
Aku mendengarkan cerita dari Pak Catur dengan seksama, tanpa menyela, hingga pak Catur berhenti sejenak, aku tidak mengira bakal mempunyai suami yang berhati Mulia seperti pak Catur.
"Maaf sayang waktu itu mas bertindak tanpa melibatkan Dinda." entah berapa kali pak Catur meminta maaf padaku.
"Lalu bagaimana selanjutnya? Kenapa waktu itu mas cemburu pada mas Ringgo padahal aku sama sekali tidak pernah kontak dengan mas Ringgo." ucapku.
"Karena mas sangat mencintaimu, dan mas masih sedikit trauma seperti pepatah sekarang yang lagi booming, takut ditinggal pas sayang-sayang e," jelas pak Catur lagi.
"Jadi sekarang mas tidak cemburu lagi, berarti mas sudah tidak cinta dan sayang pada Dinda dong." Aku sedikit ngambek.
"Ya Allah Dinda, siapa yang tidak sayang dan cinta pada Dinda, yang ada mas itu semakin cinta dan sayang pada Dinda, mas tidak ingin berpisah dengan Dinda dan anak-anak, mas ingin kita bisa bersama sampai surga." jelas pak Catur menpererat pelukannya dan juga mencium mesra keningku.
"Mas apa mas terpengaruh dengan kata-kata bapak, sehingga mas mau membantu biaya untuk kesembuhan mas Ringgo?" tanyaku masih penasaran.
"Terus terang iya, aku sangat terpengaruh dengan nasehat bapak tentang arti sebuah keikhlasan yang sebenarnya, sebuah nasehat yang diberikan kepada mas Jamal, ternyata ilmuku masih sangat cethek (dangkal)," jelas pak Catur " Dinda pernah dapat nasehat seperti yang bapak sampaikan pada mas Jamal?" tanya pak Catur padaku.
"Sering, dari dulu bapak selalu menasehati anak-anaknya begitu," jawabku jujur.
"Masyaallah, bersyukur mempunyai orang tua yang kaya seperti bapak." pak Catur memuji bapakku.
"Kaya? Maksud mas." tanyaku.
"Maksud mas, kaya akan ilmu aqidah dan bisa melaksanakan antara ucapan dan tindakan secara seimbang." jelas pak Catur.
"Sekarang Dinda tanya, apa mas masih cemburu dengan mantan suami dinda?" tanyaku lagi untuk lebih meyakinkan.
"Tentu rasa cemburu itu tetap ada, tapi mas percaya akan ketulusan Dinda pada mas, mas bisa merasakan semuanya." jawab pak Catur tulus.
"Alhamdulillah, Dinda tidak akan berpaling namun jika Dinda sudah disakiti dan dibuang, Dinda masih bisa memaafkan namun Dinda tidak akan kembali pada orang yang sudah membuang Dinda, namun jika orang itu perlu pertolongan inshaallah Dinda akan menolongnya sesuai dengan kemampuan seperti nasehat bapak, karena setitik saja kita menyimpan dendam maka akan membuat hidup kita tidak nyaman, dan mempersulit diri sendiri." jelasku.
"Terima kasih sayang, bersyukur mas mempunyai istri seperti Dinda ini." ucap Pak Catur lagi.
"Mas, boleh ceritanya di lanjutkan." pintaku.
__ADS_1
"Peluk dulu yang erat." pinta pak Catur manja.
"Dari tadi sudah Dinda peluk terus." protesku, kini bukan hanya pelukan dengan cepat aku daratkan sebuah ciuman di kedua pipi suamiku.
"Pintar, semakin hari Dinda semakin berani, pasti ada maunya." ledek pak Catur padaku.
"Ayo mas lanjut ceritanya jangan gantung kaya jemuran baju." pintaku.
"Baik permaisuriku, beberapa hari kemudian mas mendapat jawaban dari bapak dan keluarga Ringgo." jawab pak Catur.
Flas back on.
"Assalamu'alaikum, pak." sapaku saat baru masuk rumah bapak.
"Wa'alaikum salam sudah datang le,?" tanya bapak.
"Ibuk kemana?" tanyaku.
"Mereka lagi rewang ke rumah sebelah lagi punya hajatan bayi." jelas bapak.
"Alhamdulillah, apa boleh saya menjenguknya?" tanyaku.
"Mak Catur yakin dengan keputusan nak Catur?" tanya bapak padaku.
"Yakin." jawabku meyakinkan.
"Baiklah kalau begitu kita kesana sekarang." ajak bapak saat itu juga.
Kami berdua menuju ke rumah orang tua Ringgo, sebelum ke sana kami menghampiri mas Jamal dulu, setelah menghampiri mas jamal kita bertiga menuju rumah Ringgo mengunakan mobil.
"Assalamu'alaikum." sapa bapak yang berjalan di depan sedang aku dan mas Jamal berada di belakang bapak.
"Wa'alaikum salam, Silakan masuk dulu Silakan duduk." sambut bapak dan ibu Ringgo dengan ramah.
__ADS_1
"Bagaimana kabar kalian ?" tanya bapak pada orang tua Ringgo.
"Alhamdulillah, baik seperti yang bapak bilang, ini siapa?" tanya bapaknya Ringgo.
"Oh, ya ini suami Afifah, Catur namanya, dia yang akan membantu biaya pengobatan Ringgo." jelas bapak.
"Alhamdulillah, masyaallah, terima kasih nak Catur, maaf merepotkan kalian semua, tolong jaga Afifah dan Afri, dan tolong rahasiakan tentang keadaan Ringgo pada Afri, kami tidak ingin membuat luka pada Afri." terang bapaknya Ringgo penuh permohonan.
"Inshaallah saya akan menjaga mereka saya akan menyayangi mereka tulus dan ikhlas."jawabku meyakinkan" Saya berharap keluarga bapak tidak keberatan dengan tawaran dari saya, karena saya sangat menyayangi Afriana sehingga saya juga tidak ingin membuat Afriana terluka, saya akan merahasiakan ini semua."ucapku.
"Apa kartu Bpjs Ringgo sudah selesai?" tanya bapak.
"Sudah, baru kemarin lusa itu sebab yan aku hubungi kamu." jawan bapaknya Ringgo.
"Silakan diminum maaf hanya ada air." ibunya Ringgo menyajikan teh hangat pada kami semua dengan sopan.
Melihat keadaan orang tua Ringgo membuatku tidak tega, di usianya yang sekarang sudah tidak muda lagi masih harus membanting tulang mencari uang untuk biaya pengobatan anak lelakinya.
"Maaf, boleh saya melihat Ringgo, di mana dia?" tanyaku, ya aku sangat penasaran dengan keadaan Ringo sekarang.
"Baik, kita lihat bersama-sama." jawab bapaknya Ringgo.
Kami berlima menuju salah satu kamar yang ada di rumah orang tua Ringo, satu kamar yang di huni Ringgo hampir setahun ini, kami me ginfip dari sebuah celah yang di buat oleh bapaknya Ringgo untuk melihat keadaan Ringgo tanpa harus membuka pintu, keadaan Ringgo sangat memprihatinkan, pandangannya kosong, dia tertawa sendiri kadang dia menangis sendiri. Aku mengamatinya selama kurang ke Ih setengah jam.
"Ya begitulah keadaan Ringgo sekarang." jelas orang tua Ringgo padaku.
"Lebih cepat kita kirim ke rumah sakit jiwa itu lebih baik," usulku.
"Kita sudah menghubungi pihak rumah sakit jiwa dan besok lusa Ringgo sudah bisa di bawa ke rumah sakit jiwa," terang bapak.
"Maaf bukan maksud saya membuat bapak dan ibuk tersinggung, ini saya ada sedikit rejeki semoga ini bisa di pakai untuk biaya rumah sakit di awal, untuk selanjutnya saya akan tetap mengikuti perkembangannya saya akan membantu sampai Ringgo sembuh, jika saya masih di beri umur panjang." ucapku meyakinkan, aku keluarkan amplop coklat berisi uang sepuluh juta.
"Masyaallah, alhamdulillah, ya Allah, Engkau mengirimkan orang berhati malaikat." orang tua Ringgo menerima penuh syukur dan haru mereka benar-benar tulus tanpa ada ke pura-puraan.
__ADS_1
Flas back off.