
"Terima kasih pak, ini pak dokumen yang bapak minta tadi" ucapku sambil menyerahkan dokumen ke pak Catur.
"Terima kasih, mbak, taruh di atas meja dulu, besok kamu cutikan ?" tanya pak Catur padaku.
"Iya pak, jam satu siang saya sudah kembali dan untuk besok pagi, jadwal bapak kosong tidak ada agenda rapat " jelasku.
"Besok sama siapa?" tanya pak Catur.
"Maksud, bapak ?" Aku bertanya balik.
"Saat kamu sidang besok siapa yang mengantar dan menemani?" tanya pak Catur menoerjelas sambil geleng - geleng kepala.
"Besok saya sama mas Jamal, pak" jawabku sopan.
"Setelah selesai cepatlah pulang, dan semoga sidangnya lancar" ucap Pak Catur.
"Terima kasih, pak, saya permisi dulu " ucapku dan langsung pergi meninggalkan ruangan pak Catur.
Hari ini aku pulang tepat waktu begitu pula pak Catur, karena pekerjaanku tidak terlalu banyak. Aku keluar dari ruanganku tepat jam empat sore, aku berniat untuk pamit ke pak Catur namun saat aku baru mau ke ruangan pak Catur, pak Caturnya sudah keluar dari ruangannya.
"Bapak juga pulang awal ?" tanyaku.
__ADS_1
"Kamu pulang aku yo pulang, lagian di sini juga tidak ada temannya " jawab pak Catur.
"Saya kira mau tetap di sini " ucapku.
"Nyindir! karena hampir tiap hari aku suruh kamu lembur " kelakar pak Catur.
"Eh... Ehmm... Engak lah pak, bapak kan biasanya kalau dah kerja lupa waktu " ucapku.
Pak Catur tidak menjawab hanya tertawa sedikit, karena jam pulang maka di lobi sangat rame lalu lalang para karyawan yang bersiap untuk pulang. Kami berdua menuju parkiran untuk mengambil kendaraan masing - masing, dengan perusahaan bahagia aku starter motor maticku menuju rumahku."Alhamdulillah bisa pulang tepat waktu " batinku.
Jalanan kota madiun sangatlah ramai jika di jam pulang dan jam berangkat kerja, dengan kecepatan sedang aku susuri jalanan kota mdiaun yang kadang sedikit macet karena banyaknya warga yang memiliki kendaraan sendiri.
Pagi ini Aku siapkan hatiku untuk menghadapi sidang pertamaku, jam delapan pagi mas Jamal sudah berada di rumahku siap - siap untuk mengantarku ah lebih tepatnya mengawalku ke pengadilan Agama.
[Semoga lancar sidangnya] pak Catur.
[Hari ini aku ke kantor agak siang] pak Catur.
Aku membaca pesan dari Pak Catur sambil geleng - geleng kepala, aku hanya balas chat dengan singkat.
[Terima kasih, pak] send,
__ADS_1
Jam sepuluh pagi aku lihat mas Ringgo juga sudah datang di antar oleh temannya, aku kira dia tidak datang. Kamipun juga tidak saling sapa aku sibuk bercerita dengan mas Jamal yang duduk di bangku sampingku.
"Ringgo sudah datang fah" ucap Mas Jamal.
"Biarin "jawabku
Jam sepuluh tiga puluh menit nomor urutku di panggil, kami menuju ruangan sesuai dengan petunjuk yang ada di layar monitor. Ruang mediasi, ya kami berdua menuju ruangan mediasi untuk melakukan mediasi (langkah perdamaian yang di lakukan oleh pihak pengadilan sebelum sidang perceraian).
"Ternyata kamu tega, Fah, kamu tidak sayang anak, dan kamu memilih untuk bercerai dariku, bagaimana perasaan Afriana, kamu egois, Fah ?" tanya mas Ringgo sedikit megiba.
Aku masih sama dingin bahkan lebih dingin" Bukankah itu yang kamu mau dan kamu sudah terlambat keputusan ku sudah tidak bisa di rubah lagi "ucapku.
"Aku tidak akan mengabulkan gugatan perceraian ini "ucap Mas Ringgo lagi.
"Ter - se - rah" ucapku penuh penekanan " Kita lihat saja di pengadilan nanti " ucapku semakin dingin.
"Aku pastikan, akan Aku persulit proses perceraian ini, dan akan aku buat kamu menderita, Fah " ancam mas Ringgo lirih karena kami berada di ruang tunggu untuk mediasi.
"Silahkan, dan aku sudah tidak takut sama sekali dengan semua ancamanmu, mas " ucapku semakin dingin.
Aku lihat mas Ringgo gusar dalam menghadapi semua jawaban ku, ya aku sama sekali tidak takut, setelah menunggu sekitar lima belas menit akirnya sampailah pada nomor urut kita berdua.
__ADS_1
Aku masuk ruangan dengan santai, dan tatapan tetap dingin, tatapan tajam seperti ingin menerkam musuh yang ada di hadapanku. Dengan sopan aku menyapa petugas yang sudah duduk kursi mediasi.
Saat duduk di hadapan petugas mas Ringgo semakin gusar dan salah tingkah, aku dapat melihat wajahnya yang sudah mulai pucat. Tatapan dingin dariku sama sekali tidak pernah berkurang mulai dari masuk ke ruang tunggu sampai ke ruang mediasi.