
Aku dan mbak Priska menuju taman belakang, kami duduk di sebuah bangku yang biasa kami pakai untuk bersantai. Ku berusaha menggali informasi tentang perusahaan kepada mbak Priska, bukan aku tidak percaya akan kemampuan suamiku namun agar aku tetap bisa mengingatkan suamiku. Bagaimanapun aku pernah menjadi karyawan di perusahaan tersebut dalam waktu yang lama.
Mbak Priska menceritakan semua tentang keadaan perusahaan dan usaha keras suamiku dalam menjalankan perputaran perusahaan sampai sekarang, aku tahu bukan perkara mudah bagi suamiku untuk menjalankan semua apalagi sekarang suamiku juga memberi perhatian lebih terhadap keluarga hingga sekarang dia harus sakit
"Terima kasih, Mbak, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberi dukungan buat suamiku." ucapku yakin, setelah mendengar cerita tentang pal Catur dan perusahaan.
"Aku yakin kamu bisa, Fah, karena kamu dan anak-anak merupakan kekuatan bagi Tono, mbak yakin tidak ada yang sulit, mungkin sekarang hanya penyesuaian saja." Mbak Priska memyemangatiku.
"Inshaallah, Mbak." sahutku sedikit tenang.
Setelah selesai berbicara mbak Priska dan sekretaris pak Catur pamit pulang, karena hari sudah sore setelah menaruh berkas di ruang kerja aku masuk ke kamarku, begitu aku masuk aku melihat pak Catur baru saja selesai melaksanakan sholat asyar.
"Sudah bangun mas?, bagaimana keadaan mas?, maaf tadi ada mbak Priska dan sekretaris mas datang." ucapku.
"Alhamdulillah, sudah baikan tapi masih sedikit lemas," sahut osk Catur yang sudah kembali duduk di atas ranjang "Apa mereka membawa berkas kemari?" tanya pak Catur padaku.
"Iya, aku taruh di ruang kerja mas." sahutku ikut duduk di sebelah suamiku langsung memeriksa kening suamiku.
"Anak-anak bagaimana?" tanya pak Catur.
__ADS_1
Di saat dia masih sakit dia tetap menanyakan tentang anak-anak, itulah keistimewaan suamiku dia sangat menyayangi keluarganya
"Anak-anak baik-baik saja mas, mas jangan khawatir, mas makan dulu biar aku ambilkan." ucapku apa adanya memang kenyataannya anak-abak anteng tidak rewel.
"Nanti saga sehabis magrib, bukankah sebentar lagi sudah magrib," tolak pak Catur halus " Aku pingin lihat si kembar dan Afri dari tadi belum ketemu mereka." pinta pak Catur bangkit berdiri.
"Mas, di sini saja biar mereka di bawa ke sini." Aku berusaha melarang suamiku yang ingin pergi menemui anak-anak di kamar anak-anak.
Aku melangkah keluar menuju kamar a anak-anak, di kamar Afriana sedang bermain dengan si kembar.
"Buk, lihat adik lucu dia mulai tertawa!" seru Afriana begitu melihatku masuk di kamarnya.
"Dari tadi adik gak tidur semua kok bu, tapi mereka anteng tidak rewel." Inayah menjelaskan.
"Alhamdulillah, oh ya mbak Na bapak mau ketemu anak-anak tolong gendong Afwi, biar Afwa aku gendong, kita bawa ke kamarku, Af, di cari ayah." ucapku.
"Ayah sudah bangun buk?" tanya Afriana polos khas anak-anak
"Sudah, ayo sekarang kita ke sana supaya ayah cepat sembuh." pintaku.
__ADS_1
Kami berlima ke kamar menemui pak Catur, pak Catur sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Ayah," seru Afriana begitu masuk kamar, Afriana berlari langsung memeluk pak Catur "Ayah cepet sembuh ya." suara Afriana sedih.
"Iya, sayang ayah tidak apa-apa kok cuma sedikit kecapekan saja." pak Catur mengurai pelukan Afriana dengan senyum kebahagiaan.
"Mbak Na tolong taruh Afwi di kasur saja, mbak Na boleh istirahat, nanti kalau saya butuh bantuan saya panggil mbak Na." ucapku pada Inayah.
Kami berlima bermain bersama di dalam kamar hingga adzan magrib tiba, pak Catur sholat berjamaah dengan Afriana, aku menjaga di kembar karena aku masih dalam keadaan nifas sehingga aku tidak ikut sholat berjamaah.
Setelah sholat berjamaah Afriana makan bersama dengan Qibtiyah dan Inayah sedang aku menjaga si kembar, begitu mereka selesai Qibtiyah dan Inayah mengambil si kembar dan membawanya ke kamar anak-anak, sedang Afriana sudah mulai belajar dengan guru lesnya.
Aku menemani dan menyuapi pak Catur makab bubur karena kondisinya belum pulih benar, aku berusaha sebaik mungkin untuk merawat suamiku.
"Terima kasih, sayang." ucap Pak Catur begitu selesai makan.
"Sudah menjadi kewajiban Dinda untuk melayani kangmas." sahutku dengan senyum mengembang.
Karena keadaan masih lemas pak Catur aku suruh untuk istirahat dan minum obat. Selesai mebyuapi pak Catur aku menuju kamar anak-anak, aku melihat si kembar aku kira mereka tidur trtnyata tidak, padahal biasanya sehabis magrib mereka pasti tidur pulas sekali, kali ini mulai dari sore sampai sekarang malah belum tidur sama sekali.
__ADS_1