
Setelah 30 menit berlalu sebuah mobil marcedes bandz telah terparkir rapi di depan area pemakaman di sebuah desa yang di bangun khusus untuk seluruh keturuanan Kyai Grinting.
Di area pemakaman tidaklah rame karena memang tertutup dan tidak terbuka untuk umum. Yang ziarah ke makam biasanya orang - orang tertentu saja.
Dengan pelan - pelan kakung turun dari mobil di ikuti pak Catur sambil membawa sekresek bunga khusus untuk ziarah yang di belinya tadi penjual bunga.
Ziarah makam berjalan sangatlah khusuk doa dan tahlil di pimpin oleh kakung, pak Catur sebagai makmum mengikuti tata cara kakung.
Setelah kurang lebih satu jam mereka berdua melakukan ziarah makam Kyai Grinting dan keturunannya , kakung bangkit berdiri dari duduknya di bantu oleh pak Catur dan berjalan menuju mobil.
"Makamnya, sangat asri ya kung ! dari dulu sampai sekarang tidak ada perubahan yang significant, bersih dan nyaman walau tidak mewah " ucap Pak Catur
"Karena Kyai Grinting mencintai kesederhanaan, menurut cerita dulu sebelum meninggal Kyai berpesan untuk tetap menggunakan batu nisan dari batu kali jangan sampai di rubah" terang kakung
"Kung, sudah siang langsung pulang atau gimana?" tanya pak Catur
"Kita sholat saja dulu di mushola, kamu masih ingat dulu kamu nggak mau tak ajak kesini, namun setelah sholat dzuhur dan dzikir kamu malah gak mau pulang " ucap Kakung
"Tapi sekarang saya sering merindukanmu mushola ini, Kung, entahlah saat berada dan beribadah di mushola ini jiwaku semakin tenang " ucap Pak Catur
"Suatu saat kamu akan tahu, Le, ya sudah ayo kita ke mushola sebentar lagi adzan dzuhur" ajak kakung
Kakung dan Pak Catur melangkah menuju mushola yang letaknya tidak jauh dari makam untuk melaksanakan sholat dzuhur.
Kakung dan Pak Catur keluar dari mushola dan langsung meninggalkan area pemakaman, pak Catur mengemudi mobilnya dengan pelan - pelan sambil menikmati pemandangan jalan sekitar. Pemandangan desa yang penuh dengan berbagai pohon di pinggir jalan serta ada hamparan sawah yang di tanami padi nan hijau yang sangat luas menambah cantiknya pemandangan desa.
Dalam perjalanan Kakung dan Pak Catur terus bercerita tentang pengalamannya masing - masing. Pak Catur dan Kakung tidak langsung kbali ke bengkel malah muter - muter di kota bersama Kakung.
Kakung tidak kembali ke bengkel malah minta langsung di antar pulang saja karena sudah sangat capek, dengan senyum sumringah Kakung turun dari mobilnya pelan - pelan dan langsung masuk ke dalam rumah. Sedangkan Rahma sudah cemberut di teras begitu mendengar mobil datang dan melihat pak Catur yang turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Paman bohong! Katanya mau jemput aku!" seru Rahma yang sudah cemberut.
"Maaf, Rahma sayang tadi paman antar Kakung ke makam, Baiklah besok paman ajak kamu jalan - jalan deh. Paman janji !" rayu pak Catur sambil mengusap rambut Rahma yang sedang bermain di teras
"Paman, gak boleh pulang malam ini, harus temani Rahma ke alon - alon " pinta Rahma lagi yang masih cemberut
"Baiklah, untuk menebus kesalahan paman, paman temani Rahma ke alon alon " ucap Pak Catur di iringi senyum manis.
Pak Catur segera menggendong Rahma dan mengajaknya masuk rumah untuk bermain di taman belakang dan kasih makan ikan nila di kolam ikan.
Selain kolam ikan nila, di belakang ada kolam ikan lele, ada burung dara, dan juga ada kenari dengan jumlah lumayan banyak.
Karena di bengkel tidak banyak kerjaan, pak Anam tidak lama juga sudah datang dengan naik ojek.
Pak Anam ikut bergabung dengan pak Catur dan Rahma yang sedang di taman belakang, tidak lama bu Priska datang membawakan camilan dan es buah yang di bawakan oleh pak Anam.
Selesai sholat magrib pak Catur, Rahma, bu Priska, serta Alif anak kedua bu Priska menuju alon - alon kota untuk menikmati weekend. Pak Anam tidak ikut karena ada acara perkumpulan Rt, sedang kakung di rumah melakukan kegiatan dzikir sampai habis sholat isya.
Di tempat selfi Afriana di temani Fauzan dan Nafisa juga sedang melakukan selfi bersama. Karena ingin berselfi bersama sama Fauzan minta tolong pada pak Catur.
"Permisi, Mas, bisa minta tolong untuk foto in kita " ucap Fauzan minta tolong
"Boleh" jawab pak Catur dan segera memoto mereka bertiga.
Fauzan, Nafisa dan Afriana segera berpose dengan beberapa jepretan.
"Terima kasih, Mas" ucap Fauzan ketika sudah selesai berfoto.
"Sama - sama, putrinya cantik mas!" seru pak Catur
__ADS_1
"Alhamdulillah" jawab Fauzan
"Pak lek, aku mau makan Ice cream " celetuk Afriana tiba - tiba
Pak Catur yang mendengar ucapan Afriana sedikit bengong namun tak begitu memperdulikan
"Ok, kita beli ice cream setelah itu kita makan sate ya" ucap Fauzan bersemangat
Mereka bertiga pergi sambil bergandengan tangan, menuju tempat penjual an ice cream setelah membeli ice cream duduk mencari tempat di penjual sate.
"Kenapa, Ton, kok bengong ?" tanya bu Priska
"Ah, enggak mbak, tadi ada anak muda dengan istri dan anak kecil, tak kira anaknya eh ternyata keponakannya, cantik anaknya sepantaran dengan Rahma " ucap Pak Catur sedikit sedih,
Setiap kali bertemu dengan anak sekitar usia 7 tahun pak Catur pasti teeingat akan almarhumah anaknya yang belum sempat terlahir kedunia.
"Ayo kita makan sate, di sana ada beberapa pilihan sate, enak banget anak - anak senang banget " ucap bu Priska mengajak pak Catur untuk menuju warung sate.
Di tempat yang penjual sate, Fauzan, Afriana dan Nafisa sedang duduk menunggu pesanan datang. Tanpa di sadari di sebekahnya sudah duduk pak catur dengan kedua anak bu Priska, sedang bu Priska sedang menesan sate.
"Ketemu lagi, Mas " sapa Pak Catur ada Fauzan
"Eh, iya mas, mas mau makan juga ?" tanya Fauzan basa basi
"Iya, maaf mas, tadi Aku kira itu anaknya " ucap Pak Catur
"Nggak apa - apa, Mas, lagian memang sudah aku anggap anak sendiri, ya kan sayang " ucap Fauzan sambilelidik Nafisa yang sedang duduk bersama mereka.
Mereka saling berkenalan dan saling mengobrol, sedang anak - anak juga sedikit akrab, walau baru pertama kali bertemu. Bu Priska asyik ngobrol dengan Nafisa sedang pak Catur ngobrol dengan Fauzan.
__ADS_1
Selesai makan dan anak - anak selesai beramian mereka segera pulang, karena hari sudah menunjukan pukul 9 malam.
Dalam perjalanan Nafisa segera me ngirim semua foto ke Afifah, Afifah tidak ikut karena sedang menyelesaikan pekerjaannya yang harus selesai di hari senin pagi.