TALAK

TALAK
Part 109 TALAK


__ADS_3

Hari ini hari kedua syuting iklan, syuting iklan hanya berjalan dua hari saja dan alhamdulillah semua berjalan lancar tiada halangan suatu apapun, syuting berakhir di pukul dua siang, semua kru telah mengemasi barang-barangnya aku dan Pak Catur juga meninggalkan lokasi syuting, namun hari ini bu Priska tidak hadir karena suatu hal. Kali ini pak Catur membawa mobil karena takut hujan sebab cuaca juga kurang mendukung.


"Mbak sekarang Afriana masih di lawu apa sudah pulang?" tanya pak Catur saat berjalan menuju mobil.


"Biasanya jam segini sudah pulang, dan tadi juga berangkatnya pagi-pagi sekali, saya rasa mereka sudah capek." jawabku sambil jalan.


"Afriana pergi dengan siapa saja?" tanya pak Catur lagi.


"Tadi sama mas Jamal, mbak Yah dan Zahra anaknya mas Jamal yang seusia Afriana." jawabku jujur.


Sambil jalan pak Catur ngotak ngatik gawainya entah apa yang telah di lakukannya, sekedar balas chat atau hanya mengecek chat saja.


"Baiklah kita ke plaza lawu, mereka masih di sana!" ucap Pak Catur langsung antusias.


"Hahh... !" seruku terkejut.


"Dari mana bapak tahu?" tanyaku semakin penasaran.

__ADS_1


"Barusan chat mas Jamal, ya sudah cepetan masuk!" perintah pak Catur yang sudah membuka pintu mobilnya.


Aku langsung masuk ke dalam mobil, dalam hati bertanya-tanya bagaimana bisa pak Catur tahu dan menyimpan nomor telepon keluargaku. Akhirnya dengan sedikit sungkan aku berani menanyakan perilhal nomor telpon keluargaku.


"Maaf, pak buat apa bapak menyimpan nomor telepon keluarga saya, dan lagi bapak kan sudah punya nomor telepon bapak dan Fauzan, cukup kan, tidak perlu menyimpan nomornya mas Jamal !" protesku.


"Aku suka sama mas Jamal, lawong mas Jamal saja tidak keberatan kok kaku yang kelihatannya keberatan mbak?" Pak Catur balik tanya padaku.


"Bukannya begitu pak, secara prosedur perusahaan kan, sebenarnya bapak tidak perlu menyimpan nomor telepon keluraga saya terlalu banyak, kan tidak begitu penting pak!" protesku.


"Menurutku sangat penting walau menurutmu tidak penting, sekarang kita susul mereka, aku mau menepati janji ku pada Afriana, dan mumpung ada mas Jamal, sekalian mau ngopi bareng mas Jamal." ucap Pak Catur bahagia.


"Kalau jarang ya gak apa-apa, apalagi ini ngopi bareng orang yang sangat penting buatku." jawab pak Catur entah kemana arah pembicaraannya, aku sama sekali tidak paham.


"Terserah bapak saja, oh ya pak nanti jangan belanja banyak-banyak buat Afriana, tidak baik buat Afriana takutnya dia jadi ketergantungan dengan bapak, dan bukankah bapak sebentar lagi juga akan segera menikah, jadi saya harap bapak bisa paham." Aku berusaha menjelaskan pada pak Catur dengan sopan jangan samapi membuat pak Catur tersinggung.


"Aku, tahu mbak jangan khawatir, bukankah Afriana mau berbagi hadiah dengan Zahra?" ucap Pak Catur santai sambil menjalankan mobilnya meninggalkan lokasi syuting.

__ADS_1


"Dari mana bapak, tahu! lama-lama saya pusing sendiri menghadapi bapak, memanngnya bapak pasang detektif apa?" tanyaku asal.


"Kemarin kamu saja yang lupa atau mungkin pura-pura tidak tahu, kemarin aku juga sudah ngobrol dengan Afriana, bahkan mas Jamal." ucap Pak Catur dengan seulas senyum.


"Lalu?" cecarku.


"Lalu, aku tanya pada Afriana mau minta hadiah apa? Berapa jumlahnya ? Afriana jawab semua, dan Afriana juga mengatakan jika hadiahnya mau di bagi sama Zahra." jelas pak Catur.


"Astaqfirullah hal'adzim Af!" seruku "Maaf kan Afriana pak, kalau begitu, bapak jangan beli semua untuk Afriana, biar saya saja yang membayarnya nanti." ucapku merasa sungkan pada pak Catur.


"Mbak, tidak perlu membayarnya bukannya apa, mungkin rejeki Afriana ada yang di titip kan ke aku, kita kan tidak tahu mbak, lihatlah, nyatanya Afriana bisa sangat dekat dan akrab denganku, itu suatu kebahagiaan tersendiri buatku, mbak, jangan pernah berpikir macam-macam, dan jika mbak takut dengan calon istriku, aku yakin dia juga bisa menyayangi Afriana setulus hati, kita bermain saja." ucap Pak Catur.


Aku hanya diam dan mengangguk, di sisa waktu perjalanan yang tinggal lima belas menit akhirnya kami saling diam, sedangkan pikiranku berkelana entah kemana berusaha mencerna setiap kata yang telah di ucapakan oleh pak Catur barusan.


"Pejamkanlah mata mu mbak, nanti jika tertidur aku bangunin, yang penting sekarang kita bermain dengan Afriana dan Zahra jarang-jarang kita bisa main bareng." ucap Pak Catur.


Tidak begitu lama mobil pak Catur susah terparkir rapi di parkiran plaza lawu, kami berdua segera turun aku berusaha menghubungi mbak Yah, memang benar mereka masih berada di plaza lawu, kami berdua segera menuju zona bermain anak-anak.

__ADS_1


"Ibukk... Paman....!" seru Afriana girang saat melihatku dan Pak Catur datang.


__ADS_2