TALAK

TALAK
Part 257 TALAK.


__ADS_3

Mobil berjalan dengan kecepatan sedang setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit kami semua telah tiba di rumah orang tua mas Ringgo, aku melihat orang tua mas Ringgo sudah berada di teras untuk menyambut kedangan kami. Kami turun dari mobil secara bergantian bapak di gandeng oleh mas Jamal berjalan duluan, tidak lupa kami juga membawa buah tangan, aku, Afriana, dan Pak Catur berjalan bergandengan.


"Assalamu'alaikum." Kami semua mengucap Salam.


"Wa'alaikum salam." orang tua mas Ringgo menyebut kami dengan wajah yang berbinar-binar.


Kami bersalaman secara bergantian, orang tua mas Ringgo memeluk Afriana dan menangis haru melihat Afriana yang kini sudah menjadi gadis remaja, setelah Afriana ibu mas Ringgo juga memelukku masih dengan tangis haru. Kami semua dipersilakan masuk adik-adik mas Ringgo dan ketua RT juga sudah berada di dalam rumah keluarga mas Ringgo. Aku duduk bersebrlahan dengan suamiku dan keluargaku sedang Afriana duduk bersama kakek nenek orang tua dari mas Ringgo. Sejujurnya aku sangat canggung karena sudah lama aku tidak lagi menginjakkan kaki di rumah ini, biasanya jika Afriana kesini itu di antar oleh sopir dengan didampingi oleh keluargaku entah bapak atau Fauzan.


"Assalamu'alaikum, warahmatullahi wabarakatu." pak RT memberi Salam sebagai pembukaan. " Saya sebagai wakil keluarga saudara Ringgo sebelumnya mengucapkan banyak terima kasih kepada keluarga besar ibu Afifah, yang dengan rela hati mau menolong keluarga saudara Ringgo dengan ikhlas, dan saya sebagai ketua RT mengucapkan banyak terima kasih atas partisipasinya pak Catur, yang sudah sering menolong warga di RT saya selama ini, setelah ini kita bahas tentang kepulangan saudara Ringgo dan langkah selanjutnya, supaya saudara Ringgo bisa kembali sehat seperti sedia kala. Terima kasih banyak atas dukungannya, wassalamu 'alaikum warah matullahi wabarakatuh.


Pak RT menerangkan secara terperinci tentang surat keterangan dan prosedur dari rumah sakit jiwa tentang kepulangan mas Ringgo. Aku tahu tentang apa yang di lakukan oleh pak Catur termasuk kebiasaannya dalam menolong kaum duafa, karena yang aku tahu kuargs Cakra orang-orang yang sangat dermawan, berhati mulia.


Aku tidak pernah menyangka jika kedatangan kami akan di sambut begitu hormat oleh ketua RT-nya toh kunjungan kami hanya sekedar menyambung tali silaturohim.


"Terima kasih pak RT, berkat ketangkasan pak RT dalam mengurus Bpjs nya nak Ringgo sehingga, alhamdulillah anak saya bisa sembuh kembali, terima kasih nak Afifah nak Catur, saya sebagai orang tua Ringgo says Mohon maaf yang sebesar-besarnya khusus kepada nak Afifah dan Afriana, dan juga nak Catur karena nak Catur sudah begitu sayang dan mendidik Afriana menjadi anak yang Sholehah, menjaga Afifah dan Afriana begitu tulus." ucap bapaknya mas sudah dengan mata yang ber kaca-kaca, begitu pula ibunya mas Ringgo.

__ADS_1


"Sama-sama." jawab kami semua yang ada di ruang tamu.


"Besok itu rencananya bagaima, selain saya dan orang tua saudara Ringgo siapa yang ikut menjemput saudara Ringgo, untuk akomodasi sudah disepakati menggunakan mobil dari panti milik keluarga pak Catur?" tanya pak RT sopan.


"Untuk Besok saya dan istri saya Mohon maaf tidak bisa ikut karena kami ada pekerjaan lain." ucap Pak Catur sopan.


"Saya dan bapak juga tidak bisa ikut, kami akan menunggu di rumah saja." ucap mas Jamal.


Keluargaku memang sengaja tidak mau ikut menjemput karena kami tidak ingin terlibat terlalu jauh, tugas kami hanya sekedar membantu sesama umat manusia, kini Afriana juga tidak mau ikut kalau aku dan kuargaku tidak ada yang ikut, sebenarnya aku, pak Catur dan keluargaku sudah berulang kali membujuknya untuk ikut namun Afriana tetap tidak mau ikut menjemput mas Ringgo.


"Berhubung sudah mencapai kesepakan saya dan keluarga mohon pamit, sekali lagi kami mohon maaf tidak bisa ikut menjemput Ringgo." pamit bapak.


"Kami justru yang minta maaf dan terima kasih sebanyak-banyaknya sudah merepotkan kalian semua selama ini." ucap bapaknya mas Ringgo.


"Af, kamu nginep sini ya?" tanya ibuknya mas Ringgo pada Afriana.

__ADS_1


"Inshaallah besok saja mbah, nginepnya," sahut Afriana sopan.


"Belajar yang rajin nurut sama ibuk dan ayahmu, mereka sangat menyayangimu Af, mbah hanya bisa mendoakan saja." nasehat ibunya mas Ringgo pada Afriana.


"Iya, mbah." sahut Afriana sedikit canggung.


"Saya pamit dulu buk," pamitku pada ibunya mas Ringgo.


"Hati-hati terima kasih Fah, maafkan kelakuan anak ibuk berbahagialah dengan keluargamu, jaga mereka, kamu memang pantas mendapatkan suami yang berhati Mulia seperti nak Catur." tutur ibunya mas Ringgo lembut.


"Ibu jaga diri baik-baik, maaf selama ini saya tidak berkunjung ke sini." ucapku.


"Ibuk paham itu, keselamatan dan kebahagiaan Afriana lebih penting dari Segalanya, ibuk merasa gagal dalam mendidik anak-ansk ibuk." ucap ibunya mas Ringgo sedih.


"Semoga setelah ini kita tetap menjadi keluarga, dan tidak ada dendam diantar kita." ucapku.

__ADS_1


Setelah kami semua berpamitan kami melangkah menuju mobil kami, dan kami meninggalkan keluarga mas Ringgo dengan perasaan lega, minimal kami sudah mulai bisa membangun tali silaturahim dengan baik walau belum sempurna.


__ADS_2