TALAK

TALAK
Part 170 TALAK


__ADS_3

"Begini amat punya suami yang berada di Fase puber kedua." batinku.


Aku dan Pak Catur menghabiskan waktu hanya berdua selama lima hari, ya selama lima hari aku dan Pak Catur tinggal di hotel, dan sesekali jalan keluar untuk menikmati malam hari di area jalan pahlawan, maupun alon-alon kota, menurutku sangat aneh, entahlah apa yang ada di dalam hati dan pikiran pak Catur, selama berada di hotel kami melakukan aktifitas yang hampir sama. Selama lima hari kami benar-benar rilex tanpa ada beban pekerjaan maupun gangguan lainnya.


Pagi ini hari terakir bulan madu kita, yah anggap saja bulan madu, jam delapan pagi aku sudah mengemasi barang-barang yang akan di bawa pulang dengan di bantu oleh pak Catur. Akhirnya kami check out di jam sepuluh pagi, kami keluar dengan membawa koper, tidak ada mobil jemputan, setelah selesai mengurus administraai hotel, kami berdua memesan taxi, tidak lama sebuah taxi datang di lobby, dan kami masuk taxi untuk pulang.


"Ke jalan xxx Pak." perintah pak Catur pada supir taksi aku melirik ke arah pak Catur "Ada yang ingin aku ambil di rumah." pak Catur langsung menjelaskannya padaku.


Tidak butuh waktu lama kami berdua sudah masuk di sebuah perumahan yang notabennya perumahan elit di kota Madiun. Taksi yang kami tumpangi berhenti di sebuah rumah mewah berlantai dua, kami berdua turun dari taksi dengan di bantu sopir taksi pak Catur menurunkan koper dari taksi. Di rumah tersebut tidak ada seorangpun yang menyambut kedatangan kami berdua, pak Catur membuka pintu pagar, kami berdua masuk, aku benar-benar kagum saat baru masuk ke jalanan rumah pak Catur.


"Selamat datang Dindaku sayang." senyum pak Catur mengembang, dan wajahnya memancarkan aura kebahagiaan" Maaf tidak ada pembantu yang tinggal di rumah ini, biasanya pembantunya mbak Priska yang bersihin di akhir pekan saja, dan untuk baju aku kirim ke laundry." jelas pak Catur dengan panjang lebar tanpa aku meminta penjelasan.


Aku mengangguk tanpa bicara, Yah ini pertama kalinya aku masuk di rumah pak Catur, sebelumnya aku juga tidak tahu alamat rumah pak Catur. Pak Catur dengan perasaan senang menggandeng tanganku pak Catur menunjukkan kamar kami berdua, kamar kami ada di lantai bawah, pak Catur menjelaskan kenapa kamarnya di lantai bawah, menurutnya agar tidak membahayakan jika aku mengandung nanti.

__ADS_1


"Bagaimana? mas harap Dinda bahagia tinggal di sini, sebentar lagi kita jemput Afriana, di sebelah ini kamar Afriana, namun jika Afriana tidak suka bisa pindah di lantai atas." pak Catur menjelaskan.


Aku tidak menyangka jika pak Catur sudah menyiapkan semuanya, dan aku melihat kamar untuk Afriana juga sudah di desain sedemikian rupa sesuai dengan corak anak perempuan, aku hanya mengikuti kemanapun langkah pak Catur, dan untuk kesekian kalinya aku di buat semakin terharu akan perlakuan pak Catur padaku maupun anakku Afriana. Setelah melihat-lihat rumah aku dan Pak Catur menuju rumahku dengan mengendarai mobil pak Catur yang biasa dipakainya.


"Mas, terima kasih untuk semuanya." akhirnya aku membuka suara.


"Sampai kapan Dinda akan terus mengucapkan terima kasih, mas tidak melakukan apa-apa, semua ini sudah takdir kita, Dinda, mas bersyukur sekarang rumah kita akan ramai dengan anak-anak, mas tidak akan kesepian lagi." ucap pak Catur sambil nyetir.


Pak Catur dengan keluargaku langsung bercengkerama sedangkan aku membersihkan rumahku yang masih berantakan karena acara kemarin. Selesai bercengkerama dengan keluargaku pak Catur tanpa aku minta dia langsung membantuku.


"Dinda, malam ini kita tidur di sini, namun besok kita pindah ya, lusa mas mau masuk kantor sudah lama tidak ngecek kantor." ucap Pak Catur sambil membantuku mengemasi beberapa barang yang akan aku bawa pindah rumah.


"Bukankah lusa hari sabtu mas?" tanyaku.

__ADS_1


"Justru hari sabtu itu mas mau ke kantor, kan gak ada karyawan, besok akan ada orang dari yayasan untuk mengantar pembantu untuk kita, jadi tugas Dinda untuk menentukan pas tidak untuk keluarga kita." ucap pal Catur.


"Berapa usia calon pembantunya? dan sudah menikah apa belum? Cantik?" ucapku, entah kenapa aku merasa takut kehilangan pak Catur dan aku berubah jadi over protective sekali.


"Dinda cemburu? sayang jaga bundamu ya, ayah akan tetap sayang kalian semua." ucap Pak Catur langsung memelukku dari belakang sedang tangannya terus mengelus perutku.


"Ih, mas, geli tahu." manjaku.


"Mas, suka jika Dinda cemburu kaya gini, rasa rasanya yang cemburu bukan bundanya saja, namun aku merasa jika Catur junior yang cemburu." ucap Pak Catur percaya diri sekali.


"Mas apaan sih mas." manjaku.


"Iya Dinda, sayang, mas tetap di sini menemani bunda dan ananda yang sekarang mulai mengintip bundanya dan ayahnya." ucap Pak Catur lembut.

__ADS_1


__ADS_2