
Api amarah masih menyelimuti hatiku, perdebatan sengit di antara kami terus berlangsung tanpa ada yang melerai, entah kekuatan dari mana? Hingga membuat mas Ringgo mati kutu malam ini. Bapak, ibuk, Fauzan, Nafisa serta Afriana tetap duduk manis di depan televisi sambil mendengar perdebatan kami berdua.
"Kamu sudah mulai mengungkit, Fah" ucap mas Ringgo kesal.
"Aku tidak mengungkit F-A-K-T-A" ucapku penuh penekanan.
"Kamu memang pintar, Fah" sindir mas Ringgo.
"Kalau aku tidak pintar tidak mungkin aku bisa bekerja di perusahaan besar dengan posisi yang bagus dan gaji yang besar, pikir itu pakai otak mas bukan pakai dengkul" teriakku.
"Kalau kamu punya gaji yang besar kenapa tidak bisa renovasi rumah, toh rumah juga masih sama kaya dulu " ejek mas Ringgo.
"Ohhh... Bukan urusanmu, itu rumahku terserah aku dong, Mas, dan kau tidak berhak atas hidupku dan Afriana, karena bagiku kau sudah mati " ucapku lantang masih dengan tatapan tajam yang menghunus.
"Kalau kamu masih mau melanjutkan gugatan ini, bayar sendiri biayanya aku tidak sudi dan tidak sanggup untuk bayarnya !" ucap Mas Ringgo dingin.
"Baca pakai mata mas, Bukan pakai dengkul punya otak di pakai" teriaku semakin kalap " Lihatlah dan baca L-U-N-A-S" teriaku penuh penekanan " Apa masih kurang jelas? Dan lagi aku juga tahu bahwa kau tidak akan sanggup untuk membayarnya "
"Kau!" ucap mas Ringgo sudah tidak bisa lagi berkilah.
"Kenapa? Bukankah ini yang kamu inginkan " seruku. "Aku bukan wanita lemah, aku mengalah bukan karena aku tak mampu untuk melawanmu tapi aku tahu posisiku sebagai istri, mas, sekarang kau bukan siapa siapaku lagi jadi jangan harap aku mau mengalah, aku pasti akan melawanmu. Camkan itu" ucapku penuh penekanan.
__ADS_1
"Kita tunggu di pangadilan " ucap Mas Ringgo dingin.
"Baik, kita buktikan di pengadilan nanti" ucapku dingin.
Pertengkaran kami lumayan lama hampir satu jam dan selama itu aku juga tidak menghidangkan setetes air putih sekalipun, aku biarkan mas Ringgo tanpa sambutan hidangan apapun. Karena mas Ringgo sudah tidak punya alasan untuk berdebat tanpa pamit pada orang tuaku atau minimal pada Afriana mas Ringgo langsung pergi meninggalkan rumah orang tuaku dengan ekpresi kesal, karena selama hampir satu jam aku serang tanpa ampun.
Setelah kepergian mas Ringgo aku masuk dan bergabung dengan keluargaku yang sedang tetap menonton televisi.
"Wah mbak Fah, Keren" ucap Nafisa sambil senyum.
"Hush" ucap Fauzan.
"Ibuk, kalau marah kaya di film - film " celetuk Afriana.
"Kamu harus hati - hati, Fah " nasihat bapak.
"Sudah makan, sana biar ada energi lagi " ucap ibuku di saat bersamaan ada tukang bakso lewat.
Tet tot Tet tot Tet tot.
"Ayo beli bakso" perintahku.
__ADS_1
Tanpa di komando Fauzan langsung memanggil tukang bakso langganan kami untuk berhenti di halaman rumah" Bakso, kang " panggil Fauzan.
Kami semua pesan bakso sesuai selera masing - masing, Nafisa yang biadabta hanya makan semangkok kali ini Dua pesen dua mangkok. Kini senyum kebahagiaan sudah kembali menghiasi keluargaku.
Selesai makan bakso kami kembali ke rumah orang tuaku untuk menonton televisi dan bercerita apa saja. Saking senangnya sampai tidak terasa kalau waktu sudah malam jam sepuluh lebih, karena Afriana sudah tertidur maka aku gendong sendiri Afriana untuk pulang kerumahku sendiri.
Fauzan dan Nafisa juga masuk kamarnya " Mas mbak Fah kalau marah mengerikan, baru kali ini aku melihat mbak dah marah besar " ucap Nafisa yang sudah berbaring di kasur dengan Fauzan.
"Mbak, Fah, sama bapak itu sama kalau lagi marah, siapapun pasti di buat mati kutu " ucap Fauzan.
"Tadi kenapa bapak dan kamu tidak membela mbak, Fah, mas?" tanya Nafisa penasaran.
"Karena kami tahu kalau mbak Fah mampu menghadapi Ringgo sendirian, buka tidak mau membela tapi itu kak urusan keluarga " jawab Fauzan.
"Tadi Aku ngintip pas mbak Fah marah, matanya mbak Fah, serem kalau marah, seperti macan yang mau menerkam musuhnya" ucap Nafisa semakin penasaran.
"Sebenarnya mbak Fah itu punya kekuatan yang tidak bisa di lihat oleh siapapun kecuali mereka yang punya indra keenam, makanya tadi kami itu diam saja karena Ringgo itu terlalu mudah untuk mbka, Fah " jelas Fauzan.
"Maksudnya ?" tanya Nafisa semakin penasaran.
"Karena kami keturunan dari Mbah Yut Grinting, dan mbak Fah, yang terpilih menjadi salah satu pewaris dari mbah Yut Grinting, makanya cobaan hidup mbak, Fah, itu berat, dan tirakatnya mbak Fah itu juga kuat" jelas Fauzan "Makanya ketika kesabarannya di permainkan maka ya kaya tadi, bapak sebenarnya juga sama dengan mbak, Fah, karena memang sudah garis keturuanan " jelas Fauzan.
__ADS_1
"Terus, kalau kamu bagaimana mas?" tanya Nafisa semakin penasaran.
"Kalau aku paling suka menerkam kamu !" ucap Fauzan, sambil memeluk Nafisa.