
Aku terima ipad dari mbak Irma, di sana sudah terpampang beberapa contoh desain baju pengantin, yang untuk akad nikah dan resepsi, ada yang adat jawa ada yang modern, dengan harga yang bikin aku menganga, bayangin saja kebaya untuk akad nikah paling murah dua juta rupiah, itu cuma satu kebaya kalau sepasang tiga juta rupiah.
"Pak... eh kang... mas, apa perlu kita beli kebaya, kan eman-eman uangnya sewa saja lebih murah, satu paket baju dua juta sudah plus make up dan dekorasi minimalis sudah dapat kalau di kampung." usulku setelah melihat beberapa contoh kebaya yang ada
"Dinda, mau menjatuhkan nama suamimu?" ucap Pak Catur.
"Ya bukan begitu, maksud saya, kalau beli kan mahal, sayangkan uangnya, kebaya akad, hanya di pakai sekali saja, terus kita gantung di lemari apa tidak sayang, kang mas." usulku "Menikah kan yang penting sah dan berkah."
"Ternyata nyonya Catur semakin cerdas." Pak Catur memujiku.
"Kalau gak cerdas mana bisa jadi sekretaris kesayangan." gurauku.
"Bagaimana, Fah, sudah pilih!" seru mbak Irma yang baru keluar dari WC.
"Mahal-mahal semua, mbak." jawabku.
"Terus, rencanamu bagaimana ?" bu Irma bertanya padaku.
"Kalau saya pribadi, maunya yang sederhana saja, soalnya di rumah saya tidak ada acara resepsi hanya akad nikah saja." jawabku jujur.
"Sebenarnya pesta yang kami adakan, hanya bentuk syukur kami, dengan segala nikmat yang di berikan oleh Allah pada kita, intinya kita ingin berbagi rejeki berbagi kebahagiaan, begitu saja, kita tidak pernah menerima amplop sumbangan, sebenarnya tamu kita itu dari berbagai kalangan, jadi kamu jangan pikiran yang nggak-nggak." nasehat bu Irma.
__ADS_1
"Untuk resepsi akan aku adakan di hotel Sun, biar mereka bisa merasakan, menu special hotel ya lihat saja nanti." ucap Pak Catur.
"Jadi untuk kebaya ini hadiah dariku, Fah, pilihlah mana yang kamu suka, dan ini gaun pengantin pilihlah yang kamu suka hadiah dari mama dan bunda, kami sudah sepakat, untuk honeymoon urusan Tri sama Dwi." ucap Priska sambil menggeser tablet berisi gambar gaun pengantin.
"Assalamu'alaikum!" seru bu Priska, mama Cakra, bunda dan mak.
"Wa'alaikum salam." sahut kami bertiga,
Aku langsung berdiri menyambut mereka serta menyalami mereka semua.
"Duduk, Fah, sudah di kasih tahu mbak mu Irma to, tentang gaun pengantinnya." ucap mama Cakra lembut.
"Sudah ma, terima kasih ma, terima kasih bunda." ucapku berterima kasih pada mama Cakra dan bunda sopan dan ramah.
"Mama belanja apa tadi.?" tanyaku agar tidak canggung.
"Cuma pingin lihat-lihat di pasar besar," jawab mama sambil menyenderkan tubuhnya di sofa nanti habis sholat dhuhur kamu temani mama belanja lawu ya, Ton antar kita." pinta mama Cakra.
"Capek ma, biar aku pijitin." rayu pak Catur pada mamanya.
"Ya begitu, bagus, sini kaki mama saja," ucap mana Cakra, pak Catur segera memijit kaki bu Cakra yang sudah di selonjorkan di sofa " Fah, duduk dekat mama sini kita lihat bajunya." pinta mama Cakra.
__ADS_1
Aku turuti duduk di sofa dekat mama, akhirnya aku duduk di apit oleh bunda dan mama, kami bertiga memilih baju untuk resepsi, karena untuk akad sudah ku pilih tadi bersama mbak Irma dan Pak Catur.
"Mah, bund pilihin yang bagus ya, untuk dindaku." ucap Pak Catur sambil mijitin kaki mama Cakra.
"Dinda siapa?" mama dan bunda langsung me oleh ke arah pak Catur.
"Ya untuk mantu mama dinda Afifah." jawab pak Catur.
"Iya, iya, mama pilihin, kamu itu bikin mama kaget saja aku kira dinda siapa, eh gak tahunya dinda Afifah, bagus dua bulan itu cepat lho jangan sampai hingga di pelamina masih manggil pak Catur dan mbak Fah, bisa-bisa jadi berita harian pagi terpopuler, Duda Putra bungsu keluarga Cakra terpaksa menikahi sekretarisnya, apa gak lucu, padahal keluarga Cakra tidak pernah memaksa." gurau mana Cakra.
Kami semua yang mendengar gurauan mama langsung tertawa, bersama-sama.
"Sampai di pelamina masih memanggil dengan sebutan mbak dan Pak." tambah mbak Irma diiringi tawa ringan.
"Seru amat sih ada apa." tanya bu Priska.
"Adikmu sekarang, sudah benar-benar jatuh cinta jangan kaget sekarang ada dinda Afifah dan kang mas Catur, bagaimana maniskan!" serunak Irma.
"Begitu lebih manis, sudah lamaran masih mbak dan Pak, lucu lucu benar- benar lucu." tambah bu Priska di iringi tawa juga.
Setelah satu jam memilih akhirnya kami memilih empat gaun pengantin, yang dua untuk acara di Madiun dan yang dua untuk acara di Jakarta.
__ADS_1
Sungguh benar-benar di luar dugaanku, tidak lama setelah putusan cerai aku mendapat lamaran dan mereka sangat antusias untuk menyambutnya dengan pesta tasyakuran yang sangat besar.