
"Seharian tadi kemana saja Ton?" tanya bu Priska pada pak Catur.
"Kemana ? Ngecek pembangunan pabrik dan lihat sebentar tanah yang di sebelah pabrik " jawab pak Catur yang sudah duduk di ruang tengah bersama Bu Priska dan Pak Anam.
"Masa sampai malam begini baru pulang, apa ada masalah serius di sana?" tanya pak Anam penasaran.
"Enggak, mas" jawab pak Catur sambil minum jus apel buatan bu Priska.
"Tumben kamu sama Afifah pergi agak lama?" cecar bu Priska.
"Ehmm... " jawab pak Catur tanpa di teruskan.
"Kenapa ?" tanya bu Priska semakin penasaran.
"Mbak, Ehmm... Seberapa jauh mbak tahu mbak tentang Afifah ?" tanya pak Catur pada bu Priska.
"Kenapa ?" tanya bu Priska yang duduk di samping pak Anam.
"Mbak, tahu kali Afifah bermasalah dengan suaminya?" tanya pak Catur sedikit canggung.
"Darimana kamu tahu kalau Afifah bermasalah dengan suaminya ?" bu Priska tidak menjawab malah balik tanya, sengaja memancing pak Catur agar bicara.
"Darimana Ton kamu tahu?, perasaan dari dulu kamu tidak pernah perduli dengan urusan pribadi stafmu?" ganti pak Anam yang mengajukan pertanyaan.
"Atau jangan - jangan kamu mau mendekat i Afifah, jelaskan Ton!" tebak bu Priska.
"Iya, tadi pagi aku melihat Afifah ke Pengadilan Agama, dan tadi siang aku tanya ke Afifah, dan jawabannya dia sedang mengajukan gugatan cerai ke suaminya" jawab pak Catur.
"Segitunya perhatianmu pada sekertarismu" ucap bu Priska.
"Tumben Ton" timpal pak Anam.
"Apa salahnya mbak, mas " jawab pak Catur.
"Ya, aku dah tahu dari kemarin lusa kalau dia mau ngurus perceraiannya " ucap bu Priska.
"Jadi! Mbak sudah tahu kalau kalau dia mau bercerai? " tanya pak Catur tambah penasaran.
__ADS_1
"Sudah, kenapa kamu kelihatan gelisah gitu, kalau kamu suka sama Afifah biar aku ngomong sama mama dan papa untuk melamarnya" ucap bu Priska enteng.
"Sudah malam aku mau pulang dulu, terima kasih jusnya dan terima kasih pinjaman sepeda motornya, pamit dulu mas, Assalamu'alaikum " ucap Pak Catur.
"Wa'alaikum salam, hati - hati, aku senang kalau kamu sudah membuka hatimu untuk mencari pasangan hidup, mbak dan mas akan selalu mendoakanmu " ucap bu Priska dengan senyum hangatnya.
"Terima kasih, mbak, mas"
Pak Catur langsung meninggalkan kediaman bu Prisaka dengan perasaan bahagia, sebuah perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan semenjak meninggalnya anak dan istrinya beberapa tahun lalu.
"Semoga pilihanku tidak salah pah" keluh bu Priska pada suaminya.
"Semoga, mah, akupun ingin melihat Tono bahagia bersama keluarganya, pintar juga kau merekomendasikan sekertaris buat Tono " ucap Pak Anam dengan senyumnya.
"Aku, suka dengan karakter Afifah, pekerja keras, lembut, penyayang, sabar aku rasa cocok dengan Tono, mungkin mantan suaminya Afifah itu buta mata buta hatinya, tidak bisa melihat berlian " ucap bu Priska.
"Maksudnya?" tanya pak Anam.
"Sebenarnya, Afifah sudah di talak sama mantan suaminya lebih dari setahun, dan selama 10 tahunan suaminya tidak bekerja malah menuduh Afifah yang bukan - bukan, memang tidak ada kekerasan fisik, tapi ya itu mulutnya bener - bener bikin panas ati, menuduh, menfitnah bisanya cuma marah - marah menuntut Afifah untuk membangun rumah yang besar nan mewah, tidak mau kerja tapi pinginnya hidupnya enak uang selalu pegang jalan - jalan bak anak sultan seperti keturuanan ratu Elizabeth, entahlah bikin aku ikut emosi " cerita bu Priska panjang lebar.
"Kok, kamu yang emosi mah, mama tidak tanya kenapa dia bisa bertahan segitu lamanya?" tanya pak Anam.
"Jaman sekarang sulit menemukan wanita seperti dia, beruntung kalau Tono dapat jodoh seperti Afifah " tambah bu Priska lagi.
"Aku juga sangat beruntung punya istri seperti mamah" ucap Pak Anam " Sudah malam ayo istirahat " ajak pak Anam.
Selesai mandi aku beserta kedua orang tuaku menonton television sambil menunggu kepulangan Fauzan dan Nafisa yang pergi ke clinic untuk memeriksa kan diri. Fauzan dan Nafisa pergi ke Clinic yang buka dua puluh empat jam dan kebetulan tidak begitu jauh dari rumah hanya perlu dua puluh menit jarak tempuh dari rumah. Karena sudah malam Afriana sudah tidur di pangkuan Afifah,setelah dua jam menanti akirnya Fauzan dan Nafisa datang dengan wajar yang berbinar binar menandakan bakal ada berita bahagia.
"Assalamu'alaikum " sapa Nafisa saat masuk rumah" Alhamdulillah, sudah dapat rejeki!" seru Nafisa bahagia.
"Alhamdulillah" syukur kami semua penuh kebahagiaan
"Mulai sekarang jangan angkat yang berat - berat, dan jangan terlalu lelah, Zan, jaga istrimu jangan biarkan Nafisa kecapaian dan kamu harus lebih perhatian pada Nafis " perintah ibuku.
"Iya, Buk pasti itu, Alhamdulillah setelah sekian tahun akhiranya dapat rejeki" syukur Fauzan dengah wajah yang berbinar binar bahagia.
"Terima kasih mbak ayam panggangnya, sekarang aku tidak pingin lagi" ucap Nafisa bahagia.
__ADS_1
"Keponakan bupuh memang pintar ya, ternyata minta ayam panggang dari bupuh, habis ini minta apa lagi bupuh belikan " ucapku sambil mengelus us perut Nafisa yang masih datar.
"Iya, nih kayanya Afriana bakal dapat saingan baru nih !" celetuk Fauzan.
"Jangan lupa di hitung supaya tepat untuk bancaan tiga bulanan dan tujuh bulanan "ucap bapak.
Kami sekeluarga tertawa bahagia, di saat aku harus mengajukan gugatan cerai adiku mendapatkan rejekinya dengan datangnya seorang bayi mungil yang masih berada di dalam kandungan Nafisa.
Karena hari sudah larut malam aku pulang kerumah ku, Fauzan menolong ku menggendong Afriana untuk di tidurkan di kamar rumahku. Setelah Fauzan pulang dan aku kunci semua pintu serta jendela, aku buka hand phone untuk mengecek chat WhatsApp, dan ternyata ada beberapa pesan dari Pak Catur.
[Besok pagi aku jemput]
[Tolong bawakan bekal untuk sarapan ku besok]
[Menunya terserah apa saja yang kamu masak besok]
[Jangan berangkat kalau aku belum datang]
[Terima kasih]
Melihat pesan dari Pak Catur aku hanya senyum - senyum sendiri keheranan, tidak biasanya pak Catur kirim pesan di waktu malam hari. Sebelum tidur akupun membalas chat dari Pak Catur, supaya besok pagi tidak datang.
[Tidak usah repot - repot jemput saya pak, besok saya di antar oleh bapak saya, terima kasih ] send.
[Soal bekal, besok saya bawa kan, bapak jangan kuwatir ] send
Tidak begitu lama balasan dari Pak Catur mundul di pesan chat WhatsApp
[Besok tunggu aku, aku jemput kamu] pak Catur.
[Tidak enak di lihat tetangga kanan kiri, saya hidup di kampung pak] Afifah send.
[Bilang saja kalau aku tukang ojek, bereskan] pak Catur.
[Terserah bapak, kalau bapak datangnya pagi, ya monggo tapi kalau waktu saya berangkat bapak belum datang ya saya di antar oleh bapak saya] Afifah send.
[Aku akan berangkat subuh] pak Catur.
__ADS_1
[Selamat malam] Afifah send.