TALAK

TALAK
Part 207 TALAK


__ADS_3

Hari semakin larut semua tamu sudah pulang, yang tertinggal di rumahku hanya saudara Inti seperti, mama ibukku dan mbak Irma, lainnya sudah pulang ke rumah masing-masing. Malam ini hanya aku dan suamiku yang menjaga anakku, malam ini anakku mulai tidak tidur, kedua bayiku sedikit rewel, entah apa penyebabnya aku dan Pak gantian menggendong kedua bayiku di bantu oleh ibukku dan mama karena kedua susterku aku liburkan karena beberapa hari mereka sudah di sibukkan dengan berbagai tugas dari kami. Sungguh kedua anakku tidak mau tidur dan mereka tidak mau di gendong oleh siapapun, berkali-kali mama dan ibukku ingin menggantikannya ketika itu pula anakku nangisnya semakin kencang.


"Mama, dan ibuk istirahat saja biar kami berdua yang merawat Afwi dan Afwa." ucapku sambil menyusui Afwa sedang suamiku menggendong Afwi.


"Kalian bagaimana?" tanya ibukku cemas.


"Tidak apa buk inshaallah kami bisa." pak Catur meyakinkan agar orang tua kita mau istirahat.


"Sabar, Fah, dan kamu Ton, kamu harus lebih banyak bersabar karena sewaktu kecil kamu tidak begitu jauh dengan anakmu ini, hampir tiga bulan, dulu kamu tidak mau tidur di malam hari, selalu nangis mulai jam sembilan malam sampai jam tiga pagi." mama sedikit menceritakan masa bayi pak Catur suamiku sambil membelai lembut kepala Afwi serta tersenyum simpul.


"Inshaallah Ma." jawab pak Catur tetap fokus pada Afwi yang berada dalam gendongannya.


Mereka berdua meninggalkan kami dengan berat hati, jam sudah menunjukan hampir jam dua namun kedua bayiku masih terjaga dan maunya digendong terus, aku melihat aura pak Catur yang kelelahan namun pak Catur tetap menggendong anaknya, kami berdua disibukkan dengan merawat bayi, bagiku merawat bayi bukan perkara sulit karena aku sudah pernah melahirkan namun bagi pak Catur ini yang pertama kalinya dan anaknya juga agak runyik( runyik dalam artian tidak mudah dalam merawat).


"Mas tidurlah, sini biar aku jaga sendiri, mas kelihatan lelah." pintaku.


"Tidak apa, sekarang aku tahu mamaku dulu sering cerita akan kepayahannya dalam merawatku sewaktu aku bayi, dan sekarang aku merasakannya." ucap Pak Catur sambil jalan mondar-mandir menggendong Afwa.


Hari ini hari pertama anakku rewel padahal mulai dari lahir sampai kemarin mereka begitu anteng dan tidur nyenyak, jam sudah menunjukkan pukul empat kedua bayiku baru saja diam dan mulai tertidur.

__ADS_1


"Mas Afwa sudah tidur taruh di box saja," perintahku pada pak Catur " Sholat dan tidurlah."


Pak Catur menuruti perintahku Afwa di tidurkan di box bayi, begitu juga Afwi juga aku tidurkan di box bayi, ibukku sudah bangun dan masuk kamarku karena kamarku terbuka.


"Sudah tidur?" tanya ibukku.


"Sudah buk." sahutku.


"Ya sudah, istirahatlah." perintah ibukku.


"Buk, nanti jika Afwa dan Afwi bsnghj jika aku tidak dengar tolong, bangunin aku ya buk." pintaku pada ibukku.


"Jangan khawatir." sahut ibukku dengan senyum.


Sinar matahari pagi mulai menerobos masuk ke kamarku melalui celah-celah udara yang ada di kamar, serta suara bising di luar menganggu telingaku, biar mataku masih lengket aku berusaha membuka mata karena aku ingat jika aku harus menyusui kedua bayiku. Aku lihat jam ternyata sudah jam delapan lewat aku lihat kedua bayiku masih tertidur pulas, bahkan suamiku juga masih berada dalam buaian mimpinya. Aku berusaha turun dari ranjang aku ingin membersihkan diri dulu sebelum menyusui kedua bayiku.


"Sayang sudah bangun." sapa suamiku begitu melihat aku yang sudah mandi dan keramas.


"Sudah mas." sahutku, tanpa mengeringkan rambut aku susui dulu Afwa karena Afwa yang ber gerak duluan.

__ADS_1


Aku mengambil posisi duduk di atas ranjang bersandar pada kepala ranjang, tanpa di minta pak Catur sudah tahu tugasnya dalam membantuku ketika aku menyusui anak-anakku.


"Jagoan ayah, minum yang banyak tapi jangan di habisin sisain buat Ayah." goda suamiku.


"Apaan sih mas ini." sahutku.


"Kenapa, lihat saja sebentar lagi akan ada adiknya Afwa dan Afwi." kelakar suamiku.


"Ya beli beli adik di pasar." sahutku asal.


"Memang sayang tidak mau kalau kita dapat rejeki lagi syukur-syukur dapat kembar lagi." gurau pak Catur asal.


"Mas, mas yang ini saja baru berusia seminggu sudah bahas adiknya lagi." sahutku.


"Semoga di ijabah aamiin." pak Catur malah melantur tidak karuan.


"Mas tolong tidurkan Afwa, sekarang ganti Afwi." pintaku pada suamiku.


Aku beruntung banget punya suami siaga, pak Catur sudah tiga minggu ini jarang ke kantor apalagi sejak aku melahirkan sampai sejarah pak Catur belum masuk kantor, jika ada hal penting sekertarisnya datang ke rumah untuk antar dan ambil berkas.

__ADS_1


"Mas sudah lama tidak masuk kantor, apa gak kasihan sama mbak Priska. Tanyaku pada pak Catur.


"Jannga khawatir, yang penting kalian aman dulu, lagian aku sudah minta ijin ke mbak Irma dan Papa." sahut pak Catur sambil menyerahkan Afwi padaku.


__ADS_2