
"Af sudah malam Afri cepat tidur, Paman pulang dulu, kapan-kapan jika paman ada waktu, Paman ajak Afri dan Rahma main bareng bagaimana?" ucap Pak Catur penuh kasih sayang.
"Benar, Paman? Afri mau!" seru Afriana gembira.
Pak Catur pamit pulang, aku masih belum bisa dan tidak tahu harus bilang apa, melihat ekpresi pak Catur dan Afriana yang begitu bahagia membuatku semakin kikuk, dan pikiranku mulai berkelana entah kemana.
Afriana sangat bahagia mendapat jajan dari Pak Catur, begitu pak Catur sudah meninggalkan rumah kedua orang tuaku Afriana langsung membuka tas kresek pemberian pak catur, buah jeruk, buah apel merah, buah pir, buah anggur, coklat, sosis, tidak lupa es krim juga ada dan beberapa makanan ringan lainnya.
"Af, sudah simpan dulu, besok pagi bisa kamu pakai untuk bekal sekolah!" perintahku pada Afriana.
"Buk satu bungkus sosis ini, boleh aku bagikan ke teman, Afri." pinta Afriana.
"Boleh, dah sekarang tidur." perintahku.
Tanpa membantah, Afriana langsung menuju kamar ibukku dan tidur sendiri sambil memeluk boneka pemberian pak Catur dulu. Sedang aku masih duduk di depan televisi bersama dengan ibukku dan adik iparku Nafisa menonton televisi dan bergosip.
__ADS_1
"Buk, Naf ini jajan dari kondangan tadi, sampai lupa." ucapku sambil membuka tak kertas yang berisi berbagai macam jajanan khas manten lengkap dengan souvenirnya.
"Fah, apa apa kamu punya hubungan khusus dengan bosmu?" tanya ibukku penuh selidik.
"Mboten, Buk." jawabku singkat.
"Ibuk, gak enak sama jika sampai ada omongan tetangga, Fah, bagaimanapun proses sidang perceraianmu belum selesai, ya sekarang memang tidak ada dan ibuk harap selamanya tidak ada gossip tentangmu, Fah" ucap ibukku mengingatkanku.
"Afifah, faham buk, ibuk tidak usah khawatir, aku masih bisa jaga diri dan Pak Catur sendiri juga bukan tipe laki-laki yang suka mempermainkan perempuan, beliau sangat menjaga sikap, ibuk bisa lihat sendiri saat aku tertidur di mobilnya dia malah membiarkan aku tidur, dan malah ibuk yang membangunkanku, sampai saat ini kami hanya sekedar sekretaris dan bos, tidak lebih." ucapku meyakinkan ibukku.
"Ya, ibuk tahu nduk, jodoh tidak ada yang tahu, ibuk takut kamu terluka untuk yang kedua kalinya, cukup Ringgo saja yang membuatmu terluka, jika kamu harus terluka lagi ibuk tidak sanggup untuk melihatmu nduk, secara ekonomi bosmu itu jauh di atas kita, Fah, jujur ibuk takut sekali nduk apalagi melihat sikapnya terhadap Afriana, ibuk yakin bosmu menaruh harapan yang sangat besar pada hatimu, ibuk tidak melarang kamu berhubungan dengan siapa, asal mereka dari keluarga yang baik-baik dan Laki-laki yang bertanggung jawab dunia akhirat, bisa membimbingmu menuju jalan Allah SWT nduk, dan keluarganya bisa menerima keadaan kita dengan tulus ikhlas." ucap ibukku menasehatiku
Aku dan Nafisa memiliki kesamaan ysiti suka tidur di pangkuan ibukku jika sedang santai.
" Naf, kamu ambil aja jajan apa saja yang kamu suka, jangan sampai kelonakanku nanti ngiler sebab kepingin sesuatu gak keturunan!" perintahku pada Nafisa.
__ADS_1
"Mbak, tadi kondangannya bareng bosmu ya, kok jajannya gak kaya biasanya?" tanya Nafisa sambil memikih jajan dari kondangan.
"Iya, tapi bareng bu Priska dan Pak Anam juga, bukan berdua saja, Naf." jawabku jujur.
"Ohhhhh." Nafisa ber oh ria.
"Isinya apa saja Naf ?" tanya ibukku.
"Banyak sekali buk, komplit pokoknya semua ada, jenang, wajik, tape, emping belinjo, pastel kering, pisannya satu sisir lho buk pisan ambon pula, dan ini juga ada brownisnya, pokok banyak banget semua ada." jelas Nafisa heran.
Ibuku juga ikut membuka dan melihat jajan yang dari kondangan " Kamu kondangan berapa, Fah?" tanya ibuku.
"Biasa bu, seratus ribu saja, kalau teman kantor umumnya kan segitu," jawabku santai.
"Untung banyak kamu mbak, bosmu pasti banyak tuh nyumbangnya!" seru Nafisa sambil makan jajan.
__ADS_1
"Mungkin," jawabku "Aku mau pulang dah malam mau tidur dulu." ucapku.
Di saat aku pulang bapak dan Fauzan baru datang dari tahlilan sambil membawa berkat( nasi dan jajan dari orang selamatan ). Bapak dan Fauzan menawariku berkat, karena sudah malam dan capek aku tetap memutuskan untuk pulang dan istirahat. Sesampainya di rumahku aku juga tidak bisa langsung memejamkan mata, aku masih teringat akan ucapan dan perhatian pak Catur pada Afriana beberapa jam yang lalu, sebuah perhatian yang tidak pernah Afriana dapat dari bapaknya.