
"Mbak Qib." panggilku ketika mbak Qibtiyah lewat dekatku.
"Ya, buk." Mbak Qibtiyah langsung menghampiriku.
"Ayo kita ke pasar pingin beli pisang kepok." ucapku.
"Naik apa buk? Sopir lagi ngantar bapak" sahut mbak Qibtiyah bingung.
"Motor saja." usulku.
"Hah jangan buk, saya takut di marahi bapak," tolak mbak mbak Qibtiyah takut " Nanti saja buk biasanya tukang sayur yang lewat dapan rumah itu ada pisang kepoknya." jelas mbak Qibtiyah lagi.
"Kalau gak ada bagaimana? Wong pinginku naik sepeda motor ke pasar terus beli pisang kepok." Aku tetap ngeyel pingin jalan-jalan di pasar.
"Pamit bapak dulu buk, atau saya yang belikan saja, lagian ibuk tidak boleh terlalu capek atau stress, nanti saya yang kena marah bapak." nasehat mbak Qibtiyah.
"Tidak apa-apa mbak, sebentar saja kan, gak mungkin aku capek kalau cuma ke pasar saja." kekehku.
__ADS_1
"Saya tidak berani buk." tolak mbak Qibtiyah "Soale bapak sudah pesan agar ibuk tetap di rumah dan menunggu bapam pulang jika mau kemana-mana."
"Kalau begitu aku berangkat sendiri saja mbak, lagian pasarnya kan dekat." ujarku.
"Baiklah Buk, ibuk jangan berangkat sendiri." akhirnya mbak Qibtiyah mengalah.
Para besar kota Madiun, itu yang menjadi tujuanku aku sudah lama tidak lagi ke pasar entah kapan terakir aku ke pasar, bukannya aku sombong tapi lebih ke tidak ada waktu. Dulu sebelum menikah walau sebulan sekali masih bisa ke pasar besar, sejak menikah langsung hamil merubah segalanya.
"Mbak Rom, maaf titip anak-anak dulu, aku tinggal ke pasar." pamitku pada mbak Romlah.
"Loh, ke pasar? Buat apa buk?" tanya mbak Romlah keheranan karena selama menjadi istri pak Catur aku belum pernah sekali pergi ke pasar
Dengan mengendarai sepeda motor matick aku dan mbak Qibtiyah meluncur menuju pasar besar, karena masih pagi jalanan lumayan rame. Mbak Qibtiyah mengendarai sepeda motor dengan kecepatan sedang. Setelah lima belas menit perjalanan aku dan mbak Qibtiyah sudah sampai di pasar besar. Begitu sampai di pasar aku dan mbak Qibtiyah langsung menuju tempat orang menjual pisang, di sana berbagai macam pisang tersedia, ada pisang tanduk, pisang ijo, pisang ambon, pisang raja, pisang ulin, pisang, pisang kepok dan masih ada bebetapa jenis pisang lainnya. Tadinya aku hanya ingin membeli dua sisir pisang kepok untuk di goreng, namun nyatanya begitu sampai di lokasi aku juga memeilih pisang ojo dan pisang raja.
"Nbak Qib, pisangnya di taruh di motor dulu, terlalu berat di tenteng." usulku.
"Baik, buk memaange kita mau kemana lagi?" tanya mbak Qibtiyah penasaran.
__ADS_1
"Kita lihat-lihat sebentar mbak Qib." ujarku.
"Adik sebentar lagi waktunya minum Asi lo bu." Mbak Qibtiyah mengingatkanku, ya memang benar begitu aku melihat jam sudah waktunya aku aku harus menyusui Afwa dan Afwi.
"Ya, sudah mbak kita pulang saja, takut mereka rewel." ujarku.
Tanpa pikir panjang aku dan mbak Qibtiyah, langsung menuju parkiran, sekarang enam sisir pisang sudah aku beli, kalau biasanya aku membeli lewat onlin sekarang aku merasa puas karena bisa memilih pisang di pasar dengan berbagai macam pilihan. Dengan kecepatan sedang kami bedua menaiki sroeda motor untuk kembali ke rumah.
"Kenapa ibuk pergi ke pasar sendiri biasanya kan ibuk beli lewat online?" tanya mbak Qibtiyah padaku.
"Entahlah mbak, aku lagi kepingin pergi ke pasar saja mbak makanya aku ngajak kamu." jawabku jujur apa adanya.
Perjalanan untuk kembali ke rumah lumayan memakan waktu karena ada kecelakaan kecil sehingga sedikit macet, sedang mau putar balik sudah tidak mungkin karena lewat jalur searah. Setelah setengah empat puluh lima menit di jalan akhirnya kita berdua sampai rumah dengan selamat.
"Mbak, aku masuk dulu." begitu aku turun dari motor aku langsung mencuci tangan dan kaki pada kram yang ada di halaman rumah, dari luar aku sudah mendengar Afwa dan Afwi yng sedang rewel.
"Sudah lama mbak nangisnya?" tanyaku begitu masuk ke kamar anak-anak.
__ADS_1
"Baru sepuluh menit an buk." jawab mbak Romlah.
"Syukurlah." Aku segera menyusui Afwi, sedang Afwa masih bisa menunggu.