya, ya kamu bener Fah, makanya seperti yang aku bilang tadi kamu dan Tono itu ibarat mama dan papa, jalan pikirannya." jelas mbak Priska "Sah sejarang tolong jelaskan prosedur untuk mengadopsi anak." pinta mbak Priska sudah tidak sabar.
Aku dan mbak Priska membicarakan tentang cara adopsi bayi sambil menunggu mas Anam datang. Aku juga menyerahkan dokumen tentang aturan dan syarat untuk mengadopsi anak, mbak Priska langsung membacanya dengan teliti, jika dia tidak paham mbak Priska langsung bertanya denganku dan aku pasti menjelaskannya dengan gamblang.
Tok Tok Tok.
"Assalamu'alaikum buk, pak Anam sudah sampai," lapor salah satu susterku.
"Wa'alaikum salam, baik persilakan pak Anam untuk masuk ke ruangan saya." perintahku.
"Assalamu'alaikum," Mas Anam sudah berada di ambang pintu.
"Wa'alaikum salam, silakan masuk mas," sahutku dan mbka Priska.
"Terima kasih," sahut mas Anam.
"Pantinya semakin bagus saja Fah?" puji mas Anam kagum.
__ADS_1
"Alhamdulillah mas semua berkat kepercayaan para donatur pada panti kami, sehingga kami bisa merawat anak-anak dengan baik dan bisa memfasilitasi seluruh penghuni panti dengan baik pula." ucapku dengan senyum ramah.
"Tadi Aku melihat bayinya sangat lucu dan menggemaskan, waktu aku gendong dia langsung tertidur tenang, pertama melihatnya aku langsung suka pah." pamer mbak Priska pada mas Anam.
"Syukurlah, mama sudah siap untuk mengadopsinya?" tanya mas Anam untuk meyakinkan.
"Inshaallah, siap pah, jangan khawatir sekarang sudah siap lahir batin." jawab mbak Priska yakin.
"Kalau begitu sekarang kita lihat dulu bayinya, biar mas Anam juga tahu," ajakku pada mereka.
Mas Anam dan mbak Priska setuju dengan ajakanku, kami bertiga menuju ruangan khusus bayi dalam perjalanan mbak Priska tak hentinya-hentinya bercerita pada kami tentang pertemuan deang bayi tadi.
"Seperti yang menjadi prosedur panti maka proses adopsi membutuhkan waktu enam bulan, dan orang tua yang mau mengadopsi wajib melalui proses percobaan, untuk menentukan layak dan tidaknya, serta harus melalui proses hukum yang berlaku." terangku.
"Apakah rumit Fah ?" tanya mbak Priska.
"Sejauh ini alhamdulillah tidak ada kendala karena pengacara kami akan mengurus semuanya sehingga pihak orang tua adopsi tinggal terima beres saja dan untuk biaya adopsi tidak sama setiap orangnya, alhamdulillah sampai saat ini anak-anak yang sudah diadopsi mereka bisa memiliki hidup yang lebih baik, memang seleksi yang kami lakukan sangat ketat, karena saya tidak ingin anak-anak terlantar setelah adopsi, atau hanya dijadikan alat saja, pernah ada anak panti dari panti lain begitu anak diadopsi ternyata orang tua angkatnya menperlakukan anak tersebut tidak manusiawi, untuk itu demi keselamatan mereka selama dalam percobaan kami akan mengutus orang untuk mengawasi gerak-gerik calon orang tua asuh secara sembunyi-sembunyi." jelasku panjang lebar.
"Kerjamu sudah kaya Intel saja Fah," Puji mas Anam.
"Saya hanya berusaha untuk melindungi anak-anak mas, jangan sampai anak menjadi korban kebiadaban dari orang yang tidak bertanggung jawab, dibuang saja sudah korban kebiadaban masa mau diperlakukan tidak adil lagi, kan kasihan mas, anak-anak itu aset masa depan bangsa mas, jangan sampai mereka rusak, kalau generasinya rusak bangsa bisa hancur, lalu siapa yang akan mendoakan kedua orang tuanya kelak jika anak-anak rusak." jelasku pada mereka berdua.
"Fah, nanti kamu nyalon jadi mentri perlindungan anak saja, cocok kamu, pemikiranmu benar sekali Fah." ucap mbak Priska.
__ADS_1
"La diakan jabatannya sudah dobel, dia bukan hanya mentri perlindungan anak tapi juga bu presidennys Tono." tambah mas Anam.
Mendengar sahutan mereka berdua aku tertawa, begitu sampai di ruangan bayi kami menunggu sebentar karena bayinya sedang dimandikan oleh suster.