
Hari demi hari berlalu dengan cepatnya, karena pekerjaanku di kantor juga semakin banyak, bahkan hampir setiap hari aku harus lembur sampai jam sepuluh malam. Dan sejak serangan goib malam itu sampai sekarang tidak ada lagi serangan kiriman dari para dukun suruhan mas Ringgo.
Pagi ini seperti biasa aku berangkat ke kantor pengadilan agama untuk menghadiri sidang ketigaku, aku di antar oleh mas Jamal, jam sembilan pagi aku sudah sampai di pengadilan agama, namun kali ini aku memakai pakaian kerja karena aku tidak ingin mas bolak balik ngantar saya, niat hati selesai sidang tidak pulang namun langsung pergi ke kantor untuk bekerja.
Jam sepuluh lebih tiga puluh menit nomor antrianku sudah di panggil namun aku tidak melihat barang hidung mas Ringgo, aku masuk ruang sidang sendirian. Karena mas Ringgo tidak datang dan aku juga tidak tahu maka sidang hari ini tidak bisa di lanjutkan, aku kembali keluar dan segera menuju ke konter untuk mengambil jadwal sidang selanjutnya.
"Mas Ringgo gak datang mas, sidang di tunda dua minggu lagi, jika tiga kali mas Ringgo tidak datang saat sidang maka sidang selesai dan beres." ucapku saat duduk di samping mas Jamal sambil menata berkas sidangku.
"Kamu pulang apa langsung kerja?" tanya mas Jamal kepadaku.
"Langsung antar ke kantor saja mas, soalnya kerjaanku banyak sekali, semakin cepat aku kerjakan nanti malam tidak perlu lembur sampai malam." ucapku jujur.
"Kamu kalau lembur sendirian apa ada temannya?" tanya mas Jamal.
"Ada, temannya kadang bu Priska dan Pak Catur, kadang ya cuma pak Catur dan aku saja, apalagi ini ngurus perencanaan mulai produksi untuk pabrik baru juga, jadinya tambah banyak saja, untung bosku itu bukan tipe bos yang asal perintah jadi tidak begitu berat, kadang pekerjaanku di ambil alih juga." cerocosku.
"Ya, sudah ayo aku antar, nanti sore kalau pulang cepat aku jemput tapi kalau pulangnya malam ya biar di jemput oleh Fauzan," ajak mas Jamal.
Mas Jamal dan aku meninggalkan kantor pengadilan agama dengan sepeda motor, hanya sekitar sepuluh menit aku sudah sampai di depan pintu gerbang pabrik. Begitu turun dari motor aku langsung berjalan menuju ruanganku untuk kembali bekerja.
"Fah!" panggil bu Priska saat aku berjalan menuju ruanganku.
"Selamat siang, bu. Dari ruangannya pak Catur ?" tanyaku.
__ADS_1
"Ho oh, kamu sudah selesai sidangnya tumben cepat?" tanya bu Priska padaku saat berdiri di lorong kantor.
"Mas Ringgonya tidak hadir bu jadi sidang di tunda dua minggu lagi " jawabku jujur" Pak Caturnya ada di dalam apa keluar bu?" tanyaku.
"Ada di dalam, barusan mengecek berkas denganku, cepetan masul laporan sana kalau sudah datang !" perintah bu Priska padaku.
"Baik bu, saya masuk dulu." pamit ku sopan.
Aku dan bu Priska berpisah, bu Priska kembali ke ruangannya sedangkan aku melangkah menuju ruangan pak Catur yang tinggal beberapa langkah lagi.
Tok Tok tok
"Masuk!" perintah pak Catur dari dalam
"Selamat siang mbak, sudah selesai?, duduklah!" perintah pak Catur sambil melihat jam di arloji tangannya " Tumben sudah selesai baru jam sebelas ?" tabta pak Catur ganti melihat ke arahku.
"Iya pak, karena mas Ringgonya tidak datang di sidang jadi sidang di tunda dua minggu lagi." jelasku jujur.
"Ohh... Pantesan kalau sidang depan tidak datang lagi bagaimana ?" tanya pak Catur penasaran.
"Jika tergugat tidak datang sampai tiga kali berarti tergugat kalah dan sidang slesai, dan kami dapat surat cerai secara resmi." jelasku apa adanya.
"Semoga segera selesai mbak, tadi siapa yang mengantar?" tanya pak Catur.
__ADS_1
"Biasa pak mas Jamal yang jadi bodyguard saya." jawabku sedikit bergurau.
"Mbak, boleh aku daftar jadi bodyguardmu?" canda pak Catur dengan di iringi senyum manisnya.
"Maaf pak, saya gak sanggup bayar kalau bapak yang jadi bodyguard saya." jawabku canda pula.
"Siapa bilang kamu gak bisa bayar, aku yakin kamu bisa bayar ke aku mbak" canda Pak Catur.
"Caranya?" tanyaku penasaran.
"Caranyaaa....." jawab pak Catur mengambang.
"Iya, pak caranya bagaimana ?" tanyaku balik.
Dengan seiringnya waktu antara aku dan Pak Catur semakin akrab bahkan kami berdua sering bergurau atau bahkan ngobrol sesuatu yang tidak guna sebagai hiburan di saat kami menghadapi pekerjaan yang super banyak dan padat.
"Caranya... Tunggu saja sampai kamu selesai proses perceraianmu baru aku kasih tahu," jawab pak Catur mengandung tanya.
"Yah, gak asyik deh, main rahasia -rahasia-an segala pak, ya susah pak saya mau kembali ke ruangan saya dulu." pamitku
"Aku sudah pesen makanan nanti kita makan di sini mbak Priska juga, dan lagi tolong kamu cek berkas ini!" perintah pak Catur.
"Baik, Pak." jawabku dan aku langsung menuju ruanganku untuk kembali bekerja.
__ADS_1
Perhatian pak Catur padaku semakin hari semakin bertambah, namun pekerjaanku juga semakin bertambah banyak, entah apa sebabnya seberapapun banyaknya pekerjaanku aku tidak merasa lelah.