
Malam ini terasa sangat capek padahal siang tadi pekerjaanku tidak sperti biasanya, aku hanya membantu bu Priska juga cuma setengah hari, malam merambat dengan lambannya, hawa dingin dan angin kencang sangat mengusik kegelapan malam yang tiada bintang maupun sinar bulan. Aku tidak dapat tidur, tubuhnku terasa berbeda sekali, terasa capek seperti habis berkelahi, ya aku tahu ini kebiasaan jika akan terjadi sesuatu, entah itu tamu yang berniat jahat atau sekedar tamu yang bertujuan untuk mengingatkan. Jam dua belas malam kurang sepuluh menit aku segera mengambil air wudhu, aku tunaikan sholat khajad dan aku lanjut dengan dzikir yang biasa aku amalkan, tepat jam dua belas malam lebih lima belas menit tiba - tiba di atas genteng rumahku terjadi sebuah ledakan yang sangat keras, tanpa berpikir panjang aku langsung membaca ayat kursi sebanyak - banyak dan aku hanya berkata" Kembalilah kau ke tempat asalmu jika kau ingin selamat, dan sampaikan ke tuanmu kedatangananmu sudah aku sambut dengan hormat." ucapku namun aku tetap melanjutkan dzikirku, aku tahu ada kiriman banas pati dari seseorang untuk mencelakaiku, namun siapa orangnya aku tidak tahu.
Pertempuranku dengan banas pati hanya sebentar, karena banas pati tidak mampu melawan dzikirku. Selama ini bapakku selalu mengingatkanku untuk selalu melaksanakan ibadah dengan tekun dan perbanyak berdzikir untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, agar selamat dari mara bahaya. Menurut orang -orang yang memiliki kemampuan lebih, mereka selalu melihat bahwa ada seekor macan putih yang setia melindungiku(Khodam pengikut macan putih menurut orang pintar). Ya seperti malam ini sebenarnya tanpa di ketahui oleh orang normal sejak jam dua belas malam macan putih sudah mulai bertempur dengan banas pati, dan hanya butuh waktu lima belas menit banas pati di kalahkan oleh macan putih.
Khodam pengikut macan putih yang bersamaku konon katanya, macan putih milik buyutku Kyai Grinting, dan Kyai Grinting dapat dari Kakeknya namun aku sudah tidak jelas ceritanya yang aku tahu hanya Kyai Grinting. Bapakku sering menceritakan tentang kehebatan dan keshalehan Kyai Grinting, walau Kyai Grinting bukan Kyai besar namun cukup masyur di jamannya khususnya di desaku karena Kyai Grinting yang telah membuka desa yang aku tempati sekarang, dan mengalahkan siluman yang menghuni tempat ini sebelumya.
"Alhamdulillah, ya Allah engaku masih melindungi hambamu ini." doaku dalam hati selesai dzikir aku lanjutkan dengan membaca ayat suci Al qur'an hingga mata ini benar- benar ngantuk.
Di tempat sang dukun, telah terajadi pertengakaran kecil antar dukun dan tamunya "Le, kamu gak salah orangkan?" gertak sang dukun.
"Gimana mbah?" tanya Ringgo gugup.
"Aku, menyerah kalah, aku sudah berusaha melawan macan putihnya Kyai Grinting, namun aku tak mampu untung masih di ampuni syaratnya aku tidak melanjutkan permintaanmu untuk mencelakai cucu kesayangannya, dia bukan tandinganku." terang sang dukun.
__ADS_1
"Terus gimana mbah ?" tanya Ringgo penasaran.
"Aku sudah bilang, aku tidak sanggup melawan Kyai Grinting, carilah dukun yang kuat aku sarankan carilah dukun dari timur, itupun aku tidak yakin kalau bisa mengalahkan macan putihnya Kyai Grinting, perempuan yang ingin kau celakai bukan perempuan biasa dia memiliki dua Khodam pengikut" saran mbah dukun" Cepat kau keluar dari ruanganku, aku terluka parah dan aku tidak ingin celaka oleh ulahmu." gertak sang dukun.
Ringgo yang melakukan perjanjian dengan snag dukun langsung keluar dari ruangan sang dukun dengan wajah kesal dan marah karena tidak berhasil mencelakai Afifah" Awas kau Afifah." gerutu Ringgo.
Aku terbangun ketika adzan subuh berkumandang, badanku terasa sangat tidak enak dan pegal- pegal sekali. Aku tunaikan kewajibanku dan melakukan aktifitas seperti biasa.
"Fah." panggil bapakku dari pintu depan.
"Kamu ndak apa -apa kan?" tanya bapakku yang masih berdiri di depan pintu.
"Mboten, pak alhamdulillah." jawabku singkat.
__ADS_1
"Ini yang ngirim durung kapok, kamu hati-hati, Fah, amalkan doa -doa yang bapak ajarkan ke kamu, dan yang terpenting jangan sampai terputus dzikirmu, supaya kamu bisa menghalau tamumu nanti, yo wes bapak tak nyusul ibukmu ke pasar, tadi habis ngantar ibukmu aku balik ingin melihat keadaanmu." ucap bapakku dan langsung pergi lagi.
"Inggih, pak inshaallah tetap saya jaga amalannya." jawabku singkat dan kembali masuk rumahku dan aku kunci lagi.
Pagi ini rasa kantuk benar -benar menyiksaku hingga sampai di kantor aku sering menguap saat mengerjakan laporan, dan yang lebih parah lagi banyak terjadi kesalahan pula hingga pak Catur menegurku.
"Mbak, Fah! Mbak apa masih ngantuk?" sapa Pak catur yang sudah berdiri di depan meja kerjaku.
"I... Iy... Iya pak, maaf." jawabku gugup.
"Semalam begadang sampai jam berapa kok masih ngantuk? Apa ada masalah?" tanya pak Catur padaku.
"Semalam... Mungkin jam tiga-an baru tertidur." jawabku jujur " Maaf pak." ucapku lagi.
__ADS_1
"Tidak apa- apa mbak." jawab pak Catur" Oh ya mbak jangan lupa minggu pagi kita berangkat ke bandara." ujar pak Catur mengingatkan.
"Iya, pak saya sudah packing tinggal kembang katesnya yang belum." jawab ku.