TALAK

TALAK
Part 182 TALAK


__ADS_3

Malam ini setelah makan malam semua berkumpul di ruang tengah untuk membahas tentang acara liburan bersama di Ancol dan Taman mini, pak Catur ingin menepati janjinya pada Afriana, dan juga keluargaku. Anak-anak menyambut dengan gembira ketika mendengar penuturan pak Catur yang akan membawa mereka bermain, sebenarnya pak Catur pingin ngajak keluargaku semua untuk menikmati dingin dan indahnya puncak, namun karena anak-anak harus sekolah maka bermainnya hanya di Ancol dan Taman Mini saja.


Semenjak kedatangan keluarga besarku rumah keluarga Cakra sangat ramai, kami semua berbaur menjadi satu, istri serta anak-anak mas Dwi dan mas Tri yang notabennya orang luar negeri asli juga dengan mudah berbaur dengan kami semua tanpa batas. Selesai membahas tentang liburan besok kami semua segera masuk kamar untuk istirahat, supaya besok tidak kecapek-an.


"Mas."


"Apa sayang?"


"Dari dulu rumah papa apa sebesar ini?" tanyaku penasaran.


"Dulu gak sebesar ini, dengan seiringnya waktu papa dan mama memperlebar rumah dan memperbanyak kamar, karena anak papa mama kan banyak, ada enam orang, dan mama serta papa tidak ingin keluarganya nginep di hotel jika berkunjung kesini, beliau maunya semua ngumpul seperti sekarang walau hanya setahun sekali atau setahun dua kali, alhamdulillah selain hari raya lebaran Idul Fitri, setiap menperingati tanggal pernikahan beliau kami semua diwajibkan datang." terang pak Catur sambil baring.


"Oh, pantes saja, mbak Priska dan kakaknya apa ya wajib datang?" tanyaku penasaran.


"Enggak sih, namun mereka berdua malah tidak pernah absen, selalu datang, kalau aku pernah gak datang waktu itu aku satu tahun pertama waktu di kota Madiun, aku lebih nyaman di Madiun bersama kakung dari pada pulang ke Jakarta, dulu juga pernah perayaan ulang tahun pernikahan mama papa di adakan di rumah mbak Priska." pak Catur sedikit menceritakan tentang masa lalunya.


"Mas, kita belum ke makam mbak." jujur aku lupa siapa nama almarhumah istri pak Catur, karena semenjak aku tahu kehidupan kelam pak Catur aku tidak berani bertanya tentang almarhumah istrinya maupun tentang kisah kehidupan bersama istrinya dulu.


"Mas, sebenarnya mau ke sana lusa namun bunda melarangnya karena Dinda sedang hamil." jelas pak Catur.


"Kenapa?" tanyaku penasaran.


"Bunda memiliki perasaan yang sama denganku, beliau tidak mau kehilangan istri dan anakku." terang pak Catur sambil memaunkan tanganku.


"Mas!" Aku tatap lekat-lekat wajah pak Catur, dari tatapan matanya aku dapat menangkap kejujurannya.


"Bunda itu sayang ke Dinda, bunda pula yang selalu mendorong mas untuk segera melamar Dinda waktu itu, bunda dan mama mereka bergantian telpon ke Mas, hanya ingin menanyakan kabar Dinda, setiap kali telpon bukan kabarku yang di tanyakan, Dinda ingin tahu apa yang di tanyakan?" jelas pak Catur.


"Apa?" tanyaku semakin penasaran.

__ADS_1


"Rahasia." pak Catur malah menggodaku.


"Mas, paling bohong!" Aku menanggapinya dengan santai.


"Serius Dinda." jawab pak Catur meyakinkan.


"Tanya saja ke mama dan bunda jika bertemu!" jawab pak Catur.


"Capek mau tidur, mas." sahutku.


Entahlah sekarang aku gampang sekali tidur, begitu lihat bantal mataku tidak bisa diajak kompromi lagi, dan selalu ya aku yang tidur duluan, jam berapa pak Catur tidur aku tidak tahu.


Adzan subuh berkumandang rumah keluarga Cakra sudah seperti mall yang baru buka, coba bayangkan saja jika Sepuluh keluarga berkumpul menjadi dalam satu rumah, jika ditotal semua penghuninya sekarang mencapai empat puluh orang. Semua berkumpul untuk sholat berjamaah di ruang tengah karena musholanya tidak cukup, yang membuatku kagum istri mas Dwi dan mas Tri, istri mereka biar orang luar negeri asli dan dari keluarga non Muslim namun mereka dapat mengikuti semua kehidupan keluarga Cakra dengan baik, semenjak menjadi keluarga Cakra mereka juga sangat religious.


Sepuluh mobil sudah berjajar di halaman rumah keluarga Cakra, jam tujuh pagi kami semua berangkat ke dufan, karena Jakarta selalu macet makanya berangkat awal. Aku satu mobil dengan Afriana, ibukku dan bapakku, pak Catur yang mengemudikan mobilnya.


Afriana sangat girang karena ini pertamakalinya dia menginjakan kaki di kota Jakarta, dan pertama kalinya bepergian jauh, karena biasanya hanya bermain di tempat wisata yang ada Madiun saja.


"Afri, mau naik ke gedung yang tinggi itu?" tanya pak Catur sambil nyetir.


"Mau ayah, tapi bagaimana?" tanta Afriana polos.


"Inshaallah, besok ayah ajak Afri, naik, bagaimana jika kita tidak capek kita ke monas saja." ucap Pak Catur semangat.


"Af, lain kali saja ya, kasihan ibuk jika kecapek-an." nasehat ibukku.


Pak Catur langsung menatap kearahku "Maaf" lirih pak Catur nyarus tidak terdengar dan memegang tanganku, Aku membalasnya dengan sebuah senyuman.


"Af, ke monasnya lain kali saja ya, kasihan bunda sama dedeknya." ucap Pak Catur sambil nyetir mobil.

__ADS_1


"Iya, Af, ibuk gak boleh kecapek-an, sabar dulu ya." nasehat ibukku.


"Buk, Pak, maaf tadi saya lupa." pak Catur segera meminta maaf pada kedua orang tuaku.


"Tidak apa, sudah sepatutnya kita saling mengingatkan, inshaallah kandungan Afifah baik-baik saja mengingat kondisinya sekarang, dia sama sekali tidak mual dan juga tidak ngidam, nak Catur harus lebih perhatian saja karena kalau dilihat, Afifah bakal manja melebihi Afriana, nak Catur yang sabar saja." nasehat ibukku.


"Inshaallah Buk, saya akan menjaganya."


Saking asyiknya ngobrol mobil pak Catur sudah memasuki area parkir dufan, ternyata mobil yang lain juga sudah sampai, setelah memarkir mobil kami semua berkumpul disalah satu area tempat untuk menunggu. Tidak perlu menunggu lama rombongan lainnya datang, setelah semua berkumpul kita semua berpencar untuk menikmati liburan. Aku, Afriana, pak Catur, bapak, ibukku, papa, mama serta bunda berjalan bareng, kali ini aku benar-benar bak seorang Putri, bisa dikatakan pantasnya aku yang menjadi anak dari keluarga Cakra. Pak catur dengan bahagianya membawa Afriana untuk bermain berbagai wahana bersama dengan cucu keluarga Cakra yang lainnya tidak ketinggalan anaknya mas Jamal dan mbak Us, sedang aku di jaga oleh mama dan bunda.


Waktu berjalan begitu cepatnya tidak terasa jika hari sudah sore padahal baru bermain di dufan saja, akhirnya kami memutuskan untuk pulang saja melihat anak-anak yang sudah kecapek-an, kami memutuskan untuk makan di restaurants, Sesampainya di restaurants semua memesan makanan sesuai dengan selera mereka masing-masing, namun tidak dengan aku, semua menu yang ada di restaurant tidak ada yang memikat lidahku.


"Mas kenapa mas tidak makan?" tanyaku.


"Bagaimana aku bisa makan, jika anak dan istriku belum makan." sahut pak Catur.


"Mas, makanlah, aku tidak apa-apa." ucapku.


"Ton, sebaiknya ajak Afifah pulang duluan biar kita yang menjaga Afriana." perintah mama yang tidak tega melihatku.


"Ya, Fah, pulanglah, jangan khawatirkan Afri." imbuh bunda.


"Kita bisa naik ke mobil lainnya." tambah papa.


"Terima kasih, Bunda , Ma, Pa, kami pamit dulu." pak Catur menuruti perintah mereka dan langsung bangkit berdiri.


"Tapi?" aku berusaha menolak.


"Sayang, kamu makan hanya siang tadi, Mama sudah pesan ke mbak yang di rumah supaya masak buat kalian berdua, pulanglah, mama tahu kamu khawatir tentang Afriana, kami akan menjaganya, kan ada mbahnya lihatlah mereka sangat bahagia, dulu mama waktu mengandung suamimu mirip denganmu sekarang tidak mau makan di restaurant, maunya makan di rumah makanya sampai besar suamimu itu tidak suka makan restaurant kalau tidak terpaksa." nasehat mama penuh kasih sayang.

__ADS_1


Akhirnya akupun mengikuti perintah mama "Terima kasih Ma, kami pulang dulu." pamitku dengan senyum mengembang, kenyataannya aku memang sudah sangat lapar namun aku enggan untuk merusak kebahagiaan mereka semua. Untuk makan siang aku membawa bekal dari rumah jadi disaat semua makan di restaurant aku dan Pak Catur makan bekal di area peristirahatan bedua saja.


Setelah berpamitan pada semuanya aku dan Pak Catur meninggalkan restaurant, mereka semua paham akan kedaanku sekarang terutama mama dan ibukku.


__ADS_2