TALAK

TALAK
Part 165 TALAK.


__ADS_3

Mungkin karena terlalu lelah dan juga efek kurang tidur saat menjelang hari pernikahan, pagi ini aku sampai tidak mendengar adzan subuh, begitu membuka mata ternyata pak Catur membuka pintu kamar baru pulang dari mushola.


"Mas kok gak bangunin aku sih." keluhku dengan kesadaran belum pulih benar.


"Sini mas bangunin," gurau pak Catur langsung menghampiriku yang masih berbaring di atas ranjang" Masih pagi tidur lagi sayang, mas masih capek pingin meluk Dinda lagi." ucap Pak Catur langsung berbaring dan memeluk ku kembali.


"Tapi, mas." bantahku.


"Mas masih belum puas untuk memelukmu dindaku sayang, biarlah pagi ini kita tidur lagi, lima belas menit saja." pinta pak Catur lembut "Aku tahu kamu pasti mikirin sekolah Afri kan, nanti kita antar Afri sama-sama." ucap Pak Catur lembut dan sudah kembali membawa tubuhku dalam dekapannya.


Lembutnya perlakuan pak Catur membuatku terlena, jemarinya dengan lembut terus membelai pipiku, bibirnya pun sudah mulai meyapu wajahku hingga ke ceruk leherku, sebuah ******* lembut pun akhirnya lolos dari bibirku.


"Mas." lirihku.


"Mas tahu."


Pak Catur melanjutkan aksinya, aku tahu apa yang dia inginkan, tanpa kompromi gejolak di tubuhku mengikuti alur permainannya, bibir kamipun saling memagut hingga sebuah suara terdengar kami berdua mengehentikan kegiatan kami.


"Ibuk... Ayah." suara Afriana terdengar nyaring di depan pintu kamarku.


"Iya, sayang." sahutku.


"Sebentar sayang." sahut pak Catur

__ADS_1


Aku dan Pak Catur saling memandang dan tersenyum, pak Catur berdiri dan membuka kunci pintu kamarku" Masuk sayang, sini sudah mandi apa belum." ujar pak Catur.


"Belum ayah, ini mau mandi." sahut Afriana langsung naik di atas ranjangku, kini ranjangku di isi kita bertiga, kami bercengkerama sebentar sebelum Afriana pergi mandi, tanpa di suruh Afriana pergi mandi sendiri setelah selesai bercengkerama.


"Kemarin Mas bangun masih sendiri, hari ini Mas sudah punya dua bidadari, sekarang Mas mau siap-siap ngantar putri Mas ke sekolah, terima kasih sayang kalian sudah melengkapi hidupku, terima kasih sarapannya." ucap Pak Catur mesra.


"Terima kasih, Mas, semoga kita menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah, mas mau sarapan apa?" tanyaku.


"Sarapan kamu." bisiknya menggoda.


"Ih mas, goda terus sih." ucapku manja.


"Sudah halal, kita antar Afriana sekolah dulu, cepetan mandi keburu siang." perintah pak Catur.


"Fah, biar aku saja yang ngantar Afri." ucap mas Jamal.


"Nggak apa-apa mas, biar kami saja yang ngantar." sahut pak Catur.


"Kalian kan baru saja menikah." ucap mas Jamal.


"Justru karena kami baru menikah, jadi aku ingin menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk anak-anakku, dan tentunya akukan ayahnya Afri, mas, sudah lama aku ingin seperti laki-laki lain bisa bertanggung jawab buat keluarga." ucap Pak Catur.


"Baiklah, hati-hari cepat pulang, jangan belok kemana-mana." pesan mas Jamal.

__ADS_1


Dengan raut wajah yang berseri-seri pak Catur memboncengku dan Afriana, dengan motor maticku untuk mengantar Afriana ke sekolah, sesuai pesan mas Jamal selesai ngantar Afriana ke sekolah aku dan Pak Catur langsung pulang, karena di rumah masih banyak pekerjaan yang harus di kerjakan. Biarpun pak Catur dari kalangan orang berada ternyata pak Catur tidak canggung dalam mengerjakan pekerjaan kasar, seperti sekarang dengan semangat pak Catur ikut merapikan kembali rumah orang tuaku dan juga rumahku.


Hari resepsi pernikahanku telah tiba, resepsiku di gelar seminggu setelah akad nikah karena di jadwalkan pas hari sabtu, jadi para karyawan bisa libur semua. resepsi digelar di jam sepuluh pagi, dari jam empat pagi aku sudah sibuk, setelah mandi dan kramas aku segera melaksakan sholat subuh berjamaah dengan Pak Catur, ya pagi ini pertama kalinya aku sholat berjamaah berdua dengan Pak Catur.


"Dinda, jam berapa make upnya?" tanya pak Catur sambil melepas sarungnya.


"Jam lima, mereka datang." sahutku, ya aku tahu arah pembicaraanya kemana.


"Ada waktu setengah jam, boleh gak di undur sampai jam setengah enam atau jam enam." ucap Pak Catur memelas.


"Coba aku tanya dulu mas, mereka ada di mana." sahutku.


"Baiklah." sahut pak Catur langsung memelukku erat dari belakang.


Aku langsung mengambil gawaiku, aku coba cek no MUA yang kami sewa, saat aku buka pesan dari MUA, ternyata pihak MUA meminta maaf bakal terlambat datang kurang lebih tiga puluh menit.


"Mereka datang terlambatkan." ucap Pak Catur, ternyata pak Catur ikut membaca chat yang ada di gawaiku.


"Iya, mas." jawabku, tubuhku sudah panas dingin karena ulah pak Catur.


"Alhamdulillah."


"Mas, doa dulu." ucapku.

__ADS_1


"Tentu sayang, karena aku ingin memiliki keturunan yang sholeh dan sholehah." pak Catur langsung melepas pelukannya segera mengunci pintu kamar, karena pintu rumah masih terkunci belum dibuka.


__ADS_2