
Aku menitipkan anak-anak pada mbak Qibtiyah dan Mbak Inayah, setelah menyusui kedua bayiku aku menuju tmruang kerja Pak Catur, aku mengecek tentang berkas yang telah di kirim oleh mbak Priska tadi, dalam berkas memang ada sedikit kesalahan aku segera konfirmasi dengan mbak Priska dan sekretaris pak Catur. Karena waktu yang sudah mepet akhirnya aku kerjakan saja tidak mungkin malam-malam aku menyuruh sekretarisnya pak Catur untuk mengerjakan. Beruntung sekali kali ini anak-anakku tidak rewel dan Pak Catur juga tidur pulas mungkin karena pengaruh obat.
Mbak Inayah yang seharusnya pulang tidak harus nginep malam ini tanpa aku minta mbak Inayah memilih menginap membantuku menjaga Afwa dan Afwi. Jam sepuluh malam si kembar sudah pulas setelah aku susui, akupun me turuh mbsk Inayah untuk segera tidur.
Malam semakin larut, semua penghuni rumahku sudah terbuai dengan mimpinya, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam aku akhiri pekerjaanku yang tingal sedikit. Sebelum aku masuk kamar kau aku melihat Afwa, Afwi dan Afriana, kali ini Afriana tidak tidur di kamarnya malah ikut tidur di kamar si kembar. Afwa dan Afwi tidur di boxnya masing-masing sedangkan Afriana, Qibtiyah dan mbak Inayah tidur di kasur yang sudah aku sediakan. Melihat mereka bertiga tidur bersama-sama membuatku sangat bahagia, aku memang memberi kebebasan pada Afriana, dan para pekerja di rumahku mereka bisa tidur di kamar anak-anak atau di kamarnya sendiri.
"Mas, kok sudah bangun?" Aku terkejut saat aku masuk kamarku dan suamiku sedang bersandar di kepala ranjang karena aku mengira jika pak Catur madih tidur.
"Tadi dari toilet," jawab pak Catur masih lesu "Dinda tolong bisa ambil kan berkas yang di kirim mbak Priska tadi." pinta pak Catur, padahal kondisi masih lemah.
"Mas, istirahatlah dulu, supaya mas cepat sembuh." nasehatku lembut.
"Ini bukan untukku saja, sayang ada ribuan karyawan yang harus selamatkan." jelas pak Catur.
"Mas, Dinda tahu, tapi tolong istirahatlah mumpung anak-anak sekarang bisa tidur pulas." ucapku lembut sambil membelai lengan pak Catur.
"Anak-anak ?" Pak Catur baru sadar jika si kembar tidak ada di kamar.
"Mereka semua sedang tidur pulas jadi mas tidur dulu, soal pekerjaan mas bisa kerjakan besok kata mbak Priska masih ada waktu." nasehatku karena pak Catur masih sangat lemah.
"Tolong bangunin besok jam tiga pagi." pinta pak Catur dan kembali berbaring.
Aku ikut berbaring di dekat pak Catur seperti biasa, aku melihat pak Catur sudah terbuai mimpi dan kali ini suhu tubuh sudah normal. Aku berusaha untuk memejamkan mataku namun tetap tidak bisa karena tidak ada kedua putraku di kamarku, Kalaupun tidur hanya tidur ayam.
__ADS_1
Aku terbangun saat mendengar suara tangisan kedua bayiku, aku langsung beranjak dari tempat tidur ku tanpa menghiraukan suamiku yang telah tertidur pulas.
"Sudah lama mbak nangisnya?" tanyaku pada mbak Inayah dan Qibtiyah yang sedang menenangkan kedua bayiku.
"Baru saja buk, barusan saya mau memanggil ibu." sahut Qibtiyah.
"Biar aku susui." Aku segera menyusui anakku satu persatu, namanya juga anak kembar jadi satu haus satunya juga ikut haus.
Selesai menyusui kedua bayiku aku tidurkan keduanya, setelah kedua bayiku tidur aku kembali ke kamar berniat untuk membangunkan suamiku karena jam sudah menunjukkan pukul empat sebenarnya aku tidak tega untuk membangunkannya namun waktu subuh sebentar lagi juga tiba, biar tidak telat sholat subuh.
"Mas." panggilku lembut sambil memnggoyangkan tubuhnya.
"Jam berapa?" tanyanya dengan mata masih tertutup enggan untuk bangun.
"Tidak mengapa." suamiku segera bangkit dari ranjang dan segera menutup kamar mandi untuk membersihkan diri, sedang aku berbaring di atas kasur sambil menunggu suamiku.
Suara Adzan subuh berkumandang dengan merdunya, suamiku baru keluar dari kamar mandi yang sudah basah berarti sudah sekesai wudhu, berhubung aku madih nifas maka pak Catur sholat berjamaah dengan Afriana dan penghuni rumah yang lain, sedang aku bergantian menjaga kedua bayiku sambil rebahan di kasur.
"Bu, bangun sebaiknya ibu pindah." sebuah suara lembut membuyarkan mimpi indahku.
"Ternyata aku tertidur, terima kasih, bapak di mana?" Aku buka mataku.
"Bapak kelihatannya madih ngaji bu." sahut Inayah, Inayah menjaga bayi sedangkan Qibtiyah sudah sibuk denfan dapurnya.
__ADS_1
Aku bangkit berdiri meninggalkan kamar si kembar, aku menuju mushola kecil yang ada di rumah aku dapat mendengar suamiku yang sedang melantunkan ayat suci Al qur'an, karena aku ngantuk aku segera kembali ke kamarku untuk melanjutkan mimpi indahku.
Cahaya pagi menerobos kamarku, suara kicauan burung, serta bisingnya suara mesin kendaraan mulai mengusik gendang telingaku. Saat aku membuka mataku aku tidak menemukan tubuh suamiku setelah aku melihat jam ternyata sudah jam setengah delapan, dalam artian aku harus segera menyusui kedua bayiku, aku telat menyusui kedua bayiku, Bukan hanya itu saja aku juga tidak bisa mengantar Afriana sampai gerbang untuk berangkat ke sekolah.
"Pagi buk." sapa Romlah, ya pagi ini ganti Romlah yang menjaga kedua bayiku karena Inayah sudah pulang.
"Pagi mbak Rom," sahutku dengan wajah masih lusuh karena hsnta cuci muka dan sikat gigi" Adik sudah mandi?" tanyaku walau sebenarnya aku juga sudah tahu jika anakku sudah wangi dan bersih.
"Sudah buk." sahut Romlah sopan.
Selesai menyusui aku menyusul ke ruang kerja Pak Catur, ya di sana pak Catur sudah berkutat dengan komputer dan juga berkas-berkasnya.
"Assalamu'alaikum Ayah." sapaku di pagi ini dengan keadaanku yang masih kucel.
"Sayang sudah bangun." sahut pak Catur langsung menghentikan aktifitasnya dan segera menatapku.
"Sudah, maaf aku tadi tidur lagi." sahutku langsung duduk di dekat pak Catur "Maaf semalam aku kerjakan tanpa ijin mad dulu." cicitku.
"Terima kasih Dinda sayang, maaf membuatmu ikut bekerja." ucapnya dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Aku mandi dulu, apek." ucapku langsung bangkit berdiri.
"Cepetan sayang lalu temani aku sarapan, dan dandan yang cantik." pinta pak Catur padaku.
__ADS_1
"