
Sesampainya di rumah aku segera memarkirkan sepeda motorku di depan teras bapak, di teras ada mas Jamal dan bapak yang sedang duduk di kursi teras depan rumah bapak.
"Assalamu'alaikum." ucapku begitu masuk teras
"Wa'alaikum salam," sahut bapak dan mas Jamal " Fah, setelah magrib ada yang mau bapak bicarakan denganmu." ucap bapak tenang.
"Baik, Pak, nanti habis jamaah saya segera pulang." jawabku, berhenti sebentar, aku langsung masuk rumah orang tuaku. Aku lepas sepatuku dan aku taruh tasku di atas meja kamar ibuku, aku lihat ibukku sedang di dapur untuk memanasi sayur sedang Nafisa dan Afriana sudah pasti ada di mushola untuk ngaji.
"Masak apa buk?" tanyaku sebelum masuk kamar mandi.
"Cuma ngangeti sayur tadi pagi, sama goreng ikan tongkol." jawab ibuku sambil memegang sotel.
Aku segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, karena sebentar lagi waktu magrib tiba.
Seperti yang bapak katakan selesai sholat magrib berjamaah di mushola bapak dan Fauzan langsung pulang begitu pula mas Jamal juga pulang, hari ini mas Jamal sengaja tidak pulang ke rumahnya atas permintaan bapak, selesai sholat berjamaah aku dan ibukku juga langsung pulang.
Kami berlima duduk di ruang televisi, ibukku sudah membuat minuman lesukaan kami semua, ada teh panas dan kopi panas.
__ADS_1
"Fah, sebenarnya ada berita tidak baik, khususnya untuk Afriana." bapakku mengawali pembicaraannya " umum ya untuk kita juga." ucap bapakku tetap tenang.
"Ada apa pak?" tanyaku penasaran apalagi menyangkut nama Afriana.
"Begini, Fah, bapak tadi dapat kabar tentang Ringgo... sekarang Ringgo sedang mengalami hal yang tak lazim." ucap bapak terhenti.
"Tadi Aku dan bapak juga sudah melihatnya langsung Fah, aku harap kamu tidak perlu panik, dan kita harus menjaga mental Afriana." Sekarang ganti mas Jamal yang berbicara.
"Kamu sabar ya nduk." nasehat ibukku.
"Sekarang Ringgo telah di tagih janjinya oleh dukunnya dulu, dan sekarang Ringgo kadang terbangun namun dengan tatapan kosong, kadang Ringgo tidak sadar kan diri, entah sampai kapan bapak tidak tahu, intinya jiwa Ringgo sedang dipermainkan oleh dukunnya, jiwa Ringgo telah di ikatnya dan di siksa, namun kadang di kembalikan ke tubuhnya, jadi sudah seminggu ini Ringo mengalami hal seperti itu, pas jiwanya di kembalikan pada raganya dia merasakan panas dan sakit yang tidak terkira, kadang tatapan kosong, dan sekarang Ringgo telah di pasung. " terang bapak.
"Astaqfirullah hal'adzim, apa kita bisa menolongnya pak?" tanyaku merasa iba dengan keadaan mas Ringgo bagaimanapun dia bapak dari anakku.
"Inshaallah bisa, Fah, namun sangat sulit dan berbahaya, semoga Allah memberi mu'jizat pada Ringgo, karena yang mengikat sukma Ringgo bukan hanya satu dukun saja, tapi ada empat, jadi terlalu berat Fah, saran bapak untuk saat ini jangan antarkan Afriana kesana dan kamu juga jangan kesana sangat berbahaya, biar bapak dan masmu Jamal yang kesana, kami berencana untuk minta bantuan Kyai, semoga sukma Ringgo bisa kita selamatkan, bapak harap dengan adanya berita ini tidak mengganggu konsentrasi kerjamu, dan jangan menyalahkan diri sendiri, Fah, semua ini sudah menjadi jalan takdir hidupmu." nasehat bapak bijak.
"Mas, ikut prihatin dengan semua yang menimpa padanu, Fah, mas harap tetap lanjutkan hidupmu, inshaallah Catur bisa membimbingmu dan Afriana dunia akhirat." pesan mas Jamal.
__ADS_1
"Inshaallah mas, doakan aku kuat mas." ucapku sedih, bagaimanapun antara aku dan mas Ringgo pernah hidup bersama.
"Mulai besok bapak akan ajari Afriana untuk mendoakan secara khusus buat keselamatan Ringgo, semoga dengan doa dari anaknya bisa menyelamatkan sukma Ringgo yang diikat oleh dukunnya." nasehat bapak.
"Apa tidak berbahaya pak?" tanyaku khawatir dengan keselamatan Afriana.
"Inshaallah dengan doa anak yang sholehah bisa menyelematkannya, bapak harap kamu jangan dendam dengan keluarga Ringgo, agar hidupmu nanti tenang dan bahagia, anggaplah jodohmu dan Ringgo memang hanya sampai di sini, dan maafkan bapak karena keteledoran bapak karena langsung menerima pinangan dari keluarga Ringgo sehingga membuat hidupmu jadi tidak bahagia seperti sekarang." ucap bapak sedih penuh penyesalan.
"Semua sudah takdir pak, Fah, tidak menyalahkan siapapun, mungkin dengan jalan yang terjal seperti dulu sehingga, Fah, bisa mendapatkan sebuah kebahagiaan, Fah bisa kuat seperti sekarang." ucapku berusaha tenang, karena saat ini Aku tidak lagi membenci mas Ringgo aku belajar ikhlas untuk bisa menerima takdir yang ada. Malah sekarang yang jadi pikiranku tentang Afriana anakku dan orang tua mas Ringgo, orang tua mas Ringgo pasti ikut menaggung aib yang telah mas Ringgo lakukan, aku tidak bisa terbayang seandainya itu terjadi pada orang tuaku.
"Mas bangga padamu, Fah, semoga rumah tanggamu kelak langgeng, mas bangga punya adik sepertimu." ucap mas Jamal mengungkapkannya kesalutannya padaku.
"Doakan, Adikmu ini tetap kuat dan ikhlas, Mas." pinta ku pada mas Jamal.
"Kami semua akan selalu mendoakanmu Nduk." sahut ibukku haru.
Aku benar-benar bersyukur hidup di tengah-tengah keluarga yang saling mendukung seperti keluragaku.
__ADS_1