
Semakin hari perhatian pak Catur pada Afriana semakin intens, dan Afriana juga semakin akrab dengan Pak Catur. Pak Catur selalu saja buat alasan yang masuk akal agar bisa mengajak Afriana, Rahma yang selalu di jadikan umpan agar bisa mengajak Afriana atau berdekatan dengan Afriana.
Jadwal sidang perceraianku yang ketiga telah tiba, seperti biasa aku mendapat cuti setengah hari dari pak Catur.
Pagi ini Aku tetap di antar oleh mas Jamal, ke Pengadilan Agama, aku dan mas Jamal berangkat lebih pagi agar bisa seksesai lebih cepat.
Aku mendapat urutan nomor dua, jam sembilan aku melihat mas Ringgo juga sudah berada di ruang tunggu.
Jam sembialan lebih tiga puluh menit sebuah suara pengumuman menyebut namaku " Sidang selanjutnya nomor 2 dengan nama penggugat saudari Afifah Nurlaila, silahkan memasuki ruang sidang nomor tiga."
Mendengar suara pengumuman aku segera masuk, di-ikuti oleh mas Ringgo, masih sama dengan sidang sebelumnya aku tetap tenang, walau aku merasakan ada aura yang ganjil.
Aku masuk ruang sidang, di ruang sidang menunggu sekitar lima menit Hakim dan Tim-nya memasuki ruang sidang. Setelah saling memberi Salam Hormat, Hakim membuka sidang dengan basmalah serta tiga kali ketukan palu.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sidang kami buka." ucap Hakim memberi Salam.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh." jawab kami semua.
"Ibu, Afifah Nur laila, apa anda masih yakin untuk melanjutkan gugatan cerai anda kepada pak Ringgo?" tanya Hakim meyakinkan .
"Ya, saya yakin pak." jawabku mantap.
"Apa tuntutan anda pada saudara Ringgo?" tanya pak Hakim tegas.
"Saya hanya ingin bercerai saja pak." jawabku tegas.
"Saudara Ringgo bagaimana, apa anda keberatan dengan tuntutan dari Ibu Afifah?" tanya Hakim pada mas Ringo.
__ADS_1
"Ya, pak saya keberatan, sebenarnya saya tidak ingin bercerai, saya ingin anka saya tetap memiliki keluarga yang utuh." dalih mas Ringgo memelas.
Mendengar jawaban dari mas Ringgo membuatku semakin muak, aku hanya mampu tersenyum sinis.
"Baiklah, saudara Ringo jika anda keberatan, silahkan tulis keberatan anda dan apa yang ingin anda tuntut dari ibu Afifah, sidang selanjutnya anda harus menyerahkan pada kami namun jika anda tidak datang dalam sidang dan tidak menyerahkan tuntutan anda, maka kami anggap sidang selesai dan kalian resmi bercerai secara hukum, apa anda sanggul?" tanya Hakim pada mas Ringgo.
Mendengar ucapan dari Hakim membuat hatiku sedikit kacau, sekuat-kuatnya aku, aku hanya seorang perempuan yang berusaha untuk kuat, tegar dan ikhlas.
"Baik, saya sanggup." jawab mas Ringgo lesu.
"Baiklah, kami tetap memberi kesempatan pada anda untuk buat surat tuntutan dan pembelaan, sidang kami tutup sampai di sini dulu, bu Afifah silahkan ke loket untuk meminta jadwal sidang selanjutnya, sidang kali tutup sampai bertemu di sidang selanjutnya, wassalamu'alikum warahmatullahi wabarakatuh." Hakim menutup sidang dengan mengetukan palu tiga kali.
Aku keluar dari ruang sidang sedikit lesu, mas Ringgo menatapku dengan sinis saat berjalan meninggal ruang sidang, mas Ringgo langsung pergi meninggalkan kantor pengadilan agama, aku masih menuju loket untuk ambil jadwal sidang selanjutnya, setelah mendapatkan jadwal sidang aku menghampiri mas Jamal yang duduk di ruang tunggu.
"Mas." sapaku dengan wajah lesu.
Aku duduk di samping mas Jamal sambil memasukan berkas dalam tas cangklongku "Ya, rasanya capek mas, kapan sidang ini selesai!" keluhku.
"Sabar, Fah, tidak lama pasti selesai paling dua kali sidang lagi dah selesai Fah," nasehat mas Jamal bijak " Kapan sidang lagi?" tanya mas Jamal.
"Dua minggu lagi, itupun pak Hakim memberi kesempatan pada mas Ringgo untuk menuntutku." jawabku jujur.
"Kamu jangan khawatir, Fah, tidak akan terjadi apa-apa padamu, mas yakin itu," nasehat mas Jamal menguatkan aku " Kamu sanggup kerja tidak? Jika tidak sanggup kerja kita pulang saja." saran mas Jamal.
"Masih sanggup kok, mas, aku langsung ke kantor saja mas, dari pada nanti bolak-balik harus ngantar aku." ucapku.
"Baiklah, ayok." ucap mas Jamal.
__ADS_1
Aku dan mas Jamal meningalkan kantor Pengadilan agama, hanya butuh waktu sepuluh menit kami berdua sudah sampai di pintu gerbang kantor ku. Begitu aku turun dari motornya mas Jamal, aku berjalan menuju lobi, saat betas di lantai atas aku segera menuju ruangan pak Catur untuk menghadap.
Tok Tok Tok.
"Masuk!" perintah pak Catur dari dalam.
"Selamat pagi pak!" sapaku saat masuk ruangan pak Catur.
"Pagi, Mbak, silahkan duduk, sudah selesai tumben baru setengah sebelas kok sudah sampai kantor, mantanmu tidak datang lagi?" tanya pak Catur sambil menatap ke arahku.
"Hari ini, saya berangkat lebih pagi Pak, jadi sidang saya dapra nomor urutan yang kedua, mas Ringgo datang." jawabku jujur.
"Mbak, sakit kok lesu begitu?" tanya pak Catur khawatir.
"Tidak pak."
"Mantanmu bikin ulah?" tanya pak Catur penuh selidik.
"Bukan, cuma saya kadang agak bingung dengan prosedur sidang ini, seperti hari ini Hakim memberi kesempatan untuk menulis surat pembelaan dan tuntutan pada saya." keluhku kesal.
"Ya, memang prosedurnya sidang begitu mbak, harus melewati beberapa proses, baru Hakim bisa memutuskan." nasehat pak Catur bijak.
"Terima kasih, pak, saya keruangan saya dulu." pamitku.
"Segala sesuatunya jangan di pendam sendiri mbak, luapkanlah agar hatimu lega, aku siap untuk mendengarkannya, kalau pun aku tidak bisa mengobati lukamu minimal bisa meringankan bebanmu, jangan di bikin stres." ucap Pak Catur penuh perhatian.
"Terima kasih pak, saya kerja dulu."
__ADS_1
Aku meningalkan ruangan pak Catur dengan perasaan tidak menentu, karena aku masih memikirkan tentang sidangku nanti.