TALAK

TALAK
Part 163 TALAK.


__ADS_3

Begitu para tamu dari keluarga pak Catur telah pulang, aku langsung membantu keluargaku untuk membersihkan sisa-sisa akad tadi, dan untuk menghindari banyak orang datang untuk kondangan maka bapak langsung menyuruh pihak wedding organisers membongkar tenda yang dipasang. Aku lihat pak Catur dengan rela ikut berpartisipasi juga dalam membersihkan rumah, bersama dengan Fauzan, mas Jamal, dan suaminya mbak Us serta beberapa kerabat lainnya. Jam empat sore lokasi sudah bersih bahkan tenda dan kursi sudah diangkut oleh pihak wedding organisers. Setelah semua rapi dan selesai melaksanakan sholat asyar berjamaah di mushola semua berkumpul duduk santai di ruang tengah selonjoran di lantai beralaskan tikar, masih ada tetangga atau saudara jauh yang tinggal di rumah kami sekedar bercengkerama atau sekedar melepas kangen karena sudah lama tidak berjumpa.


Benar dugaan keluargaku padahal tenda sudah dibongkar ternyata masih ada segerombolan ibu-ibu dan bapak-bapak dua belas orang datang berniat untuk kondangan dengan membawa tas berisi bahan makanan men"tah khas di kampungku.


"Buk, kok ada yang datang kita kan gak nyebar undangan dan tidak ada resepsi." ucapku.


"Mau gimana lagi Fah, kita gak nyebar undangan la di pabrikmu karyawannya semua di undang, dari mereka teman ibu di pasar tahu jika ibuk mantu, kan beberapa teman ibuk anaknya kerja di pabrik tempatmu kerja Fah." ucap ibuku.


Memang benar ada beberapa anak dari teman orang tuaku yang bekerja satu pabrik denganku. Begitu tamu masuk kami bersalaman dan kami duduk lesehan di tikar karena semua kursi sudah kembalikan.


"Ya Allah, mbak yu, kok ya repot-repot datang, kami tidak apa-apa lo, mantunya juga sudah selesai wong cuma buat buceng sepiring saja." ujar ibukku.


"Rejeki gak boleh ditolak, mbak yu, jangan dikembalikan ya."jawab ibu-ibu seusia ibukku, karena ada beberapa orang menolak sumbangannya jika tidak melakukan acara besar.

__ADS_1


"Nolak rejeki dosa lho Yu, kalau gak gini kapan kita mau nyumbang ketempatmu mbak Yu , kamu itu lo Yu sregep nyumbang, yo sudah sewajarnya to, kalau banyak yang datang." ucap ibu-ibu teman orang tuaku di pasar.


"Assalamu'alaikum." sepuluh orang datang lagi untuk menyumbang.


"Wa'alaikum salam." Sahut kami semua.


Pada akhirnya tamu datang silih berganti dan mereka itu semua teman orang tuaku, capek ya lumayan juga karena pada akhirnya aku dan Pak Catur harus duduk manis dan menyalami tamu yang datang, ya memang tidak sebanyak jika ada resepsi, namun lumayan kurang lebih seratus orang datang kondangan di tempatku.


"Dind, memang berapa banyak bapak sebar undangan, katanya gak perlu resepsi, kok banyak yang datang?" bisik pak Catur padaku.


"Nanti jam dua belas malam tamunya baru berhenti." sahut mas Jamal lirih yang tiba-tiba sudah ikut duduk dengan kami, karena kebetulan tamunya ada teman mas Jamal juga.


"Apa? lama amat mas!" bisik pak Catur pada mas Jamal namun aku masih bisa mendengarnya.

__ADS_1


Beruntung kerabat dan tetangga dekat masih berada di rumah orang tuaku jadi biarpun ada tamu semua masih bisa teratasi, walau hanya dengan menu ala kadarnya namun masih pantas.


Jam sepuluh makan tamu orang tuaku baru saja berhenti, namun aku masih harus ikut membantu memberskan rumah, sedangkan Pak Catur aku lihat juga masih bercengkerama dengan bapak dan kerabat lainnya.


"Fah, ajak sumamimu tidur, sudah malam!" perintah ibukku.


"Sebentar lagi, lagian Mas kebiasaan tidurnya jam sebelas malam kok, biar Afri tidur dulu." jawabku sambil menidurkan Afriana.


"Tuh Afri sudah merem, tidak baik meninggalkan suami terlalu lama, kalau duku dia tidur malam kan tidak ada istri, sekarang sudah beristri cepat ajak suamimu istirahat kasihan nanti kecapek an." nasehat ibukku.


"Sebentar lagi buk, biar Af, terlelap, lagian tadi juga sudah minta ijin ke Mas mau nidurin Afri dulu." sahutku.


"Awas jangan ketiduran di kasur ibuk." ucap ibukku.

__ADS_1


"Iya, ibuk." sahutku


__ADS_2