
Setelah seharian anak-anak bermain dengan kakek dan neneknya di rumah mbak Priska jam delapan malam mereka sudah terlelap dengan alam mimpinya, mereka sudah bertemam dengan kasur dan bantal guling. Rasanya bahagia sekali melihat anak-anak bisa akrab dengan kakek dan neneknya. Aku menuju ke dapur untuk mengambil air minum aku lihat mbak Qibtiyah sedang duduk termenung di kursi dapur.
"Mbak Qib, kalau sudah selesai cepetan tidur ya!" perintahku.
"Iya, Buk," jawab mbak Qibtiyah terkejut" Ibuk mau ambil apa?" tanyanya
"Cuma mau ambil air minum." jawabku.
"Buk maaf sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan." ucap mbak Qibtiyah ragu.
"Iya, silakan mbak, ada apa?" tanyaku penasaran.
"Begini buk, kemarin ibuk saya menyuruh saya untuk pulang, ada hal penting katanya," tutur mbak Qibtiyah sopan.
"Seperti ada hal yang serius mbak?" tanyaku karena aku tahu tentang ekpresi mbak Qibtiyah.
"Begini buk, tetangga saya sebenarnya ingin melamar saya, tapi saya belum ingin menikah buk, adik-adik saya belum ada yang lulus buk, sebenarnya saya sudah utarakan kepada ibuk saya tapi, ibuk saya tetap menyuruh saya untuk pulang." tutur mbak Qibtiyah.
"Wajar kalau ibunya mbak Qib nyuruh mbak Qib untuk berumah tangga, memang sudah sepatutnya mbak Qib, berumah tangga," Nasehatku pada mbak Qibtiyah " kapan mbak Qib mau pulang biar diantar oleh sopir," tanyaku.
"Ibuk menyuruh saya lusa pulang buk," ucap mbak Qibtiyah.
"Baiklah, mbak Qib mau berapa hari?" tanyaku.
"Empat hari saja buk, selesai saya langsung balik kesini lagi, sebenarnya saya malas buk," Mbak Qibtiyah berkekuh kesah.
"Mbak Qib, turuti perintah orang tuamu selagi perintah orang tua itu baik, saya yakin ibunya mbak Qib ingin melihat mbak Qib berumah tangga bahagia dengan keluarga mbak Qib," nasehatku.
"Terima kasih buk," sahut mbak Qibtiyah sopan.
"Besok kita beli oleh-oleh dulu buat ibukmu ya, sekarang cepat istirahatlah mumpung anak-anak sudah tidur." perintahku dengan senyum ramah.
"Terima kasih buk." ucap mbak Qibtiyah
Setelah berbicara dengan mbak Qibtiyah sebentar aku meninggalkan dapur dan menuju kamarku karena aku sendiri juga sudah capek sedang pak Catur juga sudah berbaring di atas ranjang.
"Lama sekali sayang?" tanyanya padaku.
"Iya, tadi berbincang dengan mbak Qibtiyah sebentar, tadi mbak Qib, minta ijin dia mau pulang kampung selama empat hari, katabah ada yanh melamarnya." katakku jujur.
"Alhamdulillah, memang sudah sepantasnya dia berumah tangga, sudah lama mbak Qib mangabdi pada kita." sahut pak Catur bahagia" Lalu apa rencana mbak Qib tetap bekerja di sini atau bagaimana?" tanya pak Catur padaku.
__ADS_1
"Iya mas, cuma kelihatannya dia belum siap dia masih memikirkan tentang adik-adiknya," sahutku.
"Aku pikir sudah di putuskan gimana, berarti lusa sopir ngantar mbak Qib setelah ngantar aku ke kantor, atau gimana?" tanya pak Catur padaku.
"Setelah antar mas ke kantor saja baru antar mbak Qib," ucapku.
"Baiklah, jangan lupa kasih bekal seperti biasa," pesan pak Catur.
"Sudah aku pikirkan itu, besok aku ajak dia belanja." ucapku.
"Oh ya, mas lupa kemarin mau cerita tentang pamitannya Afriana dan bapaknya, Dinda mau dengerin gak?" tanya pak Catur padaku.
"Boleh mas," sahutku.
Flash back on.
Mobil yang ditumpangi Catur dan Afriana telah memasuki halaman rumah keluarga Ringgo, mereka berdua turun di teras sudah ada Ringgo dan orang tuanya dan ternyata mereka sudah menanti kehadiran Catur dan Afriana karena semalam Catur sudah mengabari Ringgo jika pagi-pagi sekali Catur akan datang mengantar Afriana untuk berpamitan.
"Assalamu'alaikum," Catur dan Afriana mengucap Salam secara bersamaan.
"Wa'alaikum salam, silakan masuk." sambut mereka semua dengan girang.
"Af, sudah besar sekarang." ucap Ringgo dengan wajah memerah menahan haru.
Setelah menyalami Ringgo Afriana juga menyalami orang tua Ringgo dengan ta'dzim orang tua Ringgo juga memeluk Afriana dengan penuh kasih. Catur dengan sopan juga menyalami mereka bertiga.
"Maaf, pagi-pagi sekali mengganggu." ucap Catur sopan.
"Tidak mengganggu justru kami mengucapkan banyak terima kasih karena bapak sudah sudi mengantar Afri kesini, terima kasih untuk semuanya." ucap Ringgo sopan.
Ibu Ringgo tidak lama sudah menyuguhkan teh hangat untuk mereka berdua.
"Silakan diminum." ibunya Ringgo mempersilakan mereka.
"Pak... ehmm... Doakan Afri nanti mau berangkat ke pesantren," pamit Afriana pada Ringgo dengan suara terbata-bata sedikit canggung dan kaku.
"Bapak selalu bedoa untukmu sayang, maafkan bapak, bapak mohon jangan benci bapak, tetap patuh dan hormati ayahmu karena ayahmu yang telah menjaga, merawat, dan mendidikmu selama ini, setelah ini kita akan jarang ketemu karena bapak juga akan kembali mengabdi di pesantren, Af tolong terima ini, ini hasil dari tabungan bapak selama di pesantren, tidak banyak, semoga berkah buat Afri," ucap Ringgo sambil menyerahkan amplop putih pada Afriana dengan wajah sendu
Afriana tidak menjawab dan juga tidak langsung menerima Afriana melihat ke arah Catur untuk meminta persetujuan dari ayahnya.
"Af, terimalah karena pemberian bapak itu sangat berkah buat kamu, bapak sudah bersusah payah mengumpulkannya, dan bapak mengumpulkannya dengan cara yang halal, apalagi ini uang dari pesantren pasti sangat berkah terima ya sayang, jangan buat bapak bersedih." ucap Pak Catur lembut.
__ADS_1
"Terima kasih pak," hanya itu yang keluar dari mulut Afriana.
"Alhamdulillah Bapak senang sekali Afri mau menerima pemberian bapak," ucap Ringgo bahagia " Jam berapa Afri berangkat dan diantar siapa?" tanya Ringgo.
"Jam delapan pagi kami berangkat diantar ibuk sama bupuh Priska karena bareng sama mbak Rahma." jawab Afriana.
"Iya pak Ringgo, hari ini aku sibuk sekali jadi yang ngantar ibuknya Afri dan kakakku karena anaknya kakakku juga satu pesantren dengan Afriana," jelas Catur sopan.
"Syukur alhamdulillah, titip Afriana pak Catur, saya sangat berterima kasih, saya minta ijin tolong ijinkan saya untuk memberi nafkah ke Afriana walau tidak banyak karena saya ingin menebus kesalahanku dulu," pinta Ringgo penuh harap.
"Tentu saya mengijinkan pak Ringgo, karena pak Ringgo bapak kandungnya Afriana, saya tidak ingin hubungan anak dan bapak kandung terpecah, cuma kalau untuk bertemu Afifah saya tidak mengijinkan, saya harap pak Ringgo jangan terlalu Banyak mengucapkan terima kasih pada saya, berterima kasihlah pada Allah SWT, semua ini atas ijin Allah, kalau saya hanya sebagai perantara saja." ucap Catur lembut dan bijak.
"Saya paham, bisa bertemu dengan Afriana itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri buat saya pak Catur, tentang keputusan bapak tidak memperbolehkan Afifah bertemu dengan saya, saya paham kalau bapak sangat mencintai Afifah, dia ibarat berlian yang harus dijaga, dulu saya terlalu bodoh, dan mungkin sudah takdir, bagi saya melihatnya bahagia itu sudah cukup, saya berjanji saya tidak akan mengganggu kehidupan kalian," ungkap Ringgo berusaha tenang dan ikhlas.
"Semoga bapak segera mendapatkan jodoh yang Sholehah, segeralah menikah pak terima kasih sudah mempercayakan Afriana pada saya." tutur Catur sopan "Semoga kita tetap menjadi saudara." pungkas Catur.
"Aamiin yarobbal'alamin." sahut semua orang yang ada di ruangan secara seremmpak.
Catur dan Afriana segera pamit karena waktu sudah agak siang, Catur mengemudi mobil sendiri sedang Afriana duduk di bangku belakang.
"Ayah, cemburu ya takut bapak ngrebut ibuk ya," goda Afriana, dengan Catur Afriana lebih terbuka dan santai.
"Pasti Af, cemburu itu ada apalagi ibukmu itu bidadari paling indah dan cantik di antara semua bidadari." jawab Catur jujur.
"Yah, ini amplopnya ayah simpan saja atau kasihkan ke ibuk, Afri kan tidak boleh membawa uang ke pesantren." ucap Afriana menyerahkan amplop putih pada Catur.
"Afri, kasihkan sendiri ke ibuk, dan bilang ini dari bapak." pinta Catur lembut.
"Ayah saja yang menyerahkannya takut Afri lupa nanti, soalnya Afri juga terburu-buru," ucap Afriana.
"Baiklah, nanti ayah kasihkan ke ibuk, ayah harap Afriana bisa bersiap lebih baik ke bapak ya, bapak Afri, sekarang sudah berubah tetap sayangi dan cintai bapak ya Af," nasehat Catur pada Afriana.
"Afri, akan berusaha Yah, sebenarnya Afri sayang bapak tapi kadang Afri masih takut." ungkap Afriana jujur.
"Baiklah pelan-pelan sayang," ucap Pak Catur lagi.
Flash back off.
"Maaf Dinda, mas baru bisa cerita sekarang, mas harap Dinda tidak marah karena tetap mengijinkan Ringgo untuk memberi nafkah pada Afriana." ucap Pak Catur lembut sambil membelai lembut kepalaku.
"Mas, Dinda yakin keputusan mas pasti yang terbaik terima kasih mas sudah mencintaiku dengan tulus." ucap Afifah lembut.
__ADS_1