TALAK

TALAK
Part 112 TALAK


__ADS_3

Acara untuk membeli hadiah buat Zahra dan Afriana telah selesai, aku di antar oleh pak Catur, karena capek dan ngantuk Zahra ikut di mobil pak Catur, sedang mas Jamal dan mbak Yah naik sepeda motor berdua. Pak Catur menyetir di depan sendirian aku duduk di bangku belakang menemani Afriana dan Zahra, tidak perlu menunggu waktu lama Afriana dan Zahra sudah tertidur di dalam mobil.


"Pak terima kasih untuk hari ini, untuk kedepannya saya benar-benar mohon pada bapak jangan menjanjikan hadiah apapun pada Afriana, saya benar-benar minta maaf, saya benar-benar khawatir dengan perasaan istri bapak nanti jika bapak tetap dekat dengan Afriana." ibaku penuh permohonan.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan mbak, justru aku khawatir jika Afriana tidak bisa menerimaku suatu hari nanti, " ucap Pak Catur penuh penekanan " Yang penting sekarang melihat Afriana bahagia itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri buatku mbak, mbak, jangan pikirkan soal nanti, oh ya memang mbak ngomong apa sama Afri, sampai-sanpai, Afri, minta agar aku tidak menecat mbak?" tanya pak Catur padaku.


"Hanya sebuah nasehat saja, bagaimanapun bapak kan atasan saya, jika kerjaku tidak baik kan sudah pasti bapak menecat saya kan." jawabku asal.


"Suatu saat memang mbak pasti aku pecat dari jabatan sekretarisku mbak, jika... Ah sudahlah mbak jangan di bahas sekarang sudah sampai, biar aku gendong anak-anak." ucap Pak Catur yang sudah menghentikan mobilnya di halaman rumah.


"Biar saya bangunin saja pak, lagian sebentar lagi magrip mereka juga harus bangun dan sholat magrip." ucapku sambil menggoyang-goyangkan tubuh Afriana dan Zahra yang baru saja tertidur.


"Biar aku gendong aku taruh di sofa rumah mbahnya, kasihan jika di suruh jalan." ucap Pak Catur.


Akhirnya pak Catur menggendong Afriana dan menaruhnya di sofa ruang tamu rumah bapak, Fauzan tanpa di minta in bantuan dia segera menggendong Zahra dan di letakkannya di sofa berdampingan dengan Afriana.

__ADS_1


"Baiklah aku pamit dulu nanti keburu magrib, mau jamaah-an di sini juga belum mandi." pamit pak Catur padaku dan Fauzan serta ibu, Nafisa sedang gajar ngaji sedang bapak berada di kamar mandi.


"Terima kasih banyak pak." ucapku.


"Mbak tenang saja jangan pikirkan sola Afriana dan pikiran negatif tentang calon istriku nanti." pesan pak Catur lirih padaku.


"Terima kasih untuk semuanya pak." ucapku, hanya ucapan terima kasih yang bisa aku ucapan.


Sepeninggalan pak Catur mbak Yah dan mas Jamal baru saja sampai rumah, aku sedikit heran kenapa mereka hanya bawa motor satu saja, karena waktu sudah sedikit mepet magrib aku urungkan untuk bertanya pada mas Jamal, aku suruh Afriana untuk mandi duluan.


Selesai mandi kami semua menuju mushola untuk melaksakan sholat magrip berjamaah di mushola yang ada di dekat rumah. Malam ini karena sudah capek Afriana dan Zahra tidak ngikuti ngaji di mushola, Afriana dan Zahra selesai sholat berjamaah langsung pulang kerumah orang tuaku mereka berdua mengeluarkan belanjaannya walau tidak banyak hanya satu sepatu untuk Afriana dan tas punggung untuk Zahra.


"Kata ibuk gak boleh dua, harus satu saja." jawab Afriana jujur sambil mengamati sepatu barunya.


"Satu saja sudah bikin isi dompet mlompong(kosong)e Zan." ucap mbak Yah serius yang duduk di ruang tengah.

__ADS_1


"Jelas mbak!" seru Fauzan " Zahra dapat berapa?" tanya Fauzan pada Zahra.


"Aku juga satu saja Paman." jawab Zahra jujur.


"Satu barang saja harganya bikin berdebar-debar, kalian harus tetap rajin ngaji jangan sampai bolos kalau bolos aku kasih tahu pada bosnya, ibuku Af, biar gak dapat hadiah!" seru Fauzan sambil mengamati sepati Afriana.


"Afriana janji paklek." ucap Afriana senang.


"Zahra ayo pulang nanti keburu malam " ajak mbak Yah dan mas Jamal pada Zahra.


"Sampai kan ucapan terima kasihku pada bosmu Fah." pinta mbk Yah basa nasi.


"Aku sampaikan, mbak ." jawabku santai.


Mas Jamal dan mbak Yah setelah pamitan mereka meninggalkan rumah orang tuaku, di rumah hanya ada aku dan Afriana, karane semua masih di mushola maka aku mengecek ulang PR nya Afriana serta jadwalnya.

__ADS_1


"Buk ngantuk sekali!" seru Afriana.


"Setelah sholat isya kamu tidur, sekarang ambil air wudzu dulu sepuluh menit lagi adzan isya jangan sampai ketinggalan." nasehatku pada Afriana.


__ADS_2