TALAK

TALAK
Part 64 TALAK


__ADS_3

Mobil pak Catur terus membelah padat dan ramainya jalanan kota Jakarta, setelah hampir empat puluh menit sampailah kami di sebuah kawasan perumahan yang tergolong elit, walau tak sebesar rumah pak Cakra namun cukup mewah bagiku yang notabennya asli orang kampung yang tidak pernah tinggal di kota.


Rumah minimalis dengan dua lantai yang tak begitu besar dan cat yang sangat natural yaitu putih dan hitam serta taman kecil yang di penuhi tanaman bunga dan rumput hias serta kolam kecil yang berisi ikan koki sangat mendominasi halaman depan.


Pagar terbuka secara otomatis walau tak ada yang membuka, dan Pak Catur tanpa harus turun dari mobilnya, begitu mobil sudah terparkir di parkiran depan dari dalam rumah pak Catur keluarlah ibu-ibu yang berusia sekitar empat puluhan.


"Mbak, ayo turun! Jangan khawatir kita tidak berdua saja, ada mbak yang jaga rumah ini!" perintah pak Catur seolah tahu akan kekhawatiranku.


"Terima kasih pak." jawabku dan segera turun.


"Alhamdulillah sudah sampai, silahkan masuk pak, bu." ucap mbak yang bekerja di rumah pak Catur.


"Terima kasih, bu." ucapku.


"Mbak kenalkan ini sekretarisku yang sekarang, mbak Fah ini ibu yang bekerja di rumah ini, dan beliau juga sudah lama bekerja di sini bersama dengan suaminya." jelas pak Catur padaku.


"Oh, ini to yang namanya mbak Afifah ibu sering cerita lho tentang mbak Afifah, pantas saja, ayo masuk dulu," ucap ibu yang bekerja pada pak Catur ramah.


"Memang mama cerita apa, mbak?" tanya pak Catur pada pembantunya.


"Gak ada, pak, cuma cerita kalau bapak akan datang kesini dengan sekretaris bapak gitu saja kok, barusan ibu juga telpon menanyakan bapak sudah sampai apa belum? begitu." jelas pembantunya pak Catur.


"Ohh mbak, Fah, ayo masuk!" perintah pak Catur padaku.

__ADS_1


"Iya, pak." jawabku canggung, jujur aku merasa tidak enak ketika masuk rumah pak Catur walau juga ada pembantunya.


Kami bertiga masuk ke dalam rumah pak Catur, setelah mempersilahkan aku duduk dan menemaniku sebentar Catur pamit untuk naik ke lantai atas, dan aku tetap duduk di ruang tamu di temani dengan pembantunya.


Selama hampir satu setengah jam aku mendengarkan pembantunya pak Catur bercerita, atau menjawab segala pertanyaan dari pembantu pak Catur sambil menonton televisi program kesukaan pembantunya pak Catur hingga waktu magrib tiba, dan Pak Catur juga baru turun dari lantai dua.


"Maaf, mbak menunggu lama, mbak sholat magrib dulu habis sholat magrib kita makan di luar setelah maka kita baru ke rumah mama!" ucap Pak Catur yang berdiri di dekat sofa dan sudah memakai baju Koko serta sarung.


"Iya, pak." jawabku.


"Bapak tidak nginap di sini?" tanya pembantunya pak Catur.


"Enggak mbak, kali ini aku nginep di rumah mama saja, soalnya sudah lama tidak nginep di rumah mama, lagian sekarang mas Dwi dan mas Tri juga pas datang, jadi aku mau menghabiskan waktu bersama mereka." jelas pak Catur.


"Baiklah, pak." jawab pembantunya pak Catur.


Selesai sholat berjamaah kami bertiga menuju sebuah restaurant yang dekat dengan perumahan, konon katanya restaurant itu adalah salah satu restaurant favorit pak Catur dan almarhumah istrinya dulu.


Sebenarnya aku juga kurang paham maksud dan tujuan dari pembantunya pak Catur yang dengan lancarnya menceritakan tentang kehidupan pak Catur dan almarhumah istrinya selama kita makan malam. Sepanjang acara makan malam di restaurant aku hanya sebagai pendengar setia karena aku rasa aku juga tak perlu banyak tahu tentang pak Catur dan almarhumah istrinya toh posisiku hanya sebatas sekretaris di kantor. Begitu selesai makan malam karena waktu juga sudah masuk isya' maka kami bertiga sholat isya' dulu di rumah pak Catur sebelum kembali kerumah keluarga Cakra.


"Mbak, aku pulang dulu besok mbak bisa pulang kampung sampai seminggu karena aku akan berada di sini kurang lebih sepuluh hari, dan besok aku akan nginep di sini, oh ya ini buat mbak untuk sangu besok." pesan pak Catur pada pembantunya sambil mengulurkan uang seratusan sebanyak sepuluh lembar.


"Baik pak, terima kasih." jawab pembantunya pak Catur senang

__ADS_1


"Mari bu." pamitku.


"Hati-hati pak, hati-hati bu." pesan pembantunya pak Catur ramah.


Aku dan Pak Catur meninggalkan rumah minimalist pak Catur yang katanya juga tidak jauh dari rumah keluarga Cakra, jarak antara rumah pak Catur dan keluarga Cakra membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit saja.


Sepanjang perjalanan aku lebih memilih banyak diam karena tidak tahu harus bicara apa?, karena biasanya aku hanya akan bicara dengan pak Catur dalam hal pekerjaan saja, sedangkan hari ini lebih dari setengah hari aku hanya mengikuti pak Catur kemanapun perginya.


Begitu mobil sudah terparkir di depan rumah keluarga Cakra, aku segera turun begitu pula pak Catur, saat masuk rumah mamanya pak Catur menyambut kedatangan kami dengan ramah dan bahagia.


"Mbak Fah sudah makan?" tanya bu Cakra ramah dan mengajakku untuk duduk di sofa ruang keluarga.


"Alhamdulillah sudah, bu, tadi pak Catur mengajak saya makan di restaurant yang ada di dekat rumah pak Catur." jawabku jujur.


"Aku gak di tanya-in mah?" protes pak Catur yang juga ikut duduk di sofa.


"Kamu kan sudah hafal daerah sini, jadi gak perlu khawatir sama kamu kalau mbak Afifah kan tamu kita, Ton." jelas bu Cakra.


"Kelihatannya posisiku bakal tergeser nih!" ucap pak catur" Mbak, Fah kamu kan belum mandi, sekarang kamu mandi dulu nanti keburu malam dan tidak baik untuk kesehatan!" perintah pak Catur padaku.


"Loh, kamu belum mandi mbak Fah?" tanya bu Cakra padaku" Kamu ini gimana sih, Ton, masa gak kamu suruh mandi di rumahmu padahal kamu sendiri sudah mandi di sana." cerocos bu Cakra.


"Gak, apa-apa bu, lagian tadi saya tidak ada baju ganti, " jawabku sopan " Permisi saya mau mandi dulu bu." ucapku sopan, langsung berdiri dan meninggalkan pak Catur dan bu Cakra di ruang tengah.

__ADS_1


"Mbak Fah jangan lupa pakai air hangat, soalnya sudah malam." pesan pak Catur padaku.


"Terima kasih, pak." jawabku sambil berlalu pergi meninggalkan pak Catur dan bu Cakra di ruang tamu.


__ADS_2