
Suasana rumahku dan rumah ibukku kembali rame, rame dengan teriakan Afriana yang akan berangkat ke sekolah, Fauzan dan Nafisa yang akan berangkat kerja, di atas meja makan orang tuaku sudah tersedia menu sarapan oseng kembang kates pesenan pak Catur dan menu lainnya seperti urap, tempe goreng maupun ikan asin goreng dan krupuk yang menjadi menu utama di rumah orang tuaku. Kami semua sarapan bersama, tanpa sungkan pak Catur menghabiskan sepiring oseng kembang kates masakan ibuku. Sebelum ke kantor pak Catur mengantar Afriana dulu ke sekolah, aku tetap tinggal di rumahku sendiri, rasa bosen mulai menghinggapiku, karena biasanya aku bekerja berangkat pagi pulang malam, sudah beberapa hari aku selalu berada di rumah, dan aku juga tidak diperbolehkan mengerjakan pekerjaan yang berat-berat. Aku melihat TV di rumah orang tuaku di temani oleh ibukku sambil membungkusi jajan untuk persiapan acara tujuh bulan an Nafisa, sedang bapak pergi ke sawah.
"Buk, kapan mbak Yah dan mbak Us datang?" tanyaku pada ibuku.
"Besok pagi mbak Yah mu datang, nanti sore mbak Us yang datang," jawab ibukku.
"Lusa acaranya bagaimana buk?" tanyaku lagi.
"Seperti biasa khotmil Qur'an dan malamnya sholawat diba' alberjanji, seperti anak ibuk yang lainnya," terang ibukku.
"Buk, apa aku juga perlu mengadakan acara rujakan(tingkepan/tujuh ulangan)?" tanyaku lagi pada ibuku.
"Tentu Fah, Karena ini anak pertamamu dengan suamimu yang sekarang, jadi yo wajib tingkepan(acara tujuh bulanan)," jawab ibukku singkat sambil bungkusi kacang telor serta krupuk udang, emping belinjo, serta kembang goyang.
Sebenarnya aku ingin sekali tertawa melihat sibuknya keluargaku, bagaimana tidak lucu, acara pernikahanku saja baru selesai sekarang orang tuaku sudah di sibukkan kembali dengan acara hajatan lagi, dan sebentar lagi rentetan acara akan terus ada dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun.
Kehamilanku yang sekarang memang tidak bisa diajak kompromi, baru duduk sebentar pinggangku rasanya sudah pegal-pegal, akhirnya aku rebahkan tubuhku di tikar sambil nonton TV dan menemani ibukku ngobrol sambil membungkusi jajanan. Ibukku memberiku banyak petuah tentang beberapa pantangan orang hamil, seperti, pantang duduk di depan pintu
saat tengah hamil. Menurut adat Jawa, kebiasaan ini diyakini bisa membuat proses persalinan menjadi lebih sulit serta menyakitkan.
Dilarang merendam pakaian terlalu lama, merendam pakaian kotor terlalu lama dipercaya bisa membuat kaki ibu hamil bengkak dan terasa berat. Hmm, anggapan ini sesungguhnya cukup beralasan. Pada zaman dahulu, orang merendam pakaian dan mencuci dengan cara jongkok. Jika dilakukan terlalu lama, hal itu bisa menyebabkan bengkak pada kaki ibu hamil karena pembuluh darah menjadi tidak lancar.
Dilarang membunuh Hewan, pantangan ini bukan hanya berlaku bagi ibu hamil, melainkan juga para suami. Membunuh hewan dipercaya bisa berimbas pada janin yang berada dalam kandungan. Jika dilanggar maka bayi Anda bisa terlahir cacat atau bahkan mengalami keguguran. Meski terkesan sekadar mitos, membunuh binatang tanpa alasan memang tidak disarankan bagi siapa pun, termasuk ibu hamil.
Dilarang memikirkan sesuatu yang aneh, Ibu hamil dilarang bergumam dan 'ngebatin' atau memikirkan sesuatu hal yang aneh. Misalnya, kita berpikir [Kok, anak tetangga bentuk telinganya aneh ya] Pikiran semacam ini dipercaya akan membuat bayi yang berada dalam kandungan akan mengalami hal seperti yang dipikirkan sang ibu.
Dilarang menggaruk perut, pantat, maupun paha, Ibu hamil biasanya mengalami gatal pada perut. Nah menurut adat Jawa, orang yang sedang hamil dilarang menggaruk perut maupun, pantat dan paha yang gatal karena hal itu dipercaya bisa membuat kulit bekas garukan akan membekas setelah melahirkan.
Suami dari wanita hamil dilarang memancing atau berburu semua jenis hewan. Menurut mitos Jawa, suami yang memancing atau berburu bisa menyebabkan bayi dalam kandungan mengalami cacat atau bibir sumbing.
Dilarang Menjahit, orang zaman dahulu meyakini bahwa ibu hamil dilarang menjahit kain dengan jarum menggunakan tangan atau secara manual karena bisa menyebabkan bayi terlahir cacat.
__ADS_1
Ibu hamil yang keluar pada malam hari, diyakini akan menarik roh halus. Jika dilanggar, ibu bisa kehilangan janin dalam kandungannya karena telah diambil makhluk astral tersebut larangan ini ada benarnya lho. Pada malam hari, angin biasanya lebih dingin dan tentu saja hal itu tidak baik bagi kesehatan ibu hamil.
Aku dengan seksama mendengarkan semua nasehat ibukku, walau ini bukan pertama kalinya aku hamil namun ibukku tetap mengingatkanku tentang beberapa pantangan orang jawa ketika hamil. Ibuku termasuk orang yang masih kental dengan adat jawa, walau kadang bertentangan denganku namun aku tetap tidak membantah, aku berusaha untuk tetap berpikir secara positif.
Ibukku tidak hanya mengingatkan aku tentang pantangan orang jawa, tentang makananpun ibukku sangat crewet, jadi ibukku selalu memasak makanan khusus buat anaknya yang sedang hamil ketika berada di rumah ibukku, ibukku selalu mengingatkan makanan apa yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan.
"Fah, ibuk harap kamu tidak melanggar pantangan yang ibuk ceritakan tadi," ucap ibukku.
"Inshaallah buk," jawabku "Buk, ada kabar tentang mas Ringgo?" tanyaku pada ibukku.
"Masih sama tidak ada perubahan," jawab ibukku langsung menatapku curiga " Kamu tidak apa-apa kan Fah? Apa kamu masih menyimpan dendam pada Ringgo Fah?, saran ibu buang jauh-jauh dendammu itu, sekarang pikirkanlah keluarga barumu," nasehat ibukku lembut.
"Beberapa hari yang lalu Afriana mimpi ketemu mas Ringgo, Afri bilang mas Ringgo merintih kesakitan," jelasku apa adanya.
"Mungkin Ringgo kangen Afri, atau apa, coba nanti kamu tanya bapakmu saja," saran ibukku
Tidak terasa waktu sudah menjelang siang bapakku sudah kembali dari sawah, dan bersiap-siap untuk ke Mushola, setelah pulang dari mushola bapak siap-siap untuk menjemput Afriana.
"Sudah pulang sayang?" tanyaku pada Afriana yang baru masuk kedalam rumah.
"Hari ini PR nya banyak sekali buk," lapor Afriana padaku.
"Ganti baju dulu dan cuuci tangan!" perintahku pada Afriana.
Afriana termasuk anak yang mandiri mungkin karena dari kecil sudah aku tinggal bekerja sehingga membuat dia bisa berpikir dan lagi dia merasa bukan lagi anak-anak.
"Mbah maem!" seru Afriana yang sudah duduk di meja makan " Ayah belum pulang buk?" tanya Afriana padaku.
"Makanno Af, pelan-pelan saja kalau makan jangan lupa cuci tangan setelah makam cepat sholat dhuhur," perintah ibukku pada Afriana.
"Ayah, kelihatannya hari ini lembur Af," jawabku jujur
__ADS_1
"Nanti malam Af, tidur sini lagi ya buk, nanti kan ada mbak Zahra juga," celoteh Afriana untuk meminta ijin.
"Iya, boleh Af, tapi gak boleh nakal," nasehatku.
Sore hari hari mbak Us sudah datang ternyata bukan hanya mbak Us saja, mbak Yah juga ikut datang awal, mbak Us membawa beberapa bahan pokok makanan, serta buah untuk membuat rujak tujuh bulannan. Anak-anak sudah bermain dan membaur tanpa menghiraukan siapapun.
"Jam berapa suamimu pulang Fah ?" tanya mbak Us padaku.
"Mungkin malam mbak, katanya mau lembur, soalnya belum dapat sekretaris pengganti, mungkin besok baru wawancara untuk seleksi kandidat buat sekretaris," jawabku jujur apa adanya.
"Sebenarnya gak baik jika istri di tinggal lama-lama, tapi ya sudahlah memang pekerjaannya begitu, yang sabar Fah, lalu pasti lebih tahu tentang suamimu!" ucap mbak US sambil milihi buah.
"Mbak Us, mbak Yah, benar kata kalian dulu, pas aku tujuh bulanan mbak Afifah hamil, pas anakku lahir ganti mbak Fah yang tingkepan," ucap Nafisa sambil tertawa.
"Padahal dulu itu hanya guyonan lo, gak tahunya benar-benar terjadi, masyaallah," ucap mbak Yah.
"Makajna kalau ngomong itu yang baik-baik saja," timpal ibukku.
"Kita waktu itu juga baik lo bu, ngomongnya, bersyukur jika sekarang terwujud, usia Afifah dan suaminya juga sudah tidak muda lagi, bersyukur Allah memberi cepat," ucap mbak Us.
"Mbak Fah bukan hanya cepat mbak, inshaallah bakal dapat dua," seloroh Nafisa.
"Alhamdulillah, beneran Fah?" seru mbak Yah dan mbak Us bersamaan.
"Inshaallah, mbak, karena belum begitu jelas, dokter bilang jika kandungan sudah dua belas minggu baru di USG ulang dan memastikan kembar tidaknya namun aku tidak akan USG, jenis kelamin biar jadi kejutan bagi kami," jawabku jujur.
"Sykurlah, semoga beneran kembar, biar tambah rame," ucap mbak Yah.
"Aku juga senang, Fah, jika beneran kembar, mumpung kalian masih muda setelah anak-anak usia dua tahun program lagi," nasehat mbak Us.
"Kalau di kasih rejeki ya di syukuri dan di terima mbak seperti sekarang," sahutku enteng.
__ADS_1
Rumah orang tuaku kembali rame, kali ini menyiapkan acara tingkepan( tujuh bulanan) buat Fauzan dan Nafisa, malam ini pak Catur benar-benar pulang malam, jam sebelas malam pak Catur baru pulang, wajah lelah dan kusut sangat ketara, namun demikian pak Catur tidak mau aku layani, pak Catur memilih melakukan sendiri.