TALAK

TALAK
Part 186 TALAK.


__ADS_3

Berada di rumah sakit benar-benar membuatku sangat jenuh, bersyukur sekali setelah beberapa hari berada di rumah sakit akhirnya hari ini bisa keluar. Mama yang datang kerumah sakit untuk menjemputku pulang dengan diantar oleh sopir, sekarang semua keluarga sangat over protecting terhadapku terutama pal Catur, ya pak Catur melarangku beraktifitas berat, seperti hari ini ingin sekali aku membantu pak Catur mengemasi barang bawaan, namun pak Catur melarangku dengan keras, sehingga aku hanya duduk dan baring saja. Saat menuju mobil pak Catur menyuruhku duduk di kursi roda, pak Catur sama sekali tidak mengijinkanku untuk jalan, padahal aku ingin sekali jalan namun tidak di kabulkan oleh pak Catur.


Sesampainya di rumah, pak Catur serta mama segera menyuruhku untuk istirahat di kamar, kini aku hanya duduk dan terbaring di kamar, selama aku sakit pak Catur tidak meninggalkan aku barang semenit pun.


"Mas, kapan kita kembali ke kota madiun?" tanyaku.


"Tunggu Dinda benar-benar sehat, nanti kita periksa ke dokter sebelum kita berangkat ke kota Madiun, sebab tidak semua orang hamil boleh naik pesawat terbang," terang pak Catur yang sedang menata baju kedalam lemari.


"Lalu pekerjaan mas bagaimana?" tanyaku penasaran.


"Ada mbak Priska yang menghandel Dinda tenang saja, sekarang Dinda pikirkan tentang Dinda sendiri dan bayi kita saja, jangan pikirkan soal pekerjaan, semua biar mas handle bersama dengan yang lain," terang pak Catur.


"Mas, lapar," keluhku, entahlah sekarang aku mudah sekali lapar.


"Dinda mau makan apa?" tanya pak Catur padaku.


"Entahlah mas, tadi mbak masak apa?" tanyaku pada pak Catur.


"Gak tahu sayang, kalau Dinda lapar kita keluar ke dapur, atau Dinda mau makan apa biar mas suruh mbaknya masak untuk Dinda," pal Catur memberi suatu pilihan.

__ADS_1


"Kita ke dapur saja mas, kasihan mbaknya inikan sudah malam, biar mbaknya istirahat," ucapku, sekarang porsi makanku menjadi dua kali lipat, namun anehnya aku tidak doyan susu, setiap minum susu aku selalu muntah.


Aku dan Pak Catur menuju dapur, pak Catur segera memeriksa isi kulkas aku sedang aku duduk di kursi meja makan.


"Kamu lapar lagi Fah?" tanya mbak Irma yang baru masuk ke dapur.


"Iya mbak, entahlah rasanya mudah lapar," sahutku sedikit malu.


"Namanya juga tiga nyawa Fah, sudah pasti membutuhkan asupan gizi tiga kali lipat," sahut mbak Priska yang menuju kulkas.


"Sayang mau makan apa, ini ada bakwan jagung sayur lodeh gori dan ada rendang, atau ayam ungkep." pak Catur menyebutkan apa yang ada di dalam kulkas.


"Iya mbak, tapi kalau belum makan nasi belum kenyang lo mbak biar makam buah sudah banyak," jawabku jujur "Mas aku mau makan rendang saja mas, sama krupuk," pintaku.


"Baiklah sayang tunggu sebentar biar aku angeti dulu," Pak Catur segera mengangeti rendang dan juga segera menyiapkan piring di atas meja makan.


"Apa perlu mbak panggilkan pembantu untuk mem anru kalian?" tanta mbak Irma pada kami.


"Tidak usah mbak, biarkan mereka istirahat, lagian aku memang ingin melayani istri dan anakku, mumpung aku masih longgar, takutnya kalau sudah repot tidak bisa memperhatikannya lagi," sahut pak Catur sambil ngangeti sayur.

__ADS_1


"Ya, sudah aku tinggal dulu, ada apa-apa tinggal panggil kami saja," Mbak Irma pergi meninggalkan dapur.


"Iya mbak Irma," sahut pak Catur.


Tidak butuh waktu lama semua menu yang aku minta sudah terhidang di atas meja makan, aku benar-benar di manja oleh pak Catur dengan telaten pak catur mengambilkan makanan untukku, tidak hanya mengambilkan namun pak Catur malah menyuapiku.


"Mas, biar aku makan sendiri saja," pintaku.


"Biar mas suapi saja sayang, mas mau nyuapi anak dan istri mas," pak Catur tetap pada pendiriannya.


"Mas jika badanku tambah gendut gimana?" tanyaku sambil makan.


"Tambah seksi, " sahut pak Catur dengan senyum menggoda.


"Ih, mas gak asyik,"


"Bagi mas yang penting Dinda dan anak-anak sehat, soal fisik tidak menjadi suatu ukuran bagi mas, ayo sayang a, a, a, a, makan yang banyak sayang, halo jagoan ayah makan yang banyak biar sehat." ucap Pak Catur bahagia.


Tidak terasa aku sudah menghabiskan satu piring nasi, setelah sekesai makan pak Catur mengupaskan aku satu buah apel besar. Selesai makan aku dan Pak Catur kembali ke kamar tanpa mencuci piring bekas makanku tadi.

__ADS_1


__ADS_2