
"Ibu Afifah, benarkah itu? Dan tanah bangunannya dari mana?" tanya petugas padaku.
"Benar, pak, biaya untuk membangun rumah hasil kerja, saya dan tanahnya pemberian dari orang tua saya " jelasku tegas.
"Pak Ringgo, ketika ibu Afifah marah kepada anda, pernahkah ibu Afifah mengusir anda dari rumah ?" tanya petugas.
"Tidak pernah pak, kalau marah kadang terus ngomel dan kadang mendiamkan saya beberapa hari" jawab mas Ringgo.
"Pak, Ringgo, ketika ibu Afifah marah pernahkah, Ibu Afifah tidak memasak makanan untuk anda ?" tanya petugas.
"Biarpun dia marah dia selalu menyediakan makanan untuk, saya" jawab mas Ringgo.
"Baik, bagaimana dengan kopi dan rokok anda Pak Ringgo ?" cecar petugas.
"Setiap hari selalu tersedia kopi dan rokok untuk saya " jawab mas Ringgo.
"Setiap bulan berapa juta nafkah yang bapak berikan untuk keluarga anda, pak Ringgo ?" tanya petugas mulai sedikit emosi.
"Tidak, pernah, kalaupun pernah hanya seratus atau dua ratus ribu, itupun saya minta lagi untuk keperluan rokok atau kondangan jika ada tetangga atau saudara ada hajatan " jelas mas Ringgo.
"Ibu, Afifah berapa gaji anda di pabrik rokok Cakra lima, sehingga anda mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga seorang diri ?" tanya petugas padaku.
"Setiap bulan dulu sewaktu masih menjadi karyawan biasa gaji saya bisa mencapai satu juta lima ratus sampai dua juta lima ratus ribu, tergantung banyak tidaknya lemburan dan setelah naik jabatan menjadi pengawas pengepakan bisa mencapai empat juta beserta bonus" jawabku.
__ADS_1
"Sekarang posisi anda, masih sama ?" tannya petugas.
"Semenjak enam bulan lalu, saya dipindah tugaskan menjadi sekretaris General Manager " jawabku sedikit sombong, supaya mas Ringgo tahu jika tanpanya aku masih tetap bisa hidup bahkan lebih baik.
"Ibu Afifah apa pendidikan terakir anda, sehingga anda bisa terus baik jabatan?" tanta petugas.
"Saya lulusan S1 dari Universitas terbuka" jawabku singkat.
"Baik, sekarang Pak Ringgo apa Pendidikan terakir anda ?" tanta petugas
"Saya lulusan STM pak " jawab mas Ringgo jujur.
"Seharusnya dengan memiliki ijazah STM anda memiliki skil dan anda bisa bekerja dengan penghasilan kurang lebih satu juta lima ratus, kenapa anda tidak mencari pekerjaan untuk menafkahi keluarga anda ?" tanya petugas.
"Saya tanya sekali lagi, bu Afifah anda tetap melanjutkan gugatan cerai anda atau membatalkan, kami kasih waktu " ucap petugas.
"Saya tetap pada pendirian saya pak, tetap lanjut gugatan saya kepada saudara Ringgo saputro " jawabku tegas.
"Bagaimana dengan anda pak Ringgo?" tanta petugas.
"Saya ngikut saja pak " jawab mas Ringgo.
"Pak Ringgo selama anda meninggalkan rumah pernahkah anda menjenguk anak anda atau ne ngirim uang untuk anak anda ?" tanya petugas lagi.
__ADS_1
" Kalau datang ke rumah tidak pernah, tapi kalau yang saya pernah ngasih jika anak saya diantar ke rumah orang tua saya" jawab mas Ringgo.
"Berapa jumlahnya ?" tanta petugas.
"Kadang lima puluh ribu kadang Dua puluh ribu " jawab mas Ringgo bangga.
"Berapa kali?" tanya petugas
"Lima puluh ribu tiga kali dan dua puluh ribu enam kali " jawab mas Ringgo bangga karena merasa masih mampu memberi uang pada Afriana.
"Benar, bu Afifah apa yang di katakan pak Ringgo ?" tanya petugas kepadaku.
"Benar, pak " jawabku tenang padahal dalam hati ingin sekali aku tertawa.
"Siapa yang mengantar anaknya kerumah neneknya ?" tanya petugas.
"Saya sendiri yang mengantar, pak, setiap dua minggu sekali saya antar anak saya ke rumah neneknya, tujuan saya biar orang tuanya bercerai saya ingin anak saya tetap mengenal bapaknya dan kakek neneknya dengan baik" jawabku.
"Masyaallah, pak Ringgo anda masih kurang apalagi? sebenarnya anda itu patut bersyukur, memiliki istri yang begitu luas wawasannya, berpendidikan, memiliki tata krama yang bagus, kalau istri anda marah itu sudah biasa pak, anda itu beruntung anda tidak memberi nafkah pada istri anda tapi istri anda tidak pernah mengusir anda ataupun minta cerai dari anda" ucap petugas.
"Ibu Afifah motivasi apa sehingga ibu mampu mempertahankan rumah tangga anda selama ini tanpa nafkah dari suami?" tanya petugas.
"Kalau soal rezeki saya, percaya dengan ketentuan Allah mungkin Allah memberikan rezeki kepada keluarga saya melalui perantara saya dengan bekerja di pabrik rokok, Sebenarnya selama ini saya tidak begitu mempersalahkan kalaupun mas Ringgo tidak memberi nafkah kepada keluarga kami, namun saya hanya meminta pengertiannya untuk menjadi imam sholat dan panutan yang baik untuk kami berdua, serta membantu ketika saya benar-benar membutuhkan bantuan" jawabku.
__ADS_1
"Pak Ringgo istri saya itu masih marah kepada saya ketika saya tidak melaksanakan permintaanya, anda tahu pak Ringgo gaji saya itu lho langsung masuk ke rekening istri saya, itupun saya masih membantu pekerjaan istri saya di rumah, sepasang suami istri itu harus saling melengkapi pak, bukan menuntut " jelas petugas.