TALAK

TALAK
Part 263 TALAK.


__ADS_3

"Fah, Afriana mana sudah siap apa belum?" tanya bapak.


"Af, sudah siap," tanyaku pada Afriana yang masih berada di dalam kamar.


Tanpa menjawab Afriana keluar dari kamarnya dengan wajah sedikit di tekuk dan langsung memelukku, ya aku tahu Afriana masih belum bisa melupakan kenangan pahitnya dulu.


"Af, kami semua sayang Afri, ibuk ingin Afri menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tua," Aku beri nasehat pada Afri yang berada dalam pelukanku "Kakak anak yang baik, dan sholehah kami semua menunggu kakak di sini ya," tambahku.


Aku merasakan apa yang Afri rasakan, ini pertama kalinya Afriana benar-benar tidak ingin pergi padahal kami juga sudah lama sering berpisah setiap kali dia kembali ke pondok dia tidak pernah sedih atau murung seperti saat ini.


"Buk, Afri takut." keluh Afriana.


"Af, ada mbah dan Pak Puh, kamu percaya kami kan, dan kamu harus ingat Af, masih ada ayahmu yang akan melindungimu jadi jangan khawatir inshaallah bapakmu sudah berubah," nasehat bapakku lembut.


Sebenarnya aku sendiri juga tidak tega melepaskan Afriana pergi menemui mas Ringgo tanpa ada aku di sisinya, namun aku harus menjaga perasaan suamiku, jadi aku tidak mau berinteraksi dengan mantan suamiku tanpa di dampingi oleh suamiku pal Catur, walau sebenarnya aku sudah tidak ada perasaan apa-apa terhadap mas Ringgo.


Sebelum Afriana pergi aku banyak memberi nasehat pada Afriana bukan hanya aku saja, saudaraku juga ikut menasehatinya, ibukku akhirnya memutuskan untuk ikut datang ke rumah keluarga mas Ringgo mendampingi Afriana setelah melihat wajah Afriana yang sangat melas. Kini mereka pergi dengan diantar oleh sopir utusan suamiku, ibukku, bapakku, dan mas Jamal, dengan ikut ya ibukku minimal hatiku sedikit tenang karena selama ini Afriana sangat dekat dengan ibukku.

__ADS_1


Setelah kepergian rombongan orang tuaku, Zahra, Habibah, Nafisa, dua susterku dengan anak-anak mereka bermain di rumahku dulu, canda tawa mewarnai mereka. Aku mbak Us dan dan mbak Yah memilih berada di rumah kedua orang tuaku, sengaja aku tidak gabung dengan mereka untuk bermain karena aku tidak ingin banyak orang yang tahu akan kehidupan Afriana.


"Mbak apa aku salah membiarkan Afriana pergi menemui mas Ringgo?" tanyaku karena hatiku benar-benar bimbang.


"Tidak, Fah, kamu sudah benar semua butuh waktu, jika kamu tidak membolehkan Afriana ketemu bapak kandungnya itu baru salah, Fah, yang namanya anak sampai kapanpun tetap anak, tidak ada yang namanya mantan anak biarpun orang tua bercerai." nasehat mbak Us bijak.


"Bersabarlah Fah, semoga tidak terjadi apa-apa dengan mereka, semoga Ringgo juga bisa berubah menjadi orang yang Sholeh." nasehat mbak Yah.


Bagaimanapun hatiku benar-benar gundah menunggu Afriana pulang, rasa khawatir tetap menghinggapiku, dua kali Afriana datang menemui mas Ringgo aku dan suamiku yang mengantar dan itupun hanya melihat di dari kejauhan karena mas Ringo tidak mau menemui kami.


Baru melepas Afriana sejam saja rasanya bagai setahun melakukan apapun rasanya benar-benar tidak tenang. Kini adzan dhuhur berkumandang hatiku sedikit lega berarti tidak lama lagi Afriana akan kembali pulang. Saking penasarannya aku kirim pesan ke mas Jamal aku menanyakan keadaan Afriana, mas Jamal mengatakan jika ekpresi Afriana masih sama gusar, mas Jamal juga mengatakan jika rombongan mas Ringgo akan sampai sekitar lima belas menit lagi.


"Rombongan mas Ringgo belum sampai tapi sudah berada di kota Madiun, sekitar lima belas menit lagi mereka datang." jelasku.


Kini hatiku semakin gusar tidak karuan, mbak Yah dan mbah Us terus berada di sampingku untuk memberi dukungan padaku.


"Tetap berdoa Fah, percayalah ada mas Jamal bapak dan ibuk yang menjaga Afriana, aku paham jika kamu gusar karena ini kali pertama pertemuan mereka setelah sekian tahun." nasehat mak Yah.

__ADS_1


"Benar Fah apa yang di katakan mbak Yah," tambah mbak Us.


Aku berusaha menenangkan diriku sendiri, padahal Afriana yang ingin bertemu dengan bapaknya tapi malah aku yang khawatir.


Alifa suda tidur aku ke rumahku untuk melihat anak-anak yang telah bermain, kini anak-anak sudah lelah setelah bermain karena hari juga suda siang anak-anak juga sudah makan siang dan sudah mandi lagi karena keringat mereka bercucuran walau bermain di dalam rumah, mereka semua tidur di rumahku dulu bersama anak anak Nafisa, kalau anak tetangga sudah di jemput oleh orang tuanya tadi sebelum adzan dhuhur. Rumah orang tuaku dan rumahku terasa sepi karena sang pasukan pembuat gaduh telah berada di alam mimpi.


"Anak-anak mumpung tidur kalian tidurlah mbak," perintahku pada kedua susterku yang menjaga Afwa Afwi dan Abidah hari ini.


"Iya, Buk," jawab mereka berdua sopan.


"Kalian sudah makan apa belum, maaf sampai aku lupa tidak menyuruhmu makan," tanyaku, aku benar-benar lupa akan kedua susterku.


"Sudah kok buk, tadi kita gantian sama bu Naf," jawab susterku.


"Benar Naf kata mereka?" tanyaku pada Nafisa.


"Benar kok mbak tadi kita semua sudah makan." jelas Nafisa.

__ADS_1


"Syukurlah, kalau begitu istirahatlah," perintahku pada kedua susterku.


Setelah memastikan anak-anak sudah aman aku kembali ke rumah orang tuaku, bersama dengan mbak Yah dan mbak Us lagi, sedang Nafisa tetap di rumahku dengan anak-anak dan kedua susterku.


__ADS_2