TALAK

TALAK
Part 135 TALAK.


__ADS_3

Hari ini benar-benar hari yang sangat mengejutkan bagiku, setelah kepulangan keluarga pak Catur aku ikut mengemasi tikar dan mencuci peralatan makan yang barusan di pakai. Selesai merapikan dan membersihkan rumah kami semua duduk di depan TV untuk istirahat karena lumayan capek.


"Fah, maafkan bapak sama ibukmu, sebab kami tidak memberitahukan tentang lamaran nak Catur dan Kakung pada bapak sejak dua bulan lalu, bapak harap hidupmu dan Afriana akan lebih bahagia dari sekarang, bapak tidak memaksa Fah, bapak menerima lamarannya bukan berarti bapak memaksamu, Fah." ucap bapak lembut.


"Afifah yakin keputusan bapak adalah yang terbaik buat kami," jawabku berusaha iklas" Jadi sejak Afifah mulai proses sidang cerai pak Catur sudah melamar aku pak!" ucapku sedikit terkejut mendengar pengajuan dari bapak.


"Ya," jawab bapak.


Flas back on.


"Assalamu'alaikum." suara pak Catur memberi salam.


"Wa'alaikum salam, silahkan masuk dulu pak." jawab bapakku yang sedang duduk di teras rumah istirahat karena beru pulang dari pasar.


"Maaf mengganggu istirahat bapak." ucap Pak Catur sopan, bapak dan ibuk sudah duduk di ruang tamu.


"Sekiranya ada perlu apa, pak Catur dan Pak Anam serta Kakung datang kesini, bukankah Afifah sekarang ada di kantor, apakah putri bapak melakukan kesalahan?" tanya bapakku cemas.


"Kedatangan kami kesini ada hal penting yang akan kami sampaikan kepada bapak," ucap Pak Anam.


"Jangan khawatir putrimu kalian sama sekali tidak melakukan kesalahan, saya dapat amanah dari keluarga Cakra, dan saya akan menyampaikan kepada kalian, kedatangan kami kesini ingin melamar langsung Afifah Putri kalian untuk di menjadi istri dari Catur Putra bungsu dari keluarga Cakra." ucap kakung bijak dan penuh kehati-hatian.

__ADS_1


"Melamar?" ucap bapakku dan ibukku terkejut secara bersamaan


"Maaf, kami tidak bisa memutuskan bagaimanapun putri kami baru saja mengajukan gugatan cerai pada mantan suaminya, kami rasa kurang sopan jika kami langsung menerima pinangan dari keluarga Cakra." jawab bapak sopan.


"Maafkan atas kelancangan kami, namun adik kami dan keluarga Cakra benar bersungguh-sungguh untuk menyuntung Putri bapak yang bernama Afifah, sebenarnya kami sudah tahu tentang Afifah, kedua orang tua kami juga sudah menyetujuinya, namun beliau belum ada waktu untuk kesini jadi saat ini kami yang mewakilinya ." ucap Pak Anam.


"Sebagai orang tua kami hanya bisa memberi doa restu, karena yang menjalani anaknya." ucap bapakku.


"Demi Allah, saya bersungguh-sungguh untuk memperistri Putri bapak yang bernama Afifah." ucap Pak Catur penuh permohonan.


"Apa keluarga Cakra tidak keberatan memiliki mantu dari kalangan biasa seperti kami." ucap bapak.


"Subhanaallah, bagi kami Putri kalian sangat istimewa, kita sudah lama kenal saya tahu bagaimana putrimu." ucap kakung.


"Kami tidak bisa memutuskan, sebaiknya kita sama-sama mohon petunjuk dari Allah SWT, karena hidup dan mati kita milik Allah SWT, dengan Ridho Allah inshaallah kalian berjodoh, Bukan begitu Kung." ucap bapak bijak.


"Alhamdulillah." Pak Anam pak Catur dan kakung langsung mengucap syukur.


"Le, Ton, kamu harus meningkatkan ibadah kamu supaya kamu bisa berjodoh dengan Afifah, berat untuk mendapatkan berlian seperti nak Afifah." gurau Kakung dengan kekehannya.


"Terima kasih bapak, Ibu sudah merestuinya, inshaallah saya akan membimbing putri bapak dan ibu ke jalan yang Allah Ridhoi, saya akan menjaganya dunia dan akhirat, termasuk Afriana, karena saya sudah sangat mereka berdua." ucap Pak Catur bahagia.

__ADS_1


Flash back off.


"Jadi kenapa bapak mengijinkan nak Catur mengantarmu pulang jika adikmu sedang repot, itu alasannya, selama ini dia benar-benar membuktikannya bisa menjaganu dan bisa menyayangi Afriana dengan tulus, bapak yakin dengan ketentuan Allah, bapak pesan Fah, ini ujianmu sekarang jika dulu kamu diuji dengan perangai suamimu sekarang kamu diuji dengan kenewahan dunia, bapak harap kamu jangan silau, tetap kuatkan ibadahmu agar selamat dunia dan akhirat, Fah." nasehat bapak bijak.


"Bener nduk, ingat nasehat kami, jangan silau dengan harta dunia, tetap kuatkan iman dan taqwamu ya nduk." tambah ibukku.


"Terima kasih pak, buk." jawabku sopan tanpa aku sadari aku sudah menitikan air mata.


Aku sangat bersyukur memiliki keluarga yang sangat bijak dalam menghadapi masalah, kami semua saling merangkul dan saling mendukung satu sama yang lain.


"Minggu depan kita semua berkumpul, nanti hubungi masmu Jamal dan mbak mu Us, dan sekalian mengabarkan berita pernikahanmu, Fah." perintah bapak.


"Apa tidak terlalu cepat pak, kalau dua bulan lagi?" tanyaku.


"Fah, kalian berdua itu kerja satu kantor, jangan sampai menimbulkan fitnah, kalau sudah halalkan tidak menimbulkan zina." nasehat bapak.


Aku hanya diam mendengarkan nasehat dari bapak.


"Itu artinya mulai sekarang aku tidak perlu jemput mbak Fah, jika mbak Fah pulang malam." ucap Fauzan.


"Ngawor aja kamu Zan, selama mbakmu belum menikah tugasmu tetap sama." sergah bapakku.

__ADS_1


Kami semua yang ada di ruangan tengah tertawa, aku benar-benar belum bisa percaya jika aku dilamar oleh bosku sendiri dan aku juga belum bisa percaya jika tanpa sepengetahuanku bosku melamar langsung kepada kedua orang tuaku.


__ADS_2