
Hari pertama kembali beraktifitas di kantor dengan status sebagai istri dan juga sekretaris dari seorang General Manager membuatku semakin tidak nyaman, aku berada di pantri seperti biasa untuk membuat teh panas buat pak Catur, saat di pantri aku bertemu dengan petugas cleaning servis yang sedang membersihkan pantri, seperti biasa akupun menyapa, seperti biasa pula menyahut sambil terus bekerja tanpa menoleh ke arahku, hingga pas dia melihatku dia langsung terkejut dan meminta maaf karena merasa tidak sopan, dengan senyum ramah seoeeri biasa akupun menyuruhnua untuk tetap biasa saja toh aku di sini juga sama sebagai pekerja. Selesai membuat teh aku langsung kembali ke ruangan pak Catur untuk memberikan teh pada pak Catur, aku berdiri di samping pak Catur, kalau biasanya aku hanya berdiri di depan meja tidak untuk kali ini.
"Terima kasih Dindaku sayang." ucap Pak Catur lembut dengan diiringi senyum manisnya dan tangan kirinya sudah melingkar di pinggangku dengan lembut.
"Aku kembali ke ruanganku mas, selamat bekerja sayang." pamitku pada pak Catur dengan senyum menggoda.
"Sekarang tambah pinter menggoda Kangmas nih, assalamu'alaikum anak ayah, baik-baik bersama ibuk ya, jags ibuk untuk ayah." suara pak Catur lembut sambil membelai lembut dan mencium perutku.
"Mas." jujur aku sangat khawatir jika pak Catur kecewa jika aku tidak hamil, karena pernikahanku dengan Pak Catur baru saja beberapa hari yang lalu, belum lagi dulu aku juga tidak langsung hamil.
"Dinda tenang saja, mas tahu jika Dinda khawatir, kapanpun rejeki untuk kita, datangnya cepat atau lambat mas tetap sayang pada Dinda, jangan risau." tutur pak Catur lembut" Mas tidak ingin Dinda terlalu cemas."
__ADS_1
"Terima kasih Sayang." aku pamit kembali ke ruanganku setelah saling memberikan kecupan manis.
Hari ini sangat berbeda, dan aku harus membiasakan diri serta harus professional dalam menjalankan peranku sebagai seorang sekretaris dan juga istri. Sesampainya di ruanganku aku mengamati ruanganku yang sudah lama aku tinggalkan ya tepatnya satu bulan aku tidak bekerja. Ruanganku masih sama tidak ada yang berubah, setelah aku taruh tasku aku mulai dengan aktifitasku, aku buka komputerku untuk mengecek beberapa email ataupun berkas yang masuk. Setelah satu bulan aku tidak masuk kerja aku kira akan banyak pekerjaan nyatanya masih sama seperti dulu, sebenarnya bukan tidak ada pekerjaan namun selama aku libur pekerjaan di handle sendiri oleh pak Catur dan mbak Priska. Baru saja bekerja tiga jam mataku sudah lengket tidak biasanya aku ngantuk di jam sebelas siang.
"Hoam." beberapa kali mulutku menguap, saking ngantuknya aku bangkit dari duduk menuju pantri untuk membuat kopi, ya lucu memang aku lebih suka minum kopi sedang pak Catur suka minum teh.
"Selamat siang Bu , Ibu kalau mau buat kopi tinggal suruh saya saja Bu." sebuah suara dari cleaning servis mengagetkan aku.
"Terima kasih Bu, cuma bikin kopi saja kok, sekalian mau jalan-jalan biar pinggang gak pegel, mungkin terlalu lama cuti jadi harus membiasakan diri lagi." jawabku ramah.
Cleaning servis seorang ibu-ibu berusia empat puluh lima tahunan dan sudah bekerja sejak pabrik ini di buka, beliau bukan lagi seorang cleaning servis biasa namun sebagai kepala cleaning servis dan tugasnya memang di area ruangan tertentu.
__ADS_1
"Saya permisi dulu bu." pamitku sopan pada ibu cleaning servis.
Aku melangkahkan kakiku menuju ruanganku sambil membawa secangkir kopi instan, entah kenapa kopinya baunya harum sekali, sambil membawa kopi aku senyum-senyum sendiri sambil terus mencium harumnya bau kopi.
"Dari man's Dinda?" Pak Catur tiba-tiba sudah di hadapanku saking fokusnya pada kopi sehingga aku tidak menyadari keadaan sekitar.
"Dari pantri, bikin kopi capek dan ngantuk, mungkin habis acara kemarin capeknya belum ilang." sahutku.
"Kopinya enak sekali." komentar pak Catur.
"Mas mau biar Dinda bikinkan." tawarku pada pak Catur.
__ADS_1
"Mau tapi yang ini saja."
Pak Catur mengikuti langkahku menuju ruanganku, Sesampainya di ruanganku aku minum kopi duluan dan setelahnya pak Catur minum kopi dari cangkir yang sama denganku.