
Setelah sholat dhuhur, aku, mama dan mbak Irma pergi ke plaza lawu untuk belanja dengan di antar oleh pak Catur. Sesampainya di plaza lawu pak Catur langsung pergi karena harus ke kantor, jadi hanya kami bertiga saja yang belanja di plaza lawu.
"Mah, mbak, titip ya, pilihkan yang pas buat dindaku." pesan pak Catur sebelum pergi dengan senyum indahnya.
"Beres." sahut mbak Irma.
Mama Cakra dan mbak Irma langsung mengajakku untuk masuk ke toko perhiasan, mereka mengajakku untuk beli peningset. Satu set perhiasan telah mereka pilihkan untukku dan juga mereka memilihkan untuk Afriana anakku, sebenarnya aku sudah menolaknya namun mereka berdua tetap kekeh untuk membelikan buat anakku.
Urusan perhiasan sudah selesai sekarang kami menuju toko baju Muslim lengkap, di sana mama dan mbak Irma yang sibuk memilihkan lagi, mengingat butik yang mama tuju butik mahal makanya aku bingung untuk memilih dari segi harga bikin aku tidak bisa bernafas, bayangkan saja jika satu gamis saja harganya di atas satu juta, kalau satu set dengan anakku bisa mencapai tiga juta, separo dari gajiku sebagai seorang sekretaris.
Dengan antusiasnya mbak Irma dan mama memilihkan untuk peningset, dan itupun satu set dengan anakku Afriana. Jam empat sore kami selesai belanja, kami beristirahat untuk sholat dan setelah sholat kami minum dan beli makanan ringan di restaurant yoshinoya.
"Fah, besok lusa akan kami adakan lamaran beneran, yang kemarin itu ya kurang afdol, itu sebabnya mama ngajak kamu untuk belanja, sekalian mematangkan rencana pernikahan kalian." ucap mama lembut.
"Terima kasih, ma, mbak." ucapku sedikit canggung.
"Tidak perlu canggung begitu, Fah, tadi Tono juga sudah mrmberitahu keluargamu, jadi kamu tenang saja, cuma pesanku boleh dong di masakin kembang kates." ucap mbak Irma sambil minum es.
"Saya, ngikut saja mbak, mah, sejujurnya saya tidak pernah menyangka jika saya menjadi bagian dari keluarga Cakra." ucapku sopan.
"Sebenarnya mama dulu sempat menolak dan beradu argument dengan kedua mbakmu, sebab waktu itu kamu belum resmi bercerai, namun kedua mbakmu itu yang ngotot, dan mbakmu Priska tak henti-hentinya selalu memberi informasi tentanmu pada kami semua, dan lagi di tambah tuyul bontot mama yang mati-mati an ngejar kamu, akhirnya mama hanya bisa merestui kalian, dan ketika mbakmu Priska kamu sudah mulai sidang cerai, kami semua langsung merencanakan lamarannya, ya pastinya kamu tahu, kami minta bantuan Kakung dan Anam, untuk menemani tuyul bontot mama." jelas mama dengan senyum bahagia.
__ADS_1
"Kamu tahu nggak, Fah, kalau Tono pernah memvideo kamu saat kamu menjemur padi?" ucap mbak Irma memberitahuku tentang kekonyolan pak Catur yang tidak pernah aku ketahui.
"Kapan?" tanyaku penasaran.
"Sudah lama, waktu Tono baru pindah, katanya waktu itu sedang bersama Anam, sepedahan, lihatlah," ucap mbak Irma sambil menyodorkan hand phone-nya padaku, ternyata benar ada videoku yang sedang menjemur padi dengan wajah yang tidak karuan, keringat bercucuran, memakai daster kebesaran" Kamu tidak tahukan?" tanta mbak Irma padaku.
"Astaqfirullah hal'adzim, saya benar-benar tidak tahu, tentang video ini." ucapku saat melihat video yang ada di hand phone mbak Irma.
"Banyak, Fah video-video dan foto-foto kamu yang Tono kirim ke kami, itu sebabnya mama tidak ingin terlalu lama menunda pernikahan kalian, mama ingin anak-anak mama bahagia sakinah mawadah warohmah dalam membina keluarga." ucap mama penuh makna.
"Terima kasih ma, sebab mama sudah sudi menerima keluarga kami apa adanya dengan ikhlas." ucapku penuh kesungguhan.
"Alhamdulillah, semua sudah menjadi kehendak Allah, kita tinggal menjalaninya." ucap mama Cakra bijak" Ir, Kamu sudah telpon Tono suruh jemput kita?" tanya mama pada mbak Irma.
"Ibuk... !" seru Afriana.
"Afri !" aku terkejut saat mendengar suara Afri di dekatku dan memang benar Afri datang bersama dengan Pak Catur" Salim dulu sama nenek dan bude!" perintahku pada Afriana, Afriana tanpa membantah langsung bersalaman dengan mama dan mbak Irma.
"Barakaallah, cucu nenek." ucap mama Cakra bahagia begitu pula mbak Irma tak kalah bahagia.
"Af, kalau Afriana bude ajak main dan tinggal di Jakarta mau ?" mbak Irma bertsnya pada Afriana.
__ADS_1
"Ehm... mau bude kalau sama ibuk, tapi... Ibuk kerjanya bagaimana?" ucap Afriana polos.
"Anak pintar, kalau liburan sekolah main ke Jakarta ya, sama ibuk dan ehmm.... " ucap mbak Irma langsung di potong oleh pak Catur.
"Paman akan ajak Afri, kemanapun Afri pergi bersama mbak Rahma dan mbak Aliya." ucap Pak Catur.
"Siaoa mbak Aliya?" tanya Afriana polos.
"Putri bude yang kuuuuueeeecil hampir sama dengan Afriana." gurau mbak Irma.
"Sekecil semut ya bude!" kelakar Afriana.
Kami semua yang mendengar ocehan Afriana hanya bisa tertawa bersama-sama tidak pernah aku sangka Afriana bisa bergurau.
"Kenapa, mas bawa Afriana ke sini." bisikku pada pak carut yang sedang duduk di sampingku.
"Kenapa nggak boleh?, diakan anakku juga, ya suka-suka aku lah." jawab pak Catur bahagia dengan wajah usilnya "Afri, sekarang Afri boleh panggil apa ke paman?" tanya pak Catur pada Afri dengan ekpresi menggoda.
"Rahasia, ya Paman." ujar Afriana dengan senyum bahagia.
"Ayo pulang kita lanjut lagi nanti di rumah, sudah sore keburu magrib." ucap mama Cakra.
__ADS_1
Akirnya kami semua meninggalkan plaza lawu dengan bahagia pak Catur menggandeng tangan Afriana sedang aku dan mbak Irma menggandeng tangan mama Cakra menuju area parkiran mobil.