
"Saya ikuti saja apa keputusan pengadilan." akhirnya mas Ringgo menjawab setelah Hakim bertanya beberapa kali.
"Saudara Ringgo anda benar-benar tidak menubtut harta gono gini lagi dan tidak mau nail banding atau menghadirkan saksi?" Hakim bertanya sekali lagi pada mas Ringgo.
"Tidak bu, saya ngikut saja apa keputusan pengadilan." jawab mas Ringgo pasrah dengan wajah yang sudah lesu.
"Baiklah keputusan sidang perceraian saudara Ringgo dan saudari Afifah saya putuskan sekarang, kalian resmi bercerai secara agama dan negara, dan kedua belah pihak tidak menubtut harta gono gini untuk hak asuh anak setelah kami pertimbangkan maka hak asuh anak saya berikan kepada ibu Afifah, namun saya harap saudara Ringgo anda sebagai bapaknya harus tetap bertanggung jawab atas biaya hidup anak anda Afriana, setelah ini ibu Afifah segera ke konter untuk meminta informasi selanjutnya, alhamdulillah sidang kami tutup, wassalamu'alaikum wr wb. " ucap Hakim menutup sidang dan mengetuk palu sebanyak tiga kali sebagai tanda berakirnya sidang.
"Alhamdulillah." Aku langsung berucao syukur.
Setelah semua anggota Hakim meninggalkan meja hijau mas Ringgo keluar duluan dengan wajah yang amat sangat lesu namun tetap memendam amarah.
Aku, mbak Yah dan bapak keluar dari ruang sidang, tak henti-hentinya kami bertiga mengucap syukur. Dalam perjalanan meninggalkan ruang sidang mbak Yah memelukku dengan senyum penuh kebahagiaan dan kemenangan.
"Mbak, pak aku ke counter dulu, kalian duduk dan temui mas Jamal, setelah selesai aku menyusul." ucapku pada mbak Yah dan bapak.
"Ya." jawab mabk Yah dan bapak bersamaan.
Aku langsung menuju konter, aku menyerahkan kartu sidangku pada konter, petugas konter memberiku berbagai macam pertanyaan dan juga menjelaskan prosedur selanjutnya. Petugas konter mengganti kartu sidangku menjadi kartu untuk pengambilan surat cerai dua minggu lagi.
Begitu selesai dari konter aku segera bergabung dengan dengan mas Jamal, mbak Yah dan bapak di ruang tuanggu.
"Bagaimana Fah, sudah beres?" tanya mbak Yah.
__ADS_1
"Sudah mbak, dua minggu lagi ambil surat cerainya." jawabku.
"Kamu langsung ke kantor apa pulang dulu?" tanya bapak padaku
"Langsung ke kantor saja pak, sekarang juga sudah siang." jawabku.
"Yo wes sekarang aku antar kamu ke kantor, keburu siang." ucap bapak.
"Fah, aku duluan." pamit mas Jamal dan mbak Yah.
"Makasih mbak, mas." sahutku.
Aku di antar bapak menuju kantor tempatku bekerja, dalam perjalanan aku sudah kirim pesan ke pak Catur jika sebentar lagi aku akan sampai di kantor. Tepat jam sebelas siang aku memasuki kantor dengan langkah penuh semangat dan hati yang lega, setidaknya aku tidak lagi harus bolak balik ijin dari kantor dan bolak balik ke pengadilan agama. Begitu sampai di ruangan atas aku segera mengetuk ruangan pak Catur untuk laporan jika aku benar-benar sudah kembali ke kantor.
"Masuk!" suara dari dalam saura pak Catur dan suara bu Priska.
"Selamat siang Pak, selamat siang bu." sapaku pada bu Priska dan Pak Catur sopan.
"Bagaimana sidangnya mbak?" Pak Catur langsung bertanya padaku dengan ekpresi penasaran.
"Bagaimana Fah ?" bu Priska juga ikut bertanya dengan ekpresi penasaran.
"Alhamdulillah, sudah selesai, dua minggu lagi tinggal ngambil surat cerainya." jawabku jujur.
__ADS_1
"Alhamdulillah." Pak Catur dan bu Priska mengucap syukur secara bersamaan.
Bu Priska dengan wajah yang berbinar-binar langsung berdiri dan memelukku.
"Alhamdulillah, Fah aku senang sekali, semoga setelah ini kamu bisa memiliki keluraga yang bahagia semoga segera mendapatkan jodoh, aku yakin sebentar lagi inshaallah akan ada orang melamarmu segera." ucap bu Priska berbunga-bunga.
"Ibu ini, bisa saja, kucing yang melamar." candaku asal.
"Lihat saja nanti." ucap bu Priska sangat antusias.
"Kalau saya menikah bapak maubkayih kado apa?" gurauku pada pak Catur.
"Jiwa ragaku, mbak." jawab pak Catur mantap penuh penekanan.
"Nggak lucu jawabab bapak, kado itu villa kek apa bunga kek, tapi bunga deposito." candaku.
Bu Priska yang mendengar ucapanku dan jawaban pak Catur hanya tertawa terpingkal-pingkal.
"Sekarang kamu matre juga ya mbak, Baiklah mbak mau minta apa? jangankan hanya villa seluruh hartaku akan Aku berikan pada mbak, syaratnya mbak yang menikah dengan aku, bagaimana setuju?" ucap Pak Catur penuh percaya diri.
"Kalau saya terima tawaran bapak bisa-bisa saya langsung kena labrak calon istri bapak, wes gak jadi minta hadiah pak, dari pada saya kena labrak calon bu bos, di tambah harus di pecat secara tidak hormat, ampun deh saya pak." ucapku sambil senyum nyengir.
"Kamu itu masih sama mbak, unik, terlalu bodoh lelaki yang melepaskanmu." ucap Pak Catur dengan wajah yang berbinar-binar.
__ADS_1