
Sidang pertamaku selesai dalam waktu satu jam, aku dan mas Ringgo keluar dari ruang sidang, mas Ringgo langsung menuju parkiran sepeda motor entah dia datang dengan siapa aku juga tidak tahu. Selesai dari counter untuk mendapatkan jadwal sidang yang baru aku segera menemui mas Jamal yang menungguku di parkiran sepeda motor.
"Sudah selesai mas, ayo pulang." ajakku pada mas Jamal yang sedang ngobrol dengan tukang parkir.
"Kamu langsung kerja opo pulang, Fah?" tanya mas Jamal padaku.
"Pulang dulu saja, mas, soale masih jam sebelas, dan ada jajan untuk Zahra, masih di rumahku, ibuk dan Nafisa juga gak tahu, kapan hari aku tugas ke Jakarta aku di bawa in banyak jajan oleh keluarganya bosku." ucapku pada mas Jamal sambil memakai helm.
"Ayo!" perintah mas jamal," Bagaimana sidangnya tadi?" tanya mas Jamal padaku.
"Nanti saja aku cerita in, mas." jawabku sambil naik keboncengan.
Mas Jamal segera menstarter motornya untuk pulang kerumahku, aku tidak mampir kemana-mana, dalam waktu kurang lebih dua puluh menit aku dan mas Jamal sampai di rumahku.
Keadaan rumah masih sepi, hanya ada ibuku yang sedang menjemur padi di halaman rumah bapak lagi ke sawah, Afriana masih sekolah, Nafisa juga belum pulang dari ngajarnya karena ada rapat.
"Assalamu'alaikum." ucapku saat turun dari motor mas Jamal.
"Wa'alaikum salam, rampung, Fah, bagaimana?" tanya ibuku padaku." Mal ada es dawet di kulkas kamu ambil sendiri, dan makan sana dulu sebelum pulang ada sayur asem sama botok lamtoro cari sendiri, ambil sendiri!" perintah ibuku yang duduk di teras pada mas Jamal.
"Inggih buk, aku ya maem buk lapar." jawab mas Jamal dan langsung masuk dalam kerumah.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Buk," jawabku singkat " Padinya kok dijemur lagi to buk?" tanyaku.
"Iyo, soale padinya dingin nanti sore mau di selep(giling) kalau gak dijemur lagi nanti hasil berasnya gak bisa utuh-utuh, dan juga kurang bagus." jawab ibuku yang duduk di teras" Jajane untuk Zahra jangan lupa Fah." ibuku mengingatkanku.
"Iya buk, ini mau aku kasihkan ke mas Jamal."
Aku segera masuk kedalam rumahku, aku ambil jajan yang sudah aku siapkan untuk Zahra dan kuarga mas Jamal, setelah selesai aku ambil aku kembali kerumah ibuku, aku serahkan pada mas Jamal.
"Fah, kamu masak gak? makan saja sekalian temani masmu, sayur asem e seger apalagi di tambah botok lamtoro, Mal kamu tahu gak kalau ada peyek dan krupuk di kaleng!" seru ibuku yang tetap duduk di teras, sedang mas Jamal sudah duduk di depan TV sambil makan.
"Inggih buk, kayane seger nih." ucapku saat baru masuk kedalam rumah orang tuaku dan melihat mas Jamal sedang makan.
"Sampun buk!" jawab mas Jamal singkat karena sedang makan.
"Makasih, Fah." jawab mas Jamal yang tetap makan tanpa menoleh kearahku.
Aku segera masuk ke dapur ibuku untuk mengambil nasi dan lauk, aku ikut-ikutan mas Jamal makan dan duduk di lantai depan TV, tidak berselang lama ibuku juga ikut masuk namun ibukku hanya duduk sambil menonton TV. Selesai makan mas Jamal membuka tas kresek dari ku dan melihatnya dengan mata terbelalak.
"Fah, kok banyak banget jajannya, kamu itu kerja sendirian cukup beli buat keponakanmu saja, aku dan mbakmu gak usah kamu jatah, bukannya aku gak suka kamu kasih, Fah, tapi aku gak tega jika harus ngambil harta darimu, seharusnya aku yang ngasih ke kamu, Fah, karena kamu sekarang itu ikut tanggung jawabku, jangan lupa kamu tabung uangnya, Afriana masih butuh banyak biaya dan rumahmu juga belum jadi seratus persen." pesan mas Jamal.
"Sebenarnya bukan aku yang beli mas, tadi aku kan sudah bilang kalau jajannya itu dari bosku yang ada di Jakarta dan juga bosku yang di sini." jelasku.
__ADS_1
"Jajane banyak sekali, Mal, dua koper besar, entah habis berapa juta saja untuk belanja, wong kata Nafisa satu kaos itu harganya bisa dua ratus ribu, kita semua dapat jatah, Mal." jelas ibuku ikut menimpali.
"Rejeki jangan di tolak mas," ucapku sambil makan" Mas nanti selesai sidang aku mau renovasi rumah, tapi aku hanya ada uang lima puluh juta, tolong ya mas kamu renovasikan!" pintaku pada mas Jamal.
"Gampang, nanti aku atur tinggal kamu mau renovasi kaya apa, nanti biar aku garap sama timku." jawab mas Jamal santai " Kalau kamu selesai sidang pas habis panen, sekalian aku kirim padinya biar kamu gak beli beras." ucap Mas Jamal lagi.
"Wong padi darimu yang dulu itu lho masih dua karung belum tak gilingkan, gak usah di kirim lah mas." tolak ku.
"Kamu masak apa nggak yang penting aku kirim padinya, wong mampuku cuma bisa kasih padi ke kamu itupun waktu panen saja, mau kasih uang ya aku gak punya banyak uang." ucap masku sambil minum es dawet.
"Terima saja, Fah memang itu sudah kewajibannya masmu juga, kecuali kalau kamu sudah menikah lagi, baru kewajiban untuk nafkah jatuh ke tangan suamimu." terang ibuku santai.
"Aku kan gak enak buk, wong aku juga sudah kerja gajiku ya lumayan banyak." jawabku.
"Aku gak ngasih ke kamu, bisa-bisa mbak Yahmu ngomel tujuh hari tujuh malam, Fah." jawab mas Jamal.
"Terima kasih, mas, akukan gak enak sama mbak Yah, dan untuk biaya sekolah kedua keponakanku juga tidak sedikit" ucapku.
"Fah, rejeki kita itu sudah di atur oleh gusti Allah, Fah , kamu jangan khawatirkan kami, kamu itu tanggung jawabku Fah, wes jangan ngeyel!" protes mas Jamal.
"Denderin nasehat masmu itu Fah!" nasehat ibuku padaku.
__ADS_1
"Inggih, Buk, inggih mas."
Aku sangat bersyukur karena mas Jamal dan mbak Yah sangat memperhatikan keluargaku dan keluarga mbak Yah, setiap kali panen padi selalu ngirim entah itu beras atau masih berupa padi kepada kedua orang tua masing-masing, dan sekarang di tambah ngirim ke aku karena aku tidak bersuami lagi. Keluargaku memang sangat bisa di andalkan kalau Fauzan dan bapak sering mengasih uang jajan ke Afriana, di tambah mbak Us yang ada di luar kota juga tiap bulan ngirim buat Afriana di barengkan dengan uang jatah untuk kedua orang tuaku. Saat aku sedang makan dan ngobrol dengan ibuk serta mas Jamal ada suara mobil berhenti di depan rumahku, suara mobil yang susah sangat familier di telingaku.