
Aku melakukan panggilan video call secara group dengan keluarga mbak Yah dan Nafisa untuk mengundang mereka datang besok, untungnya mereka tidak punya acara sehingga mereka besok bisa datang kerumah untuk sekedar bermain dan melepas kangen sepulang Zahra sekolah, keseruan dan keceriaan celoteh anak-anak sudah menjadi hal yang paling membahagiakan bagiku. Kini Afriana dan Rahma menjadi lega setelah mendapat jawaban dari mbak Yah dan Nafisa. Jam setengah empat sore deru mobil suamiku dan mbak Priska sudah berada di parkiran depan rumah, seperti biasa aku dan anak-ansk selalu menyambut kedatangan ayahnya jika pulang masih sore, kecuali jika pulang sudah larut baru aku sendiri yang menyambutnya.
"Assalamu'alaikum bunda, dan anak Ayah yang cantik dan ganteng !" seru suamiku dengan senyum bahagianya.
"Wa'alaikum salam, ayah." sahutku aku dan anak-anak menyambutnya dengan bahagia bersalaman dan mencium tangan ayahnya sudah menjadi rutinitas kami saat ayahnya pulang.
"Assalamu'alaikum, keponakan bupuh." kini mbak Priska mengucap Salam dan langsung memeluk Afwa dan Afwi.
"Wa'alaikum salam, masuk masuk." Aku dan anak-anak menyambut kedatangan mbak Priska dengan bahagia.
Kami semua langsung duduk dan berkumpul di ruang keluarga, kecuali suamiku dia harus mandi dulu sepulang kerja sebelum bersama dengan anak-anak.
"Selamat ya Fah, sudah dapat rejeki lagi." Mbak Priska memberi ucapan padaku.
"Terima kasih mbak, dari mana mbak rahu?" tanyaku penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan suamimu, tadi dia nraktir makan semua karyawan yang ada di kantor." jawab mbak Priska santai.
"Astaqfirullah hal'adzim, Mas wong mama saja belum di kabari eh malah sudah bilang ke karyawan." sahutku heran dengan tingkat suamiku.
"Makanya dia pulang sore katanya mau telpon mama." terang mbak Priska sambil nyemil makanan yang ada di atas meja.
"Mah, buatin aku adik kaya dik Afwa dan dik Afwi." pinta Rahma yang ikut duduk berama kami.
"Rahma pingin punya adik?" tanya mbak Priska pada Rahma.
"He eh, lucu lo ma mereka itu." terang Rahma girang.
"Ya kalau Rahma mau adik kan tinggal main ke sini pinjam adiknya tante kan bisa." usul mbak Priska.
__ADS_1
"Kalau pinjam adiknya tante, terus adiknya mau di kasih susu apa?" tanya Rahma dengan polosnya.
"Susu kambing." jawab mbak Priska asal.
"Ma, jangan percaya sama mamamu, adik gak doyan susu kambing." celetuk pak Catur yang sudah selesai mandi.
"Mas, Aku mau pisan goreng, tolong buatin." pintaku pada suamiku tanpa dosa.
"Apa? Pisan goreng dari mana dapat pisang?" tanya suamiku terkejut dan heran.
"Ada, tadi pagi aku ke pasar beli pisan." sahutku jujur.
"Apa? Ke pasar dengan siapa?" Al Catur semakin terkejut pasalnya aku tidak pernah keluar tanpa sepengetahuan suamiku, sedangkan tadi pagi aku sengaja tidak laporan.
"Iya, aku ngajak mbak Qib." jawabku jujur.
"Ya, pak" Mbak Qibtiyah langsung tergopoh-gopoh keluar menemui kaki yang berada di ruang tengah.
"Tadi benar kaku ngantar ibuk ke pasar?" tanya pak Catur datar.
"Iya, pak tadi ibuk yang maksa." jawab Qibtiyah jujur.
"Iya, Yah aku yang maksa aku kepingin lihat pasar dan juga aku kepingin makan pisang yang ku beli sendiri dari pasar." jawabku apa adanya.
"Tapi kenapa bunda tidak memberi tahu ayah?" tanya pak Catur sedikit kesal.
"Istrimu itu lagi ngidam Ton, sudah sewajarnya begitu." imbuh mbak Priska.
"Mas tolong, pisang goreng." rengekku manja.
__ADS_1
"Iya iya,, ayah buatin untuk bunda dan anak-anak." ucap suamiku lembut.
"Aku juga mau." celetuk mbak Priska tanpa dosa.
"Goreng semua mas biar cukup until semua." pintaku.
"Ya." jawab suamiku singkat langsung menuju ke dapur untuk konser bernyanyi dan bejoged ria dengan wajan dan sotel.
Aku dan mbak Priska tidak ikut ke dapur aku asyik mengobrol dengan mbak Priska sambil bermain bersama dengan anak-anak. Aku dan mbak Priska mengobrolkan tentang tumbuh kembang anak, dan juga sekali-kali bercerita tentang suatu hal yang berbau perempuan. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh suamiku di dalam dapur, namun dari ruang tengah aku sudah mencium harumnya bau dari pisang goreng yang sudah matang. Mbak Qibtiyah keluar dari dapur sambil membawa sepiring pisang goreng yang masih panas
"Silakan buk." Mbak Qibtiyah menaruh pisang goreng di atas meja.
"Kelihatanyaa enak banget." seru mbak Priska yang sudah mencomot dan mulai menggigit pisang goreng buatan suamiku.
"Alhamdulillah selesai!" seru pak Catur yang baru keluar dari dapur selesai menngoreng pisang.
"Mas, Aku mau pisang rebus." pintaku lagi.
"Ini kan belum habis to bunda ?" tanya pak Catur padaku.
"Tapi aku kepingin pisang rebus." kekehku.
"Mbak Qib tolong, rebuskan pisang buat ibu!" perintah pak Catur pada mbak Qibtiyah.
"Aku gak mau makan kalau bukan ayah yang merebusnya.?" Aku langsung cemberut.
"Baik bunda sayang aku rebuskan." akhirnya suamiku mengalah dan menuruti permintaanku, konyol menang.
"Dari kemarin lo mbak, istriku nyidame lucu, minta pisang goreng buatanku sekarang juga kepingin pisang rebus, aku yang masak, dan tadi pagi dia mboronng pisang di pasar." jelas pak Catur seolah tahu apa yang terjadi.
__ADS_1